JEPARA — Kekayaan budaya yang hidup di Kepulauan Karimunjawa, akan kembali tersaji melalui PasArt Budaya Kepulauan Karimunjawa 2026.
Kegiatan tersebut akan digelar pada Jumat dan Sabtu, 7–8 Agustus 2026, mulai pukul 19.30 WIB di Pendapa Budaya Jatikerep.
Ini menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas seni, pelaku budaya, dan masyarakat dari sejumlah pulau di Kecamatan Karimunjawa.
Berbeda dengan sekadar pertunjukan hiburan, PasArt hadir sebagai gerakan budaya.
Mengusung misi dan bertujuan menjaga sekaligus memperkenalkan identitas masyarakat kepulauan.
Selama dua malam, pengunjung akan disuguhi ragam kesenian tradisional, kuliner khas, hingga tradisi yang merepresentasikan keberagaman suku, yang telah lama hidup berdampingan di Karimunjawa.
Pegiat seni dan budaya Karimunjawa, Widyo Babahe Leksono, menyampaikan PasArt merupakan sebuah komunitas yang dibentuk sebagai wadah untuk menggali, menumbuhkembangkan, mempromosikan, sekaligus memasarkan kebudayaan yang dimiliki masyarakat Kepulauan Karimunjawa.
Menurutnya, kebudayaan merupakan kekayaan yang tidak kalah penting dibanding potensi wisata alam Karimunjawa.
Karena itu, PasArt berupaya menghadirkan ruang yang dapat menghubungkan pelaku seni, masyarakat, hingga wisatawan.
Supaya lebih mengenal warisan budaya yang selama ini tumbuh di wilayah kepulauan.
"PasArt ialah komunitas yang bertujuan menggali, menumbuhkembangkan, mempromosikan, dan memasarkan kebudayaan di Kepulauan Karimunjawa. Kami ingin budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikenal masyarakat luas," jelasnya, pada Minggu (2/8).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan PasArt tahun ini memiliki warna yang lebih beragam dibanding pelaksanaan sebelumnya.
Tidak hanya melibatkan komunitas seni, kegiatan ini juga mengikutsertakan masyarakat dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Karimunjawa, sehingga menghadirkan kolaborasi yang lebih luas.
"Secara kuantitas, tahun ini lebih heterogen dan lebih kolektif. Kami melibatkan beberapa masyarakat desa dari kepulauan Karimunjawa. Mereka berpartisipasi melalui penyajian makanan tradisional maupun pertunjukan seni yang mewakili suku-suku yang ada di Karimunjawa," imbuhnya.
Menurut Babahe, Karimunjawa merupakan miniatur keberagaman budaya.
Selain masyarakat Jawa, wilayah kepulauan tersebut juga dihuni oleh masyarakat Bugis, Madura, Mandar, Bajo, dan etnis lainnya.
Masyarakat lintas suku ini telah hidup berdampingan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Perjumpaan berbagai budaya itu melahirkan tradisi yang khas. Menjadi identitas masyarakat Karimunjawa.
Karena itu, PasArt tidak hanya menampilkan kesenian dari satu kelompok, melainkan menghadirkan berbagai ekspresi berkebudayaan yang tumbuh bersama di kepulauan ini.
Melalui konsep itu, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa keberagaman menjadi kekuatan utama Karimunjawa.
Berbagai pertunjukan seni dijadwalkan tampil selama penyelenggaraan PasArt. Mulai dari Teaterikal Mantra, Wayang Kedhok, Angaru', Pencak Silat, Barongan Tarung, Gamelan Domisol, hingga Tarian Anak Pulau.
Seluruh pertunjukan dipilih untuk merepresentasikan kekayaan tradisi masyarakat Karimunjawa yang diwariskan secara turun-temurun.
Ataupun yang diejawantahkan, ke dalam satu episentrum kerja-kerja kolektif.
Selain pertunjukan seni, pengunjung juga dapat menikmati aneka jajanan tradisional yang dibawa langsung oleh masyarakat dari berbagai pulau.
Di antaranya buras dan gogos khas Bugis, cucur Madura, serabi Nyamuk, pohung nDalon, wedang jamu, hingga tape Genting.
Kehadiran kuliner tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan cita rasa khas masyarakat kepulauan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Babahe berharap PasArt mampu menjadi agenda budaya yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Tidak hanya sebagai ruang pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mengenal akar budayanya sendiri.
Ia juga berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat citra Karimunjawa sebagai destinasi wisata, yang tidak hanya menawarkan keindahan pantai dan bawah laut. Namun, juga memiliki kekayaan budaya yang layak dinikmati wisatawan.
"Dengan PasArt, kami ingin menunjukkan bahwa Karimunjawa bukan hanya tentang laut yang indah. Kepulauan ini juga memiliki warisan budaya, seni pertunjukan, tradisi, dan kuliner yang sangat beragam. Harapannya, budaya itu terus hidup, diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin