KARIMUNJAWA — Angin laut berembus lembut menyapa pesisir Desa Kemujan, Karimunjawa pada Sabtu (28/3) pagi.
Sejak pukul 07.00 WIB, satu per satu warga mulai berdatangan ke tepian pantai.
Mereka datang dengan langkah ringan, sembari membawa hidangan. Kupat dan lepet.
Warga salinh sapa, terhadap kerabat serta teman yang lama tak bersua. Setidaknya dalam setahun terakhir.
Hari ini bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa, melainkan penanda berakhirnya rangkaian panjang Idulfitri dengan tradisi 'Bodo Kupat'.
Sekitar 200 warga dari RT 1 hingga RT 4/RW 2 berkumpul di kawasan tepi pantai yang dikenal sebagai “Babagan Ujung Atap.”
Dalam tradisi masyarakat setempat, “babagan” bukan sekadar nama tempat, melainkan identitas sosial.
Nama itu biasa diambil dari tokoh atau sesepuh yang dahulu menetap di wilayah tersebut. Menjadi penanda sejarah, sekaligus pengikat memori kolektif warga.
Momentum ini terasa semakin istimewa karena menjadi titik temu para perantau.
Mereka yang bekerja di luar pulau, yang berumah tangga di kota lain, hingga para pelajar dan santri, pulang dan berkumpul di kampung halaman.
Bodo Kupat menjadi ruang temu, sebelum mereka kembali menjalani rutinitas masing-masing.
Diketahui, mereka akan kembali merantau keesokan harinya, pada Minggu (29/3).
Tepat pukul 08.00 WIB, prosesi dimulai.
Suasana yang semula riuh perlahan menjadi khidmat saat seorang tokoh masyarakat menyampaikan uwar-uwar atau pitutur luhur.
Petuah itu mengingatkan tentang “dhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḫri bimâ kasabat aidin-nâsi liyudzîqahum ba‘dlalladzî ‘amilû la‘allahum yarji‘ûn."
Sebagaimana bunyi dan arti Alquran surat ar-Rum ayat 41. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Tokoh masyarakat Desa Kemujan Sofi'i menyebutkan jika hal itu merujuk larangan merusak alam, khususnya laut yang menjadi sumber kehidupan warga.
"Pesan sederhana namun mendalam, mengambil hasil laut diperbolehkan, tetapi menjaga kelestariannya adalah kewajiban. Tidak boleh merusak," ungkapnya.
Nilai syukur menjadi inti dari tradisi ini. Warga diajak untuk mensyukuri hasil bumi, baik dari daratan maupun lautan.
Dalam setiap butir nasi dan anyaman kupat, tersimpan kesadaran akan berkah yang selama ini menghidupi mereka.
Setelah pitutur disampaikan, doa bersama pun dilantunkan. Tahlil menggema di tepi laut, berpadu dengan debur ombak yang seakan ikut mengamini.
Suasana religius itu menjadi pengikat batin, menguatkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta sekaligus dengan sesama.
Prosesi kemudian beralih ke momen yang paling dinanti, makan bersama.
Kupat dan lepet yang telah disiapkan sejak pagi dibuka dan disantap bersama-sama.
Tidak ada sekat, tidak ada jarak, lesehan. Semua duduk bersila, berbagi hidangan, berbagi cerita.
Kemeriahan berlanjut dengan berbagai lomba tradisional.
Mulai dari lomba azan, membaca sholawat nariyah, hingga permainan sederhana seperti memasang caping, tarik tambang antar-RT, dan lomba kelereng.
Gelak tawa pecah, terutama saat anak-anak dan orang tua berbaur dalam permainan yang sarat kebersamaan.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya berlangsung di Babagan Ujung Atap.
Beberapa kawasan lain seperti Babagan Amera, Babagan Marosa, hingga Pelabuhan Legon Bajak juga menggelar kegiatan serupa.
Setiap babagan memiliki cerita dan tokoh yang menjadi asal-usul namanya, memperkaya identitas sosial masyarakat Kemujan.
"Seperti di Babagan Marosa itu baru diadakan Minggu (29/2) besok, meskipun selamatannya sudah dilakukan. Karena di sana ada banyak warganya, jadi kalau lomba digelar hari ini tidak akan selesai," sebutnya.
Menjelang azan Zuhur, rangkaian kegiatan pun ditutup.
Warga mulai berkemas, sebagian membawa pulang sisa kupat lepet, sebagian lagi masih bercengkerama sejenak sebelum berpisah.
Namun yang mereka bawa pulang bukan sekadar makanan, melainkan rasa syukur, kebersamaan, dan pengingat akan pentingnya menjaga alam.
Di tepian laut Karimunjawa, Bodo Kupat bukan hanya tradisi tahunan.
Namun cara masyarakat merawat ingatan, menyatukan keluarga, dan meneguhkan hubungan manusia dengan alam serta Tuhan. Dalam harmoni yang sederhana namun penuh makna.
"Secara umum kalau di Kemujan sendiri ada banyak suku, Mandar, Bugis, Madura hingga Jawa. Semua membaur, hidup berdampingan, rukun," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin