Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Debu dan Asap AMP Ganggu Warga Kemujan Karimunjawa, 30 Rumah Terdampak Proyek Perbaikan Jalan

Fikri Thoharudin • Senin, 16 Maret 2026 | 17:12 WIB

 

TANPA FILTER: Kondisi AMP yang diduga menjadi sumber debu yang meresahkan warga Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa. (BAMBANG ZAKARYA UNTUK RADAR KUDUS)
TANPA FILTER: Kondisi AMP yang diduga menjadi sumber debu yang meresahkan warga Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa. (BAMBANG ZAKARYA UNTUK RADAR KUDUS)

KARIMUNJAWA — Aktivitas mesin pemasak aspal di kawasan sekitar Bandara Dewadaru, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, dikeluhkan warga setempat. 

Debu pekat dan bau menyengat dari proses tersebut disebut mengganggu kesehatan, serta kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Aktivitas proyek tersebut merupakan bagian dari perbaikan jalan di Kemujan maupun Karimunjawa. 

Keluhan paling banyak datang dari warga RT 5 RW 2 Dusun Kemujan.

Baca Juga: Karimunjawa Dilengkapi Smart Microgrid 5 MW, Perkuat Pasokan Listrik dan Air Bersih untuk Pariwisata

Mereka menyebut debu hitam dari aktivitas produksi aspal kerap masuk ke rumah-rumah warga melalui ventilasi, bahkan menempel hingga ke seprei kasur di kamar.

Terdapat setidaknya 30 rumah yang terdampak. Sebab berdekatan dengan aktivitas tersebut di Asphalt Mixing Plant (AMP) tersebut.

Salah satu warga, Anik Suryati, mengatakan pihaknya terdampak langsung.

Permukiman warga berada sangat dekat dengan lokasi mesin pemasak aspal yang berada di sisi barat permukiman, tepat di area sekitar pagar bandara.

Menurutnya, sejak mesin mulai beroperasi sejak 10 hari terakhir, debu dan asap hitam terus terbawa angin ke arah permukiman, terlebih saat ini masih musim angin baratan. 

Kondisi itu membuat warga merasa tidak nyaman, terutama pada malam hari.

Ia menegaskan, warga sebenarnya tidak menolak pembangunan jalan yang sedang dilakukan di Karimunjawa. 

Namun ia berharap, ada solusi agar dampak debu tidak langsung mengenai permukiman.

“Asapnya menghitam, mau tidur ngepel, bangun tidur ngepel. Kami bukan tidak mau jalannya tidak diperbaiki, hanya meminga solusi agar debu tidak ke sini. Cerobongnya ditinggikan atau dikasih saringan, supaya masyarakat aman,” ungkapnya pada Senin (16/3).

Debu hitam disebut cepat menempel di lantai maupun perabot rumah tangga. Sehingga ia harus menyapu, mengepel, hingga mencuci berkali-kali dalam sehari.

Masyarakat justru mendukung perbaikan infrastruktur tersebut, namun berharap pelaksana proyek memperhatikan dampak lingkungan terhadap permukiman.

Baca Juga: Camat Karimunjawa Buka Suara, Material dari Kapal Tongkang untuk Perbaikan Jalan di Karimunjawa

“Jalan bagus tentu kami senang. Tapi kami juga ingin tetap sehat. Harapannya ada solusi supaya debunya tidak sampai ke rumah warga,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Nur Rokhmawati. Ia mengaku anaknya jadi sering mengalami sesak napas, sejak proyek dan mesin AMP beroperasi. 

Menurutnya, selain debu, bau menyengat dari proses pemasakan aspal juga sangat terasa di lingkungan permukiman. 

Kondisi itu membuat warga merasa terganggu, terutama saat malam hari.

Anakku sesak napas, simbahe juga umat (kambuh) tanpa mandeg (berhenti), disemprot (Ventolim Inhaler) tiga kali gak manjur,” ucapnya.

Seorang lansia yang merupakan warga setempat, Sunipah, bahkan mengaku kesulitan tidur karena kondisi tersebut. 

MENGGANGGU: Warga menunjukkan debu hitam yang menempel di lantai-lantai dan area rumah, yang diusap ditelapak tangannya.
MENGGANGGU: Warga menunjukkan debu hitam yang menempel di lantai-lantai dan area rumah, yang diusap ditelapak tangannya.

Ia mengatakan hampir setiap malam tidak bisa beristirahat dengan nyaman, sejak aktivitas itu berlangsung.

Sewengi ora iso turu,” tanggapnya pada Senin (16/3).

Sebagaimana diketahui, sebelumnya adanya aktivitas AMP tersebut merupakan bagian dari proyek perbaikan jalan di Karimunjawa. 

Material didatangkan menggunakan kapal tongkang, kemudian diangkut dengan truk untuk pekerjaan perbaikan jalan.

Proyek tersebut merupakan bagian dari program Inpres Jalan Daerah (IJD) dengan total panjang periode pertama pekerjaan sekitar 3,3 kilometer, terdiri dari sekitar 2,8 kilometer di Desa Kemujan dan sekitar 500 meter di Pulau Karimunjawa.

Warga berharap proyek tersebut tetap berjalan, namun dengan pengelolaan dampak lingkungan yang lebih baik bagi masyarakat sekitar.

Radar Kudus telah mencoba meminta keterangan kepada petinggi setempat. Namun hingga berita ini terbit, belum mendapatkan balasan.(fik)

Editor : Admin
#debu aspal Karimunjawa #pemasakan aspal Kemujan #debu proyek jalan Karimunjawa #warga Kemujan sesak napas #pencemaran udara Karimunjawa #proyek jalan Desa Kemujan #keluhan warga dekat Bandara Dewadaru #debu hitam proyek aspal Jepara #dampak proyek jalan Karimunjawa #pembangunan jalan Kemujan Karimunjawa #proyek Inpres Jalan Daerah Karimunjawa #warga Karimunjawa terdampak debu #aktivitas mesin aspal Karimunjawa #polusi udara proyek jalan Jepara #keluhan kesehatan warga Kemujan #debu masuk rumah warga Kemujan #dampak lingkungan proyek aspal #pembangunan infrastruktur Karimunjawa #proyek perbaikan jalan Karimunjawa