Tari Ula-Ula dari Karimunjawa, Kisah Laut yang Menari di Panggung Wilujengan Nagari ke-477 Jepara

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Sabtu, 11 April 2026 | 07:51 WIB
MERIAH: Para penari dari Karimunjawa tengah menampilkan kreasinya.
MERIAH: Para penari dari Karimunjawa tengah menampilkan kreasinya.

JEPARA — Langit malam di Alun-Alun 1 Jepara menjadi saksi. Ketika gerak gemulai para penari Sanggar Tari Jaladri Karimunjawa mulai mengalun. 

Di tengah rangkaian Wilujengan Nagari peringatan Hari Jadi ke-477 Jepara, mereka menghadirkan sebuah kisah dari laut, Tari Ula-Ula.

Berbagai ornamen melekat, dibawa oleh para penari.

Di tangannya, simbol-simbol itu bergerak selaras, membentuk narasi tentang kehidupan masyarakat pesisir.

Tari Ula-Ula sendiri terinspirasi dari keseharian remaja putri Suku Bajo di Sulawesi Tenggara. 

Mereka hidup berdampingan dengan laut. Beraktivitas, belajar, hingga menjaga tradisi. 

Gerakan yang ditampilkan Sanggar Jaladri seolah menuturkan cerita itu. Ringan, dinamis, namun sarat makna.

Keunikan lain tampak pada riasan penari. Bedak beras uyah yang digunakan bukan hanya estetika, tetapi merepresentasikan kearifan lokal sebagai pelindung dari terik matahari saat melaut. 

Detail kecil ini justru memperkuat pesan bahwa budaya lahir dari kebutuhan hidup yang nyata.

Camat Karimunjawa, Nuril Abdillah, melihat penampilan ini lebih dari sekadar hiburan. 

Baginya, Tari Ula-Ula ialah wujud komitmen menjaga warisan budaya. 

Di tengah keberagaman enam suku yang hidup di Karimunjawa, kesenian menjadi jembatan untuk saling mengenal dan menghargai.

Momentum Wilujengan Nagari pun dimaknai sebagai ruang pertemuan budaya. 

Tidak hanya memperingati hari jadi daerah, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat luas. 

Dari pesisir Karimunjawa, cerita itu kini sampai ke jantung kota Jepara.

Di balik gemulai gerakan dan harmoni warna, terselip harapan. 

Generasi muda diharapkan tak hanya menjadi penonton, tetapi juga penerus tradisi. 

Sebab budaya, seperti laut bagi Suku Bajo, adalah sumber kehidupan yang harus terus dijaga.

"Sejalan dengan tema 'Kerja Tulus Wujudkan Jepara yang Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius (Mulus)' penampilan Sanggar Tari Jaladri, menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan sekadar agenda. Melainkan bagian penting dari perjalanan membangun daerah," pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
Hari Jadi ke-477 Jepara tarian karimunjawa suku bajo wilujengan nagari