KEMUJAN — Suasana berbeda hadir di Bakkololo, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa.
Tak hanya menawarkan panorama bahari, kawasan tersebut menjadi panggung pertunjukan seni melalui Asa Esa Dance Show Perform.
Pertunjukan ini menghadirkan kesenian tari Nusantara yang dikemas secara profesional.
Sekaligus menjadi upaya mengenalkan alternatif atraksi wisata di Kemujan, yang selama ini belum seramai kawasan Karimunjawa.
Para penggiat wisata setempat ingin, geliat wisata Karimunjawa tidak hanya menawarkan keindahan laut, tetapi juga pengalaman budaya dan seni.
Kehadiran pertunjukan semacam ini diharapkan dapat membuka ruang baru bagi wisatawan untuk menikmati Karimunjawa dari perspektif yang berbeda. Laut yang indah sekaligus kebudayaan Nusantara yang hidup kuat di dalamnya.
Event Director 'Asa Esa' Dance Show Perform, Ramanulloh Pahlewi Bimantara, mengatakan pertunjukan tersebut merupakan gelaran perdana di Karimunjawa.
Konsep itu sengaja dibuat berbeda dari event-event yang selama ini banyak digelar di kawasan kepulauan tersebut.
“Baru pertama kali di Karimunjawa. Maksudnya untuk membuat event yang berbeda dari sebelumnya, lebih tepatnya dance profesional,” ujarnya, Minggu (23/8) sore.
Pertunjukan diawali dengan pembukaan oleh Bang Jack melalui ritual mapak silat.
Selanjutnya, Sanggar Pudak Petak menampilkan sejumlah tari Bali, yakni Tari Gabor, Tari Wirayuda, dan Tari Kembang Girang.
Pemilihan Bakkololo sebagai lokasi pertunjukan bukan tanpa alasan.
Menurut Pahlewi, geliat pariwisata di Desa Kemujan masih belum seimbang apabila dibandingkan dengan Karimunjawa.
Karena itu, diperlukan atraksi baru yang dapat mengundang wisatawan untuk datang dan mengenal sisi lain dari kawasan tersebut.
“Daya tarik atau audiensnya bisa datang ke Kemujan juga. Selama ini kebanyakan hiburan bahari, snorkeling dan diving,” katanya.
Konsep pertunjukan juga sengaja digelar pada sore menjelang petang.
Waktu tersebut dipilih karena memberikan pengalaman visual tersendiri. Terutama ketika suasana perlahan berubah dari terang menuju gelap.
“Kami memilih sore sampai Maghrib karena memerlukan setting transisi dari gelap ke petang,” jelasnya.
Di luar dugaan penyelenggara, pertunjukan tersebut mendapat respons cukup antusias.
Pengunjung yang datang didominasi kalangan muda, berbeda dengan kegiatan-kegiatan komunitas yang selama ini lebih banyak diikuti oleh para penggiat berusia lebih tua.
Menariknya, penonton tidak hanya berasal dari wisatawan domestik.
Sejumlah wisatawan mancanegara dari Italia, Spanyol, hingga Prancis turut menyaksikan pertunjukan.
“Ini di luar ekspektasi kami. Banyak pengunjung dari pemuda. Biasanya penggiat tua, tetapi yang datang kali ini muda-mudi, baik turis domestik maupun asing,” tuturnya.
Pahlewi menegaskan, kegiatan tersebut murni lahir dari inisiatif pribadi antara dirinya dan Fala Kawela.
Pertunjukan digelar semata-mata untuk menghadirkan hiburan alternatif sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan di Karimunjawa.
“Untuk event ini murni dari gerakan hati. Kami iseng membuat perform supaya ada hiburan lain,” sebutnya.
Ia berharap ke depan kesenian daerah dari berbagai penjuru Nusantara dapat lebih banyak hadir di Karimunjawa. Serta dikemas dengan konsep pertunjukan yang menarik.
Menurutnya, pariwisata tidak semestinya hanya bertumpu pada eksploitasi potensi alam.
Budaya dan seni juga perlu ditempatkan, sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
“Harapan kami ke depan tentu saja ada kesadaran pemerintah untuk menghadirkan budaya dan seni. Ini inti dari sebuah ekosistem pariwisata,” ucapnya.
Alam, budaya, dan adat, menurutnya, merupakan satu kesatuan yang seharusnya berjalan selaras.
Ke depan, venue pertunjukan juga diharapkan tidak hanya digelar di Bakkololo.
Pahlewi membayangkan adanya rangkaian pertunjukan yang berpindah dari Karimunjawa ke Kemujan hingga pulau-pulau lain di kawasan tersebut.
“Jika dukungan sponsor dan perizinan memungkinkan, pertunjukan seni serupa diharapkan dapat digelar di Pulau Genting, Parang, Nyamuk, maupun Sambangan,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin