KARIMUNJAWA — Warga Desa Kemujan, Karimunjawa, bersiap menggelar Festival Sagara 2026. Agenda ini merupakan kali pertama digelar.
Berbeda dengan Festival Thothok Terusan, yang diadakan setiap musim pancaroba, untuk memanen kerang atau thothok di kawasan hutan mangrove.
Festival Sagara menjadi bagian dari pesta laut. Tahun ini akan dipusatkan di kawasan Pantai Amera pada Kamis (16/4).
Kegiatan dirancang sebagai ruang perayaan budaya, sekaligus edukasi maritim berbasis kearifan lokal masyarakat pesisir dan kepulauan.
Salah satu penggagas kegiatan, Bambang Zakaria, menyampaikan bahwa festival akan berlangsung seharian penuh. Mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Beragam agenda telah disiapkan untuk menyemarakkan kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, salah satu agenda utama ialah Miyang Budaya Nelayan. Tradisi ini menitikberatkan pada kemampuan membaca tanda-tanda alam, sebagai panduan melaut.
Dalam praktiknya, para pengunjung akan diajak kembali memahami navigasi tradisional dengan membaca arah angin, gelombang laut, hingga posisi bintang. Sebagaimana pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh para nelayan.
Pengetahuan ini dulunya, menjadi bekal utama sebelum berkembangnya teknologi modern.
Menurutnya, kemampuan tersebut tetap relevan. Meskipun saat ini telah tersedia informasi cuaca berbasis satelit dari BMKG.
Ia menilai, pengetahuan tradisional merupakan warisan penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan untuk membaca alam praktis tetap dibutuhkan, sebagai upaya ketahanan terhadap iklim.
“Ini menjadi identitas nelayan kita. Membaca alam bukan hanya soal teknik, tapi juga kearifan yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya pada Senin (13/4).
Selain itu, rangkaian acara juga akan diisi dengan kendurenan dan doa bersama. Sebagai bentuk ungkapan syukur serta harapan keselamatan bagi para nelayan saat melaut.
Nuansa budaya semakin terasa melalui kirab serta prosesi Sadhana Rumpon, yang menjadi simbol hubungan erat antara manusia dan laut sebagai sumber kehidupan.
Tak hanya sarat makna, Festival Sagara juga dikemas meriah dengan berbagai kegiatan hiburan.
Di antaranya balap kapal antar nelayan, yang dapat menjadi daya tarik utama bagi pengunjung dan wisatawan.
Kegiatan ini turut dilengkapi dengan diskusi serta berbagai pentas seni. Melibatkan masyarakat setempat. Sehingga menjadi ruang ekspresi sekaligus pelestarian budaya pesisir.
Melalui festival ini, warga Kemujan berharap tradisi maritim tidak hanya terjaga. Akan tetapi juga semakin dikenal luas oleh generasi muda dan wisatawan yang datang ke Karimunjawa.
"Ini dilakukan sebagai bagian dari peringatan Hari Nelayan pada (6/4) lalu. Kami warga Kepulauan di sini, banyak menggantungkan hidup pada laut, sebagai nelayan,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin