RADAR KUDUS – Media sosial tengah diramaikan dengan cerita tentang seorang ibu yang disebut mengalami “rahim copot” setelah melahirkan di dukun beranak.
Cerita ini sukses membuat banyak warganet, terutama generasi muda, merasa ngeri dan takut menghadapi proses persalinan.
Unggahan bertema “ketakutan terbesar Gen Z: rahim copot” pun ramai beredar di TikTok. Namun, secara medis, istilah itu tidak benar.
Yang sebenarnya terjadi kemungkinan besar adalah inversio uteri, yaitu kondisi langka ketika rahim terbalik akibat penarikan tali pusat sebelum plasenta lepas sempurna.
Dalam kondisi ini, rahim bukanlah “copot” atau lepas, melainkan terbalik ke arah bawah.
Keadaan ini bisa menimbulkan perdarahan hebat, namun dapat diatasi bila segera ditangani oleh tenaga medis profesional.
Selain inversio uteri, ada juga kondisi lain yang bisa menimbulkan kesan rahim “turun”, yaitu prolaps uteri berat.
Hal ini terjadi ketika otot panggul dan ligamen penyangga rahim melemah setelah persalinan, sehingga rahim bisa turun ke saluran vagina.
Pada kasus paling berat, rahim tampak menonjol keluar, tetapi kondisi ini tidak muncul mendadak saat proses melahirkan, melainkan berkembang secara bertahap.
Kedua kondisi tersebut sangat jarang terjadi. Inversio uteri hanya muncul sekitar satu dari dua ribu hingga dua ribu lima ratus persalinan, dan keduanya bisa ditangani bila ditangani dengan benar.
Jangan Takut Melahirkan Normal
Cerita viral “rahim copot” tidak seharusnya membuat perempuan takut melahirkan secara normal.
Persalinan alami yang dilakukan di fasilitas kesehatan justru memiliki risiko komplikasi lebih rendah dibandingkan operasi caesar.
Secara umum, perdarahan pada kelahiran normal hanya sekitar 300–400 cc, sementara pada operasi bisa mencapai 1.000 cc.
Selain itu, operasi membawa risiko tambahan seperti infeksi, nyeri luka, hingga cedera organ sekitar rahim.
Dengan pengawasan tenaga medis yang terlatih, risiko komplikasi berat seperti rahim terbalik atau turun sangat minim.
Melahirkan normal tetap menjadi cara paling alami dan aman selama dilakukan dengan prosedur yang tepat.
Edukasi Reproduksi Jadi Kunci
Fenomena viral ini menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini.
Banyak remaja dan Gen Z yang baru mengetahui istilah medis lewat media sosial, sering kali tanpa konteks yang benar.
Di sisi lain, muncul tren baru di TikTok di mana pengguna saling mengingatkan dengan pesan positif seperti “Gen Z tenangkan diri, rahim nggak copot kok”.
Ungkapan ini menjadi bentuk refleksi bahwa pemahaman tentang tubuh dan kesehatan reproduksi masih perlu diperkuat dengan informasi yang akurat dan ilmiah. (rani)
Editor : Ali Mustofa