RADAR KUDUS - Makanan yang disimpan di dalam kulkas kerap dianggap aman untuk dikonsumsi kapan saja. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Beberapa pakar kesehatan mengungkapkan bahwa makanan yang terlihat masih layak di dalam kulkas justru dapat menjadi sumber racun berbahaya apabila disimpan melebihi batas konsumsi.
Dari berbagai macam kasus keracunan makanan, sebagian besar berasal dari makanan rumahan yang disimpan di lemari pendingin.
Tenaga medis menjelaskan bahwa suhu kulkas yang berkisar antara 4–5 derajat Celsius tidak membunuh bakteri, melainkan hanya memperlambat pertumbuhannya.
Bahkan, terdapat jenis bakteri psikrofilik yang justru mampu berkembang di suhu dingin.
Fluktuasi suhu akibat seringnya kulkas dibuka dan ditutup turut mempercepat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa setiap tahun terdapat lebih dari 500 kasus keracunan makanan di Indonesia.
Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari makanan yang disimpan di kulkas rumah tangga, bukan dari jajanan kaki lima seperti yang selama ini sering dicurigai.
Beberapa jenis makanan disebut dapat menyebabkan keracunan apabila disimpan terlalu lama.
Misalnya telur rebus, hanya aman dikonsumsi maksimal tiga hari setelah dimasak.
Proses perebusan merusak lapisan pelindung alami cangkang telur sehingga memudahkan bakteri seperti salmonella, e.coli, dan listeria masuk ke dalam telur.
Selain itu, makanan berbahan protein hewani seperti ayam dan seafood matang hanya aman disimpan selama dua hingga tiga hari.
Sementara masakan bersantan, seperti rendang, gulai, dan opor, justru memiliki daya simpan yang sangat singkat, yakni maksimal satu hari, karena kandungan lemaknya mudah teroksidasi dan menghasilkan zat beracun.
Jenis makanan lain yang kerap diabaikan adalah kentang rebus dan olahan jamur.
Kentang rebus yang disimpan dalam wadah tertutup rapat berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri clostridium botulinum, penyebab botulisme yang mematikan.
Jamur matang hanya bertahan satu hari karena enzim di dalamnya dapat menghasilkan senyawa beracun meskipun telah dimasak ulang.
Buah potong juga tidak luput dari risiko. Setelah dipotong, buah kehilangan pelindung alaminya dan menjadi media ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur.
Buah potong disarankan dikonsumsi maksimal dua hari dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan wadah kedap udara, pemberian label tanggal masak, pengaturan suhu kulkas yang tepat, serta membatasi pemanasan ulang makanan menjadi langkah penting untuk mencegah keracunan.
Masyarakat juga diingatkan untuk mempercayai indera penciuman dan penglihatan. Jika makanan berbau asam, berlendir, atau berubah warna, sebaiknya tidak dikonsumsi.
Dengan demikian, kesadaran akan batas aman penyimpanan makanan dinilai menjadi kunci penting dalam melindungi kesehatan keluarga di rumah. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa