Melihat Sedekah Laut di Karimunjawa, Ekspresi Cinta Masyarakat Kepulauan dengan Alam 

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:35 WIB
ANTUSIAS: Prosesi larungan kapal berisi aneka palawija, ikan asin, hingga bahan makanan beserta ayam, pada Kamis (6/8).
ANTUSIAS: Prosesi larungan kapal berisi aneka palawija, ikan asin, hingga bahan makanan beserta ayam, pada Kamis (6/8). (FARAH UNTUK RADAR KUDUS)

KARIMUNJAWA — Sedekah Laut di Karimunjawa bukan sekadar ritual tahunan yang dipegang erat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Di balik iringan doa, larung sesaji, dan kebersamaan warga, tersimpan cara masyarakat kepulauan mengekspresikan rasa syukur. Sekaligus penghormatan kepada laut yang menjadi sumber kehidupan mereka. Mereka tahu alam cinta manusia, dan sudah semestinya masyarakat membalas cinta itu dengan merawat alam.

Derap-derap langkah warga RT 2/RW 1 Desa Karimunjawa terdengar mantap pada Kamis (6/8). 

Sejak pagi, jalan-jalan kampung dipenuhi warga yang mengenakan pakaian adat, busana muslim, hingga anak-anak yang berjalan riang mengikuti iring-iringan. 

Baca Juga: Harlah ke-35 Unisnu Jepara Pacu Reputasi Global: Mahasiswa Asing dan Dosen Doktor Bertambah, Akreditasi Unggul Meningkat

Di antara mereka, tampak pula wisatawan mancanegara yang larut dalam suasana, menyaksikan tradisi yang telah hidup merintangi zaman di tengah masyarakat kepulauan.

Tidak terdengar hiruk-pikuk seperti sebuah pesta. Yang hadir justru suasana hangat, penuh senyum, dan rasa memiliki. Guyub rukun tandang gawe.

Setiap orang berjalan dengan perannya masing-masing. Ada yang membawa tumpeng, ada yang mempersiapkan sesaji, sementara para nelayan telah lebih dulu memastikan kapal-kapal mereka siap berlayar menuju titik larung.

Bagi warga Karimunjawa, Sedekah Laut bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan melalui laut. Sekaligus doa agar para nelayan senantiasa diberi keselamatan saat mengarungi samudra. 

REWANG: Ibu-ibu menyiapkan berbagai hidangan untuk disantap bersama, kendurenan.
REWANG: Ibu-ibu menyiapkan berbagai hidangan untuk disantap bersama, kendurenan.

Di balik larung sesaji dalam sedekah laut, tersimpan filosofi tentang hubungan yang saling menjaga antara manusia dan alam. Saling cinta, saling jaga. Masyarakat kepulauan tahu, laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga sahabat yang harus dihormati dan dirawat. 

Tradisi itu juga menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Anak-anak menyaksikan bagaimana orang tua mereka menjaga adat, sementara para sesepuh kembali menceritakan makna di balik setiap prosesi. 

Dengan cara sederhana, nilai-nilai budaya diwariskan, tanpa harus diajarkan melalui ruang kelas.

Salah seorang warga sekaligus pegiat wisata Karimunjawa, Farah Lazuardy (30), mengatakan bulan Agustus memang menjadi waktu yang paling dinanti masyarakat. 

Beragam agenda budaya dan peringatan Hari Kemerdekaan dipusatkan dalam satu bulan agar seluruh warga, termasuk mereka yang bekerja di sektor pariwisata, dapat ikut berpartisipasi.

"Anak-anak muda di sini banyak yang bekerja di bidang wisata. Jadi kami sengaja meluangkan waktu selama satu bulan untuk berkegiatan bersama masyarakat. Diawali Sedekah Laut, setelah itu ada karnaval, lalu berbagai perlombaan Agustusan," ujarnya.

Lahir dan tumbuh di tengah gugusan pulau menjadi anugerah tersendiri bagi masyarakat Karimunjawa. Laut biru yang jernih, hamparan pasir putih, hutan mangrove, hingga terumbu karang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Alam bukan sekadar lanskap indah, melainkan ruang hidup yang membentuk karakter masyarakatnya, sederhana, tangguh, sekaligus penuh rasa syukur.

Ia menambahkan, bagi masyarakat kepulauan, arah angin, tinggi ombak, hingga cuaca bukan sekadar informasi. 

MELAJU: Kapal-kapalan berisi sedekah laut dibiarkan menyusuri tubuh lautan Karimunjawa.
MELAJU: Kapal-kapalan berisi sedekah laut dibiarkan menyusuri tubuh lautan Karimunjawa.

Semuanya menjadi bagian dari keseharian yang menentukan kapan mereka berangkat melaut dan kapan harus kembali ke daratan. Karena itulah, rasa hormat kepada alam tumbuh secara alami dalam kehidupan mereka.

“Menjelang akhir tahun terdapat Festival Thothok Terusan di Desa Kemujan. Hal itu diadakan setiap tahun pada awal bulan November, saat masa pancaroba atau pergantian musim sebelum musim hujan tiba,” jelasnya.

Farah menyebut, Karimunjawa yang terdiri atas lebih dari 20 pulau dikenal sebagai salah satu surga tropis Indonesia. 

Kekayaan bawah lautnya menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan, terumbu karang, penyu, hingga berbagai biota laut yang menarik perhatian wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Tak heran jika masyarakat setempat memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan laut.

Hubungan itu tidak hanya terlihat ketika mereka mencari nafkah. Ikatan tersebut juga hadir dalam berbagai tradisi, salah satunya Sedekah Laut tersebut. 

“Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberlimpahan hasil laut tidak boleh dipandang semata sebagai hasil kerja manusia, tetapi juga sebagai anugerah yang patut disyukuri,” ujarnya.

Menurut Farah, momen yang pas itu menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul. 

GUYUB RUKUN: Kapal-kapal nelayan turut serta membersamai pelarungan sedekah laut.
GUYUB RUKUN: Kapal-kapal nelayan turut serta membersamai pelarungan sedekah laut.

Kesibukan bekerja di sektor wisata sejenak dikesampingkan. Agar seluruh masyarakat bisa terlibat dalam kegiatan bersama.

Menurut Farah, inti dari Sedekah Laut ialah rasa syukur masyarakat, terutama para nelayan, atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan. 

“Harapan yang kami inginkan sederhana, semoga laut tetap memberikan rezeki dan seluruh nelayan selalu dilindungi dari bahaya saat melaut,” imbuhnya.

Prosesi dimulai dengan doa bersama dan kenduri menggunakan tumpeng yang disantap bersama pada pukul 09.00 WIB. 

Setelah itu, sekitar pukul 11.00 WIB, warga bergerak menuju laut, menggunakan kapal-kapal nelayan untuk melaksanakan prosesi larung.

Dari bibir pantai, warga lainnya ikut menyaksikan iring-iringan kapal yang bergerak perlahan menuju perairan. 

Beberapa wisatawan pun mengabadikan momen tersebut. 

"Tahun ini ada rombongan wisatawan dari Prancis yang ikut naik kapal saat prosesi larung. Mereka antusias melihat tradisi kami," ucapnya.

Kehadiran wisatawan asing menunjukkan bahwa budaya lokal mampu menjadi daya tarik tersendiri. Mereka tidak hanya menikmati keindahan pantai dan bawah laut Karimunjawa, tetapi juga menyaksikan bagaimana masyarakat setempat menjaga identitas budayanya.

PAMOMONG ADAT: Ketua RT 2 Aziz dan Ketua RW 1 Wagino Desa Karimunjawa.
PAMOMONG ADAT: Ketua RT 2 Aziz dan Ketua RW 1 Wagino Desa Karimunjawa.

Sementara itu, Ketua RT 2/RW 1 Desa Karimunjawa, Aziz, mengatakan Sedekah Laut merupakan kegiatan rutin yang selalu dilaksanakan setiap tahun oleh warganya.

Yang paling menarik perhatian ialah kapal-kapalan yang telah dihias dan dipersiapkan sebagai wadah sesaji. 

Di dalamnya terdapat berbagai hasil bumi dan hasil laut, seperti ikan asin, kelapa, pisang, ayam, serta palawija. 

Seluruh persembahan itu kemudian dilarungkan ke tengah laut sebagai simbol rasa syukur dan harapan agar laut terus menghadirkan keberkahan. Jika kapal telah roboh dan tenggelam, diharapkan dapat menjadi rumpon baru, bagi biota-biota laut.

"Harapannya semoga hasil tangkapan nelayan semakin melimpah, masyarakat tetap guyub, rukun, dan laut terus memberikan berkah bagi kehidupan kami," sambungnya.

Baginya, kehadiran wisatawan asing juga bukan sekadar menjadi tontonan budaya. Tetapi juga menjadi kesempatan memperkenalkan nilai-nilai masyarakat Karimunjawa kepada dunia. 

Tradisi yang lahir dari kehidupan para nelayan tersebut menjadi wajah keramahan, sekaligus bukti bahwa masyarakat kepulauan mampu menjaga warisan budaya di tengah berkembangnya industri pariwisata.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Sedekah Laut menjadi perekat kehidupan sosial warga. 

Semua terlibat tanpa memandang usia maupun pekerjaan. Tradisi itu menjadi pengingat bahwa kehidupan di pulau kecil akan tetap kuat selama masyarakatnya menjaga kebersamaan.

Senada, Ketua RW 1 Wagino menyebutkan, di Karimunjawa, laut tidak hanya dipandang sebagai hamparan air yang memisahkan pulau-pulau. Justru sebaliknya, laut menyatukan.

“Laut bagi kami halaman depan rumah, ruang mencari nafkah, tempat menyimpan harapan, sekaligus warisan yang harus tetap lestari. Melalui Sedekah Laut, masyarakat kami sadar, mencintai alam tidak selalu diwujudkan dengan kata-kata, tetapi juga melalui tradisi yang terus dirawat dari generasi ke generasi seperti ini,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
jepara mempesona Sedekah laut karimunjawa kapal nelayan Karimunjawa Karimunjawa Island Balai taman nasional