Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Orangtua Wajib Tahu, Ternyata Anak Bisa Terkena Diabetes, Dokter Spesialis Anak Ini Bagikan Tips Mengatasinya

Andre Faidhil Falah • Selasa, 13 Agustus 2024 | 02:49 WIB
ilustrasi pengecekan kadar gula dalam tubuh
ilustrasi pengecekan kadar gula dalam tubuh

RADAR KUDUS - Ternyata tak hanya orang dewasa saja yang bisa terkena diabetes melitus atau yang kerap disebut dengan DM.

Diabetes ini salah satu jenis penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Termasuk anak-anak.

Anak-anak juga bisa terkena diabetes lho. Jadi harus hati-hati.

Bilamana anak mengidap diabetes melitus (DM) perlu menjaga kebiasaan makannya. Asupan gula atau manisan itu dikurangi.

Orangtua harus sering memperhatikan bagaimana anaknya makan. Apa aja yang dimakan. Itu harus dipahami oleh orangtua.

Dokter Spesialis Anak RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah dr.Anindya Diwasasri, Sp.A. menjelaskan bagaimana mengatasi atau mencegah diabetes pada anak.

Bagi orangtua harus tahu bahwa anak yang mengidap diabetes itu harus makan lima porsi buah-buahan.

Bisa juga sayuran sehari. Itu bisa juga digunakan untuk pengganti makanan ringan atau snacks.

Mengenal diabetes, secara umum DM ialah gangguan metabolisme yang ditandai oleh kondisi kadar gula darah yang meningkat. Atau yang sering disebut hiperglikemia.

Kondisi hiperglikemia ini mengganggu banyak fungsi tubuh lainnya apabila tidak diobati.

Misalnya fungsi peredaran darah, fungsi ginjal, fungsi syaraf, bahkan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Nah, DM pada anak ini biasanya ditandai dengan berbagai gejala. Orangtua perlu mengenali setiap gejalanya dan segera melakukan penanganan.

Biasanya, gejala awal yang sering muncul itu cepat haus, sering buang air kecil, rasanya ingin banyak minum, kemudian cepat lapar, banyak makan namun berat badannya sulit bertambah.

Bahkan menurun dengan cepat, cepat merasa Lelah.

Ternyata DM pada anak ini dikenal dua jenis. Yakni, DM tipe 1 (DM1) dan DM tipe 2 (DM2).

DM1 ini kadar insulin darah kurang dari normal akibat penurunan produksi insulin oleh pancreas.

Sedangkan DM tipe 2 akibat tubuh pasien resisten terhadap insulin atau insulin tidak berfungsi efektif walaupun kadarnya normal.

Kemudian, faktor penyebab DM tipe 1 adalah faktor imunologi. Sedangkan pada DM tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat dan kegemukan (obesitas).

Di samping itu, ada cara penanganan DM1 dan DM2 untuk anak Indonesia sudah dibuatkan standar tatalaksana oleh IDAI.

Prinsip penanganan DM1, terdapat lima pilar penanganan. Yaitu injeksi insulin, pemantauan gula darah, pengaturan nutrisi, aktivitas fisik, dan edukasi.

”IDAI merekomendasikan injeksi insulin minimal dua kali per hari menggunakan insulin basal dan kerja cepat, pemantauan gula darah mandiri dilakukan minimal 4 kali per hari, nutrisi seimbang diberikan sesuai kebutuhan kalori pasien per hari; pasien dan keluarga juga perlu diajarkan untuk menyesuaikan dosis insulin sesuai dengan konsumsi karbohidrat, anak dianjurkan melakukan aktivitas fisik dengan aerobik untuk menguatkan otot dan tulang secara bertahap untuk mencapai lebih dari 60 menit per hari,” jelasnya.

Sementara, penanganan DM2 pada anak dititikberatkan pada modifikasi gaya hidup segera setelah diagnosis ditegakkan.

Menurutnya, modifikasi gaya hidup ini merupakan tantangan tersendiri baik bagi orangtua/keluarga dan dokter.

”Seperti pengaturan diet dan aktivitas fisik untuk mencapai target kadar HbA1c kurang dari 6,5 persen. Pemberian medikamentosa metformin dan/ atau insulin, tergantung gejala, beratnya hiperglikemia, dan ada tidaknya ketoasidosis,” paparnya.

Orang tua perlu ambil bagian langsung untuk menjaga dan membantu anak dengan diabetes.

Mulai dengan berbagai kebiasaan sehat di rumah lewat pola makan yang baik dan olahraga cukup. Salah satunya dengan pengaturan makan.

Dr.Anindya menambahkan, pengaturan makan untuk anak dengan diabetes di antaranya menghindari minuman yang mengandung gula.

Termasuk menghindari asupan makanan yang dibuat dari gula, seperti permen dan manisan.

”Usahakan makan 5 porsi buah-buahan atau sayuran perhari. Misalnya sebagai pengganti kudapan (snacks),” tambahnya.

Selain itu, ad acara lain mengenai menjaga pola makannya. Yaitu, mengurangi asupan makanan dalam kemasan dan makanan instan.

Kemudian mengganti makanan yang berasal beras putih atau tepung terigu dengan sumber karbohidrat yang mempunyai indeks glikemik yang lebih rendah.

Dr.Anindya menuturkan, faktor risiko DM2 dengan kelompok yang berisiko tinggi antara lain, anak/remaja dengan obesitas, ada keluarga dekat yang menderita DM tipe-2 atau penyakit kardiovaskular, dan ada tanda resistensi insulin (akanthosis nigrikans, dislipidemia, hipertensi, sindroma ovarium polikistik).

Kata dia, pasien dengan diabetes melitus bisa timbul gejala akut yang gawat jika kadar gula sangat tinggi.

Kondisi gawat-darurat yang dikenal dengan keto-asidosis diabetik (KAD).

Keluhan yang muncul pada anak dengan KAD biasanya adalah nyeri perut, mual/muntah, sering kencing, sesak napas, dehidrasi, bahkan penurunan kesadaran. ”Pada kondisi ini, anak harus segera dibawa ke rumah sakit,” pungkasnya.

Editor : Ali Mustofa
#anak #kesehatan #kesehatan anak #diabetes anak #bergizi #anak sehat #nasional #sayur #sehat #makanan bergizi anak #dinas kesehatan #Makanan Sehat Anak #IDAI Jateng #kementerian kesehatan (kemenkes RI) #diabetes #makanan