KARIMUNJAWA — Pagi baru saja beranjak, ketika langkah-langkah mulai berdatangan ke tepian Pantai Amera. Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang khas.
Di sanalah, untuk pertama kalinya, Festival Sagara digelar. Sebuah perayaan yang sederhana namun penuh makna. Tentang hubungan manusia dengan laut.
Pada Kamis (16/4) sejak pukul 07.00 WIB, warga Desa Kemujan mulai berdatangan, berkumpul. Acara bersambung hingga tengah malam, pukul 00.00.
Mereka duduk melingkar dalam sarasehan, berdampingan antara nelayan, tokoh adat, hingga generasi muda. Termasuk turis dari mancanegara.
Percakapan yang mengalir bukan tentang hal-hal baru. Melainkan tentang pengetahuan lama yang nyaris terlupakan, membaca arah angin, mengenali lintang, hingga memahami tanda-tanda alam sebagai penuntun melaut.
Bagi mereka, laut bukan sekadar ruang mencari nafkah. Ia adalah ruang hidup yang harus dipahami, dijaga dan dilestarikan.
Salah satu panitia, Ismoyo (44), menyebut diskusi itu menjadi fondasi utama festival.
“Intinya tentang budaya kuno kelautan. Bagaimana nelayan dulu membaca alam, itu yang kita hidupkan lagi,” ungkapnya pada Jumat (17/4).
Selepas sarasehan, suasana berubah menjadi hangat dan akrab. Warga menggelar selamatan, memanjatkan doa bersama, lalu makan dalam satu hamparan. Tak ada sekat. Semua duduk setara, menyatu dalam rasa syukur atas limpahan hasil laut.
Menjelang siang, irama gamelan mulai terdengar. Kirab tumpeng pun dimulai.
Arak-arakan berjalan dari Pantai Amera menuju kawasan Jembatan Legon Bajak.
Tumpeng diusung secara khidmat. Diiringi langkah-langkah yang mantap dan tabuhan musik tradisional yang mengalun.
Namun puncak makna tak berhenti di darat. Sekitar 2–3 mil dari bibir pantai, para nelayan telah bersiap dengan perahu mereka.
Di tengah laut, prosesi Sadhana Rumpon dilakukan. Penanaman rumpon sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem bawah laut.
Rumpon yang digunakan bukan sembarang bahan. Ia dirancang ramah lingkungan, menjadi rumah bagi ikan sekaligus simbol bahwa manusia tak hanya mengambil dari laut, tetapi juga memberi kembali.
“Kalau merasa mengambil, ya harus mau menanam. Menjaga kelestarian,” kata Ismoyo, sembari menjelaskan filosofi sederhana yang dipegang masyarakat Kepulauan Karimunjawa.
Tak hanya sarat makna, Festival Sagara juga dikemas meriah dengan berbagai kegiatan hiburan. Di antaranya balap kapal antar nelayan, yang menjadi daya tarik utama bagi warga maupun pengunjung.
Pentas seni juga turut meramaikan. Melibatkan masyarakat setempat.
Memasuki malam, festival belum usai. Sejak pukul 19.00 WIB, panggung seni mulai hidup.
Tari anak-anak Kemujan tampil, disusul berbagai pertunjukan yang menghadirkan wajah budaya pesisir.
Di sela-sela itu, diskusi kembali digelar. Kali ini membahas isu yang lebih aktual. Zona tangkap tradisional 0,3 hingga 12 mil, serta hak-hak nelayan di tengah perubahan zaman.
Festival Sagara bukan hanya pesta. Ia juga ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang menyuarakan kegelisahan.
Warga Kemujan, Bambang Zakaria, menyebut bahwa festival ini dirancang sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Tradisi seperti miyang budaya nelayan, kemampuan membaca alam, kembali diperkenalkan. Bukan untuk nostalgia, tetapi sebagai bekal menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian laut.
“Ini identitas nelayan kita. Bukan sekadar teknik, tapi kearifan yang diwariskan,” sambungnya.
Dengan melibatkan ratusan orang dari berbagai unsur masyarakat dan instansi di Karimunjawa, Festival Sagara menjadi langkah awal yang menjanjikan.
Melengkapi tradisi lain seperti sedekah bumi dan Thothok Terusan hingga To'dok Telok. Acara ini membawa pendekatan yang lebih luas. Merangkul budaya, edukasi, hingga konservasi.
Semangat pelestarian di Pantai Amera terasa belum padam. Festival ini mungkin baru pertama kali digelar, tetapi gaungnya sudah mengarah jauh. Sejauh laut yang mereka jaga.
“Di Kemujan, Festival Sagara bukan sekadar acara. Ia adalah pengingat bahwa hasil laut bukan hanya untuk diambil, melainkan juga untuk dirawat, bersama, lintas generasi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin