Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tak Banyak yang Tahu! GERD Tak Selalu Karena Asam Lambung, Sistem Saraf Bisa Jadi Pemicu

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 15 Januari 2026 | 15:55 WIB
GERD Tak Selalu Soal Asam Lambung, Sistem Saraf Juga Berperan
GERD Tak Selalu Soal Asam Lambung, Sistem Saraf Juga Berperan

RADAR KUDUS - Banyak orang mengira keluhan panas di dada, tenggorokan terasa mengganjal, atau dada sesak selalu disebabkan oleh asam lambung yang naik.

Padahal, tidak sedikit kasus di mana keluhan tersebut tetap muncul meski pola makan sudah dijaga ketat, seperti menghindari kopi, gorengan, atau makan terlambat.

Bahkan, gejala justru sering muncul saat tubuh lelah, stres, banyak pikiran, atau setelah mengalami tekanan emosional.

Kondisi ini kerap membuat penderitanya bingung dan cemas. Pasalnya, keluhan tidak selalu muncul setelah makan, melainkan saat kondisi mental dan fisik sedang tidak stabil.

Hal ini menunjukkan bahwa gangguan lambung tidak selalu berdiri sendiri, melainkan dapat berkaitan erat dengan kondisi sistem saraf.

Secara medis, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) terjadi ketika katup antara kerongkongan dan lambung, yang disebut Lower Esophageal Sphincter (LES), melemah atau sering terbuka.

Akibatnya, isi lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan iritasi.

Namun, tingkat keparahan rasa yang dirasakan seseorang tidak selalu sebanding dengan jumlah asam yang naik. Di sinilah peran sensitivitas saraf menjadi penting.

Keluhan GERD umumnya merupakan kombinasi dari tiga lapisan utama.

Pertama, faktor mekanikal atau anatomi, seperti lemahnya katup lambung, tekanan di dalam perut akibat perut kembung, kebiasaan makan berlebihan, langsung berbaring setelah makan, atau peningkatan berat badan di area perut.

Faktor ini membuat asam lambung lebih mudah naik.

Lapisan kedua adalah faktor kimia, yakni produksi asam lambung atau empedu yang berlebihan.

Makanan tertentu dapat memicu iritasi pada sebagian orang, meskipun pada orang lain tidak menimbulkan masalah.

Pada kondisi ini, mengatur pola makan saja sering kali tidak cukup untuk mengatasi keluhan.

Lapisan ketiga yang sering diabaikan adalah sistem saraf. Saat seseorang mengalami stres, kecemasan, atau hidup dalam tekanan berkepanjangan, tubuh masuk ke mode “fight or flight”.

Dalam kondisi ini, napas menjadi dangkal, diafragma menegang, pencernaan melambat, dan otak menjadi lebih sensitif terhadap sinyal dari tubuh.

Akibatnya, sensasi di lambung dan dada terasa lebih kuat meskipun rangsangan fisiknya relatif kecil.

Berdasarkan mekanisme tersebut, gangguan GERD dapat dibagi ke dalam tiga tipe utama.

Pertama, GERD klasik, yang ditandai dengan keluhan jelas setelah makan besar, konsumsi makanan pedas, berlemak, atau kopi, serta memburuk saat langsung berbaring.

Pada tipe ini, pengaturan pola makan, waktu makan, dan posisi tubuh menjadi kunci utama penanganan.

Tipe kedua adalah reflux hypersensitivity, yaitu kondisi ketika saraf di kerongkongan sangat sensitif.

Asam lambung sebenarnya tidak tinggi, tetapi sensasi panas terasa sangat mengganggu. Keluhan sering muncul saat stres, banyak pikiran, atau menjelang tidur.

Penanganan tipe ini tidak hanya fokus pada lambung, tetapi juga pada regulasi sistem saraf melalui manajemen stres, kualitas tidur, dan pola hidup yang menenangkan.

Tipe ketiga adalah functional heartburn. Pada kondisi ini, rasa panas atau perih muncul berulang tanpa penyebab refluks asam yang jelas dan sering kali tidak membaik dengan obat lambung.

Keluhan biasanya disertai gejala lain seperti gangguan buang air besar, insomnia, ketegangan otot, hingga kelelahan berkepanjangan.

Pendekatan utama pada tipe ini adalah memastikan tidak ada penyakit serius, lalu memperbaiki ritme hidup dan menenangkan sistem saraf, termasuk dengan bantuan profesional bila diperlukan.

Dengan demikian, tidak semua keluhan lambung disebabkan oleh asam semata. Faktor mekanikal, kimia, dan sistem saraf saling berkaitan dalam memicu gejala GERD.

Oleh karena itu, penanganan yang efektif perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui diet dan obat, tetapi juga dengan menjaga kesehatan mental, mengelola stres, serta menciptakan rasa aman bagi tubuh. (Ghina Nailal Husna)

Editor : Ali Mustofa
#gerd #asam lambung