Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Angin Timuran, Pantai di Kemujan Karimunjawa Dipenuhi Sampah Kiriman

Fikri Thoharudin • Jumat, 5 Juni 2026 | 18:01 WIB
TERCEMAR: Kondisi Pesisir Pantai Kemujan, Karimunjawa, yang dipenuhi sampah kiriman, pada Jumat (5/6). (BANG JACK UNTUK RADAR KUDUS)
TERCEMAR: Kondisi Pesisir Pantai Kemujan, Karimunjawa, yang dipenuhi sampah kiriman, pada Jumat (5/6). (BANG JACK UNTUK RADAR KUDUS)
KARIMUNJAWA — Hamparan pasir putih yang menjadi daya tarik wisata di Kemujan, Karimunjawa kembali berubah wajah. 
Memasuki musim angin timuran, sejumlah pantai baik yang dikelola warga maupun yang belum bernama di kepulauan tersebut, dipenuhi sampah.
Sampah ini bukan dari Karimunjawa sendiri, melainkan barang kiriman yang terbawa arus laut.
Misalnya seperti di Pantai Amera, Dusun Telaga, Kemujan, tumpukan botol plastik, gelas minuman kemasan, bungkus makanan, hingga berbagai jenis sampah anorganik lainnya menumpuk. Mengular ratusan meter. 
Kondisi serupa juga terlihat di pantai yang letaknya tak jauh dari Pelabuhan Legon Bajak. Timbunan sampah ini menyesaki bibir-bibir pantai di sebelah timur perairan.
Penggiat lingkungan Karimunjawa, Bambang Zakaria, mengatakan fenomena itu terjadi hampir setiap tahun. Saat angin bertiup kencang dari arah timur, terutama pada Juni hingga September.
"Ini sampah kiriman. Tidak jelas asalnya dari mana, kemungkinan dari wilayah perkotaan atau terbawa arus laut. Yang banyak itu botol plastik, gelas plastik, dan kemasan minuman," ujarnya, Jumat (5/6).
MENGULAR: Kondisi sampah di pesisir utara Kemujan, Karimunjawa dipenuhi sampah, pada Jumat (5/6). (BANG JACK UNTUK RADAR KUDUS)
MENGULAR: Kondisi sampah di pesisir utara Kemujan, Karimunjawa dipenuhi sampah, pada Jumat (5/6). (BANG JACK UNTUK RADAR KUDUS)
Menurut Bang Jack sapaan akrab Bambang Zakaria, dalam sepekan terakhir intensitas angin timur cukup kuat. 
Bahkan, setelah dibersihkan, dalam waktu satu jam, tumpukan sampah dapat kembali berdatangan. 
Lebih lanjut, dikatakan, pantai-pantai yang tidak dikelola secara rutin, mengalami penumpukan lebih parah. 
Bahkan, ada beberapa titik pantai yang tidak memiliki nama dan tidak pernah dibersihkan, sehingga lapisan sampah terlihat lebih tebal. "Masyarakat membersihkan secara manual, menggunakan tangan," ucapnya.
Fenomena tersebut juga berganti mengikuti musim angin. Saat angin baratan tiba, sampah akan berpindah dan mengotori pantai-pantai di sisi barat pulau, seperti di Batu Lawang.
"Semua pantai sebenarnya kena. Kalau timuran, pantai timur yang penuh sampah. Kalau baratan, gantian pantai sebelah barat," jelasnya.
Namun, bagi warga Karimunjawa, persoalan terbesar bukan hanya membersihkan sampah. Melainkan bagaimana mengelolanya setelah terkumpul.
Bang Jack mengungkapkan, selama ini sampah yang berasal dari pantai, tidak diperbolehkan masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 
Fasilitas tersebut hanya menerima sampah rumah tangga dari Desa Karimunjawa, sementara sampah kiriman dari laut belum memiliki jalur pengelolaan yang jelas.
"Bahkan kami di Kemujan, juga tidak diberi fasilitas untuk membuang sampah pantai ke TPA yang berada di Desa Karimunjawa. Akhirnya solusi yang ada cuma dibakar," ujarnya.
Cara tersebut, menurutnya, justru memunculkan persoalan lingkungan baru. 
Pembakaran sampah plastik menghasilkan polusi udara, sedangkan sampah berbahan kaca tidak dapat dimusnahkan dengan cara itu.
"Botol kaca yang hanyut ke pantai tidak bisa dibakar. Kadang akhirnya ada yang memecahkannya lalu dibuang lagi ke laut. Memang ini bukan solusi bagi masyarakat tapi mau bagaimana lagi?" ujarnya.
Ia menilai persoalan sampah kiriman membutuhkan kebijakan khusus dan penanganan yang terintegrasi. 
Sebab, menurutnya, masalah itu bukan muncul akibat perilaku masyarakat Karimunjawa yang membuang sampah sembarangan.
"Sampah ini bukan perilaku kami. Ini bukan soal edukasi buang sampah pada tempatnya. Yang dibutuhkan adalah memikirkan kebijakan agar sampah yang sudah datang ini mau diapakan," tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat berkolaborasi dengan pihak terkait, termasuk Balai Taman Nasional Karimunjawa, untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah pesisir yang berkelanjutan. 
Mulai dari penyediaan fasilitas pengolahan, hingga teknologi pemusnahan yang ramah lingkungan.
Menurutnya, keberlanjutan pariwisata Karimunjawa tidak cukup hanya dengan membangun destinasi dan menggerakkan UMKM. Persoalan sampah yang terus berulang juga harus menjadi prioritas.
"Kalau wisatawan datang lalu melihat pantai penuh sampah, mereka pasti komplain. Padahal ini bukan sampah dari kami. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi sekadar program atau forum diskusi, tapi penanganan yang nyata dan inovasi yang konkret," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin
#kemujan Karimunjawa #pantai Karimunjawa dipenuhi sampah #sampah kiriman #pengelolaan sampah berkelanjutan #sampah laut