RADAR KUDUS - Olahraga dikenal sebagai aktivitas yang baik untuk menjaga kesehatan jantung.
Namun di balik manfaatnya, aktivitas fisik yang terlalu berat justru bisa memicu terjadinya henti jantung mendadak, terutama pada orang yang memiliki masalah jantung yang tidak terdeteksi sebelumnya.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
Baca Juga: Dua Pelari Kolaps di Gunung Lawu, Penyelenggara Sebut Serangan Jantung Penyebabnya
Hal ini membuat jantung bekerja lebih cepat dan kuat dalam memompa darah.
Detak jantung meningkat, metabolisme membaik, dan risiko penumpukan lemak di pembuluh darah pun berkurang.
Meskipun demikian, para ahli menyebut henti jantung bisa terjadi saat seseorang melakukan olahraga berat, terutama bila memiliki gangguan jantung.
Studi dalam Circulation menunjukkan bahwa henti jantung dapat muncul selama aktivitas fisik atau dalam waktu satu jam setelahnya.
Meski jarang, kasus ini paling sering terjadi saat latihan di gym, berlari, bersepeda, berenang, menari, dan bermain bola basket.
Sebelum ambruk, sebagian besar penderita merasakan gejala awal seperti nyeri dada, pusing, tidak enak badan, atau kejang.
Fenomena henti jantung atau sudden cardiac arrest terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini menyebabkan organ vital kekurangan oksigen dan dapat menimbulkan kematian dalam hitungan menit.
Apa Penyebab Henti Jantung Saat Berolahraga?
Selama olahraga, tubuh melepaskan hormon adrenalin yang meningkatkan detak jantung.
Pada orang dengan gangguan irama jantung, dorongan ini bisa memicu aritmia berbahaya hingga menyebabkan henti jantung.
Selain itu, dehidrasi juga memicu kondisi serupa. Kekurangan cairan dapat mengganggu keseimbangan mineral penting seperti kalium dan magnesium yang berperan dalam menjaga stabilitas sinyal listrik jantung.
Akibatnya, jantung bisa “korslet” dan berhenti bekerja secara tiba-tiba.
Faktor Risiko yang Memperbesar Kemungkinan
Risiko henti jantung saat berolahraga meningkat bila seseorang memiliki kondisi berikut:
-
Pernah mengalami serangan jantung
-
Mengidap kardiomiopati (penebalan atau pembesaran otot jantung)
-
Memiliki penyakit jantung bawaan
-
Mengalami obesitas atau menerapkan gaya hidup tidak sehat, termasuk merokok
Pada orang-orang dengan risiko tersebut, olahraga berat tanpa pengawasan bisa memicu kondisi yang mengancam nyawa.
Cara Mencegah Henti Jantung Saat Berolahraga
Agar tetap mendapatkan manfaat olahraga tanpa risiko berbahaya, beberapa langkah pencegahan ini bisa diterapkan:
1. Pastikan Tubuh dalam Kondisi Sehat
Berolahraga saat tubuh lelah atau sedang sakit membuat jantung bekerja lebih keras. Pastikan Anda cukup istirahat sebelum berlatih.
2. Mulai dari Intensitas Rendah
Bagi pemula, mulailah dengan latihan intensitas ringan hingga sedang selama 30 menit per hari. Tingkatkan durasi secara perlahan sesuai kemampuan.
3. Sesuaikan Jenis Olahraga dengan Kondisi Tubuh
Orang dengan masalah jantung sebaiknya memilih olahraga ringan seperti jalan santai, berenang, atau taichi. Bila ragu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
4. Lakukan Pemanasan dan Pendinginan
Pemanasan dan pendinginan selama 5–10 menit dapat membantu menyiapkan ritme jantung dan pernapasan, serta mencegah cedera otot.
5. Kenali Gejalanya dan Segera Cari Pertolongan
Waspadai tanda awal seperti nyeri dada, sesak napas, atau pusing. Bila muncul gejala tersebut, hentikan olahraga dan periksa ke dokter.
Bila menemukan seseorang yang ambruk tanpa respons, segera hubungi layanan darurat 119.
Dengan memahami penyebab dan pencegahannya, masyarakat bisa berolahraga dengan lebih aman dan tetap mendapat manfaat kesehatan yang optimal.
Jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung, konsultasi rutin dengan dokter sangat dianjurkan sebelum memulai aktivitas fisik yang lebih berat.
Editor : Mahendra Aditya