RADAR KUDUS - Nyeri haid kerap dianggap hal yang wajar dialami perempuan. Namun, tidak semua nyeri haid dapat dikategorikan normal.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Dr. Melvin, menjelaskan bahwa nyeri haid terbagi menjadi dua jenis, yakni nyeri normal dan nyeri tidak normal yang perlu diwaspadai.
“Nyeri haid dikatakan normal apabila muncul saat atau menjelang menstruasi dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, jika nyeri sampai menghambat konsentrasi, membuat tidak bisa beraktivitas, bahkan harus berbaring seharian, maka itu termasuk nyeri haid abnormal,” ujar Dr. Melvin dalam sebuah podcast kesehatan.
Nyeri haid yang abnormal umumnya berkaitan dengan kondisi medis tertentu, salah satunya endometriosis.
Penyakit ini sering dikenal masyarakat sebagai “kista cokelat”, meskipun tidak selalu berbentuk kista.
Endometriosis terjadi ketika jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh di luar rahim dan dapat menimbulkan nyeri hebat.
Selain nyeri haid yang berlebihan, endometriosis juga memiliki gejala lain seperti jumlah darah haid yang lebih banyak dari biasanya serta gangguan kesuburan.
Oleh karena itu, deteksi dini sangat dianjurkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan optimal.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter melakukan pemeriksaan fisik yang dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang seperti USG atau MRI.
Jika endometriosis terdeteksi, terapi awal biasanya dilakukan dengan pengobatan medis, mulai dari obat pereda nyeri hingga terapi hormonal.
Operasi dapat dilakukan melalui laparotomi atau laparoskopi, yakni metode bedah minimal dengan sayatan kecil yang memiliki risiko lebih rendah dan waktu pemulihan lebih cepat.
Meski demikian, Dr. Melvin mengingatkan bahwa tindakan operasi juga memiliki risiko, termasuk potensi kerusakan organ reproduksi.
Oleh sebab itu, keputusan operasi harus melalui pertimbangan medis yang matang.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan
Sementara itu, bagi perempuan yang mengalami nyeri haid di rumah, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan sebelum memeriksakan diri ke dokter.
Di antaranya menghindari makanan tertentu yang dapat memperparah nyeri, melakukan kompres air hangat di perut bagian bawah, serta mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas.
Jika keluhan tidak kunjung membaik, pemeriksaan ke dokter kandungan sangat dianjurkan.
Selain itu, pola hidup juga berperan dalam meningkatkan risiko endometriosis, seperti obesitas dan pola makan tidak sehat. Beberapa makanan berbahan kedelai serta makanan tinggi lemak disarankan untuk dibatasi.
Dr. Melvin juga meluruskan sejumlah mitos seputar nyeri haid. Salah satunya, anggapan bahwa minum obat pereda nyeri saat haid dilarang.
“Itu keliru. Obat pereda nyeri justru menjadi lini pertama penanganan nyeri haid, terutama jika sudah mengganggu aktivitas,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kesadaran perempuan untuk mengenali tubuhnya sendiri.
Nyeri haid yang berlebihan bukan hal yang harus ditoleransi, melainkan sinyal tubuh yang perlu diperiksa lebih lanjut agar tidak berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan reproduksi di masa depan. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa