Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kabumi Tradisi Manganan dan Wayangan di Makam Tertua Karimunjawa

Fikri Thoharudin • Rabu, 6 Mei 2026 | 16:50 WIB
ANTUSIAS: Prosesi sedekah bumi Desa Karimunjawa pada Rabu (6/5). (ARIF UNTUK RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Prosesi sedekah bumi Desa Karimunjawa pada Rabu (6/5). (ARIF UNTUK RADAR KUDUS)

KARIMUNJAWA — Tak seperti biasanya, suasana Balai Desa Karimunjawa terasa berbeda, pada Rabu (6/5) pagi.

Warga berkumpul dengan wajah khidmat, memulai rangkaian tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. 

Kegiatan diawali dengan doa bersama, sebelum arak-arakan panjang dimulai menuju kawasan makam leluhur.

Arak-arakan itu tidak sekadar berjalan kaki. Warga membawa hasil bumi seperti ketela, gedang, hingga padi dan hasil laut. Ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan alam. 

Perjalanan sejauh kurang lebih 1,5 kilometer dari Balai Desa menuju Makam Mbah Danang Djoyo, menjadi momen penuh kebersamaan.

Tujuan mereka adalah makam pembabat alas, yang diyakini sebagai salah satu makam tertua di Karimunjawa. 

Sosok yang dimakamkan di sana dikenal sebagai sesepuh sekaligus penyebar agama di wilayah tersebut. 

Dalam tutur warga, jejaknya lebih tua dari generasi yang bisa mereka ceritakan hari ini, Sunan Nyamplungan. Ini menjadi pengikat sejarah sekaligus spiritualitas masyarakat setempat.

Di area makam, doa kembali dipanjatkan. Suasana hening menyelimuti, seolah setiap orang larut dalam rasa hormat kepada leluhur. 

Usai ritual, rombongan bergerak turun menuju gedung kesenian yang berada tak jauh dari lokasi. 

Di tempat ini, tradisi berubah wajah menjadi perayaan budaya. Tokoh masyarakat, warga, hingga para seniman berkumpul, menyatukan unsur spiritual dan seni dalam satu rangkaian acara.

Setelah itu, warga bersama-sama menikmati manganan, makan bersama dari hasil bumi dan laut yang telah dibawa. 

Tidak ada sekat. Semua duduk dan berbagi dalam kebersamaan yang sederhana namun hangat. 

Tari Gambyong menjadi pembuka yang memikat. Gerak lembut penari, termasuk cucuk lampah yang memimpin jalannya prosesi. 

Anak-anak hingga orang dewasa turut ambil bagian, menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya hidup, tetapi juga diwariskan dengan penuh kesadaran. 

Rangkaian kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 itu berakhir sekitar pukul 11.00 WIB. 

Namun, semangatnya belum usai. Malam harinya, masyarakat kembali berkumpul untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini sejak dulu.

Pada Rabu (6/5) malam, pertunjukan wayang kulit digelar di kawasan makam Mbah Danang Djoyo, tepatnya di Pendopo Kali. 

Dalang Hendro Suryo Kartiko, yang dikenal dengan sebutan Marga Langit, membawakan lakon dengan gaya khasnya. 

Kehadiran tokoh Anoman dengan Lakon Tiwikromo, menjadi salah satu daya tarik dalam pertunjukan tersebut. 

Bagi warga Karimunjawa, tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan. 

Ia adalah cara menjaga keseimbangan antara masa lalu dan masa kini. 

Di tengah perkembangan pariwisata dan semakin dikenalnya Karimunjawa, mereka tetap memegang erat nilai-nilai kebersamaan.

“Meski Karimunjawa semakin dikenal dan maju, kerukunan tetap terjalin. Serta hasil bumi dan laut tetap melimpah,” tuturnya penuh harap.(fik)

 

Editor : Admin
#sedekah bumi karimunjawa #hasil laut dan bumi #wayang kulit #karimunjawa #kirab