Radar Kudus - Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang sering dijumpai, namun gejalanya kerap dianggap sepele.
Banyak orang baru menyadari kondisinya setelah tubuh mulai mudah lelah, wajah tampak pucat, atau kepala sering terasa ringan tanpa alasan jelas.
Padahal, anemia bukan sekadar “kurang darah”, melainkan kondisi yang dapat muncul akibat berbagai penyebab — mulai dari kekurangan nutrisi hingga gangguan medis tertentu.
Mengetahui faktor penyebab dan risikonya dapat membantu seseorang mencegah anemia lebih dini sebelum menimbulkan dampak yang lebih berat.
Berikut penjelasan mengenai penyebab serta faktor risiko anemia yang dihimpun dari berbagai referensi.
Baca Juga: Henti Jantung Saat Olahraga Bisa Terjadi, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya
Apa yang Terjadi Saat Anemia?
Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau kadar hemoglobin berada di bawah batas normal.
Akibatnya, distribusi oksigen ke jaringan tubuh berkurang sehingga organ-organ tidak bekerja optimal. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi sistem tubuh secara menyeluruh.
Secara garis besar, anemia muncul karena tiga hal:
-
Produksi sel darah merah menurun
-
Terjadi kehilangan darah berlebihan
-
Sel darah merah rusak lebih cepat dari pembentukannya
Dari mekanisme tersebut, muncul beberapa jenis anemia yang paling banyak ditemui.
Jenis-Jenis Anemia Berdasarkan Penyebabnya
1. Anemia defisiensi zat besi
Jenis ini paling umum terjadi. Penyebabnya bisa karena rendahnya asupan zat besi dari makanan atau terganggunya penyerapan zat besi, misalnya pada penderita penyakit pencernaan seperti celiac. Tanpa cukup zat besi, tubuh tidak mampu membentuk hemoglobin dengan optimal.
2. Anemia pada ibu hamil
Selama kehamilan, tubuh membutuhkan hemoglobin dalam jumlah lebih tinggi. Kebutuhan zat besi, asam folat, dan vitamin B12 juga meningkat.
Bila tidak tercukupi, ibu hamil berisiko terkena anemia yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan bayi.
3. Anemia akibat perdarahan
Perdarahan, baik yang terjadi tiba-tiba maupun perlahan, dapat mengurangi jumlah sel darah merah.
Sumber perdarahan bisa berasal dari gangguan menstruasi, cedera, radang lambung, wasir, kanker usus, atau penggunaan obat seperti OAINS. Infeksi cacing tambang juga dapat menyebabkan kehilangan darah secara kronis.
4. Anemia aplastik
Kondisi ini muncul ketika sumsum tulang tidak mampu menghasilkan sel darah merah. Penyebabnya diduga terkait infeksi, penyakit autoimun, paparan zat kimia berbahaya, maupun efek samping obat tertentu seperti antibiotik atau obat untuk rheumatoid arthritis.
5. Anemia hemolitik
Pada jenis ini, sel darah merah hancur lebih cepat dari yang seharusnya. Anemia hemolitik bisa bersifat genetik maupun diperoleh akibat penyakit lain, seperti kanker darah, infeksi, gangguan autoimun, serta efek samping beberapa obat (misalnya penisilin, obat malaria, atau parasetamol).
6. Anemia akibat penyakit kronis
Penyakit jangka panjang dapat menghambat produksi sel darah merah. Kondisi seperti penyakit Crohn, gangguan ginjal, kanker, rheumatoid arthritis, dan infeksi HIV/AIDS termasuk yang berisiko memicu anemia tipe ini.
7. Anemia sel sabit
Disebabkan oleh mutasi genetik yang membuat sel darah merah berbentuk sabit, kaku, dan mudah pecah. Penyakit ini hanya terjadi jika mutasi diturunkan dari kedua orang tua. Jika hanya satu orang tua pembawa gen, anak tidak sakit tetapi menjadi carrier.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Anemia
Risiko seseorang mengalami anemia dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi berikut:
1. Pola makan rendah nutrisi penting
Kurang asupan zat besi, vitamin B12, dan asam folat dapat menghambat pembentukan sel darah merah. Kelompok yang rentan antara lain:
-
Vegetarian atau vegan tanpa suplemen pendamping
-
Orang dengan konsumsi produk hewani sangat minimal
-
Anak dan remaja yang sedang mengalami pertumbuhan pesat
2. Kehilangan darah
Risiko meningkat bila tubuh kehilangan darah lebih cepat dari kemampuan menggantinya, misalnya:
-
Menstruasi berat
-
Perdarahan saluran cerna (tukak lambung, wasir, kanker usus)
-
Operasi besar atau cedera
3. Kehamilan
Ibu hamil membutuhkan zat besi dan asam folat dalam jumlah lebih besar. Jika tidak terpenuhi, anemia lebih mudah terjadi.
4. Penyakit jangka panjang
Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi produksi atau umur sel darah merah:
-
Penyakit ginjal kronis
-
Kanker
-
Penyakit autoimun (lupus, rheumatoid arthritis)
-
Infeksi menahun seperti TB atau HIV
5. Faktor keturunan
Jenis anemia tertentu diwariskan, seperti:
-
Thalassemia
-
Anemia sel sabit
-
Sferositosis herediter
6. Obat-obatan
Obat tertentu dapat menurunkan produksi sel darah merah atau menyebabkan perdarahan, seperti:
Baca Juga: Jangan Diabaikan: Tanda Penyakit Ginjal yang Muncul di Kulit
-
NSAID
-
Antikoagulan
-
Beberapa jenis antibiotik
7. Usia
-
Bayi dan anak kecil membutuhkan lebih banyak zat besi dibanding orang dewasa
-
Lansia berisiko karena penurunan fungsi produksi sel darah merah dan kondisi medis penyerta.(laura)