JEPARA — Sejumlah wisatawan mancanegara tak hanya menikmati pertunjukan seni saat menghadiri PasArt Budaya Kepulauan Karimunjawa.
Mereka turut berburu dan mencicipi beragam pangan lokal yang disajikan masyarakat dari sejumlah pulau yang berada di Karimunjawa.
Ratusan pengunjung memenuhi halaman Pendapa Budaya Jatikerep, Karimunjawa, Jumat dan Sabtu (7–8/8) malam.
Mereka terdiri atas warga setempat, wisatawan domestik, hingga turis asing yang datang untuk menyaksikan perhelatan budaya. Sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat kepulauan.
PasArt Budaya Kepulauan Karimunjawa melibatkan masyarakat dari lima pulau, yakni Karimunjawa, Kemujan, Genting, Parang, dan Nyamuk.
Keterlibatan tersebut tidak sebatas sebagai penonton, tetapi diwujudkan melalui penyajian makanan tradisional dan penampilan seni yang tumbuh di masing-masing wilayah.
Sejumlah pangan lokal disajikan untuk pengunjung. Di antaranya pohung khas Parang, tape dari Genting, buras dan gogos dari Kemujan, wedang jamu dari Karimunjawa, serta aneka jajanan tradisional lainnya.
Bagi wisatawan mancanegara, sajian tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Diversifikasi pangan.
Mereka tampak menikmati jajanan, sembari menyaksikan pertunjukan seni yang merepresentasikan keberagaman masyarakat Karimunjawa.
Pegiat seni dan budaya Karimunjawa, Widyo Babahe Leksono, mengatakan PasArt merupakan komunitas yang dibentuk sebagai wadah untuk menggali, menumbuhkembangkan, mempromosikan, sekaligus memasarkan kebudayaan yang dimiliki masyarakat Kepulauan Karimunjawa.
Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini memiliki cakupan yang lebih heterogen dan kolektif. Sejumlah masyarakat desa dari berbagai pulau dilibatkan secara langsung, baik melalui kuliner maupun kesenian.
"Kami melibatkan beberapa masyarakat desa dari Kepulauan Karimunjawa. Mereka berpartisipasi melalui penyajian makanan tradisional maupun pertunjukan seni yang mewakili suku-suku yang ada di Karimunjawa," ujarnya.
PasArt mengusung misi menjaga sekaligus memperkenalkan identitas masyarakat kepulauan. Selama dua malam, pengunjung disuguhi ragam seni tradisi, kuliner khas, dan ekspresi budaya dari berbagai kelompok masyarakat yang selama ini hidup berdampingan di Karimunjawa.
Keragaman itu tercermin dari latar belakang suku yang hidup di kawasan kepulauan tersebut, seperti Jawa, Bugis, Madura, Buton, Mandar, dan Bajo.
Pertunjukan yang dihadirkan pun tidak hanya menjadi hiburan, tetapi membawa cerita dan nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ada Teaterikal Mantra, Wayang Kedhok, Angaru', pencak silat, Barongan Tarung, Gamelan Domisol, hingga Tarian Anak Pulau.
Penampilan pencak silat, misalnya, tidak berhenti pada atraksi jurus dan pertarungan. Pertunjukan dikembangkan dalam bentuk teatrikal dengan mengangkat persoalan 'sampah kiriman' yang menjadi salah satu isu lingkungan di wilayah kepulauan.
Sementara Barongan Tarung menghadirkan atraksi yang lebih intens. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian penonton melalui adegan pertarungan khas kesenian tradisional setempat.
Selain seni pertunjukan, pangan tradisional menjadi bagian penting dalam PasArt. Makanan yang dibawa masyarakat dari pulau masing-masing bukan sekadar sajian untuk disantap.
Namun, menjadi pintu bagi wisatawan untuk mengenal sejarah dan kehidupan masyarakat Karimunjawa.
Pengunjung dapat menemukan buras dan gogos khas Bugis, cucur Madura, serabi Nyamuk, pohung khas Parang, wedang jamu, hingga tape Genting.
Keberadaan pangan lokal tersebut sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan produk mereka secara langsung kepada wisatawan.
Lebih lanjut dijelaskan, kebudayaan merupakan kekayaan yang tidak kalah penting dibandingkan potensi wisata alam Karimunjawa.
Karena itu, PasArt berupaya menghadirkan ruang perjumpaan antara pelaku seni, masyarakat, dan wisatawan. Melalui pertemuan tersebut, warisan budaya yang selama ini tumbuh di berbagai pulau dapat dikenalkan secara lebih luas.
"Dengan PasArt, kami ingin menunjukkan bahwa Karimunjawa bukan hanya tentang laut yang indah. Kepulauan ini juga memiliki warisan budaya, seni pertunjukan, tradisi, dan kuliner yang sangat beragam," katanya.
Ia berharap keberagaman tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Setelah rangkaian kegiatan tersebut, agenda kebudayaan kembali berlanjut melalui ‘Pasartiban Jatikerep’ dalam rangka malam tirakatan 81 tahun Indonesia merdeka. Jelang 17 Agustus mendatang.
“Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa kehidupan budaya Karimunjawa tidak berdiri sendiri. Seni pertunjukan, pangan lokal, tradisi, dan keberagaman masyarakat saling terhubung menjadi kekuatan budaya kepulauan,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya