JEPARA — Deretan wisatawan mancanegara berkebaya lengkap dengan selendang, tampak membaur bersama warga di tengah kemeriahan Barikan Kubro Karimunjawa 2026.
Pengunjung asal Australia, Italia, Jerman hingga Afrika Selatan ikut berjalan. Larut. Mengikuti kirab dan arak-arakan, menikmati pertunjukan seni, hingga mengabadikan momen tradisi yang digelar menjelang Jumat Wage.
Di tahun ini, prosesi digelar meriah, pada Kamis (25/6) sore. Bertepatan dengan libur sekolah dan musim liburan musim panas.
Pemandangan tersebut menjadi warna tersendiri dalam penyelenggaraan Barikan Kubro ke-11 di Karimunjawa.
Tradisi yang berakar dari budaya masyarakat pesisir itu tak hanya menyedot antusiasme warga lokal, tetapi juga berhasil menarik perhatian wisatawan mancanegara yang tengah berlibur di kepulauan tersebut.
Camat Karimunjawa Nuril Abdillah mengatakan, sejumlah wisatawan asing secara spontan tertarik mengenakan pakaian adat Jawa, untuk mengikuti rangkaian kegiatan.
Mereka mendapatkan informasi dari pengelola hotel, yang kemudian membantu menyediakan kebaya dan perlengkapan pendukung lainnya.
“Wisatawan mancanegara dari Australia, Italia, Jerman sampai Afrika Selatan ikut menikmati acara dengan mengenakan pakaian adat. Itu keinginan mereka sendiri, dadakan. Kemudian dicarikan oleh pihak hotel,” ungkapnya, Jumat (26/6).
Menurut Nuril, Barikan Kubro memiliki potensi besar sebagai agenda wisata budaya tingkat kabupaten. Sebagaimana tradisi Pesta Lomban, Perang Obor atau Jembul Tulakan yang telah lebih dahulu dikenal.
Apalagi, pelaksanaannya dapat bertepatan dengan momentum libur sekolah dan musim kunjungan wisatawan asing.
Ia menyebut, tradisi Barikan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).
Sementara itu, Barikan Kubro, juga tengah diupayakan untuk diusulkan sebagai identitas budaya khas Karimunjawa, sebagai WBTB pula.
Berbeda dengan tradisi sedekah bumi di daerah lain, Barikan Kubro memiliki kekhasan budaya bahari yang kuat.
“Kalau barikan di daerah lain banyak, tetapi rangkaian Barikan Kubro ini berbeda. Ambengannya bernuansa kapal, ada gunungan utama, ada larung tumpeng ke laut, pentas seni, hingga pemutaran film sejarah Karimunjawa. Semua lapisan masyarakat bergerak,” jelasnya.
Prosesi Barikan Kubro diawali dari perempatan dan Alun-alun Karimunjawa. Berlanjut arak-arakan ambengan, dari seluruh dukuh di Karimunjawa dengan kreasi masing-masing.
Gunungan utama, kemudian dibawa menuju Dermaga atau Syahbandar untuk prosesi pemotongan tumpeng, sebelum bagian puncaknya dilarung ke laut sebagai simbol rasa syukur masyarakat pesisir.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan tari kolosal “Miyang Segara” atau Miyagara, yang dibawakan Sanggar Tari Jaladri.
Tarian tersebut menggambarkan kehidupan keluarga nelayan. Terutama seorang istri, yang menanti kepulangan suaminya dari melaut.
Nuril menyebut, ke depan, pihak kecamatan telah menjalin komunikasi dengan Disparbud Jepara agar Barikan Kubro, dapat masuk dalam kalender event daerah dan dipromosikan lebih luas.
“Kami ingin menata event ini agar menjadi agenda kabupaten dan sarana promosi Karimunjawa, tidak hanya untuk wisatawan lokal tetapi juga mancanegara,” ucapnya.
Sementara itu, penggiat seni budaya Karimunjawa, Fahrul Alim (42), menjelaskan bahwa Barikan Kubro tahun ini beriringan dengan sejumlah agenda tradisi lain, seperti Haul Sunan Nyamplungan, santunan yatama, haul Mbah Sayyid Kambang di Cikmas, hingga haul Mbah Sayyid Abdullah di Kemujan.
Menurutnya, Barikan Kubro sengaja dikemas sebagai ruang ekspresi yang terbuka bagi seluruh elemen masyarakat.
Mulai dari seniman tari, perias, dekorator, pelaku UMKM hingga pelaku wisata dapat terlibat dan memperoleh manfaat ekonomi.
“Barikan Kubro bersifat umum, tidak hanya religi tetapi netral untuk semua elemen. Hotel-hotel juga ikut mempromosikan melalui pamflet, bahkan ada yang menawarkan paket sewa baju adat. Ini bisa menggerakkan ekonomi kerakyatan,” terangnya.
Fahrul berharap Barikan Kubro terus berkembang, menjadi panggung budaya. Memperkuat identitas Karimunjawa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Barikan Kubro menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk berkarya, tampil menari, mendekorasi, menjadi pemandu wisata, membuka trip, dan mendapatkan nilai ekonomi. Mencari kembali api (semangat, red) sosial, agar masyarakat tetap mau berkegiatan dan berkontribusi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya