KARIMUNJAWA — Aktivitas kapal tongkang berukuran besar yang menurunkan material di Pelabuhan Legon Bajak, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, memicu keresahan warga setempat.
Kegiatan bongkar yang berlangsung sejak Rabu-Kamis (4-5/3) hingga tengah malam. Bahkan menjelang sahur.
Dinilai mengganggu ketenangan masyarakat, terutama selama bulan Ramadan.
Aktivis lingkungan Karimunjawa, Bambang Zakaria, mengatakan aktivitas tersebut dipertanyakan oleh masyarakat.
Lantaran berlangsung tanpa pemberitahuan kepada kepala dusun maupun RT setempat.
“Jelas ini untuk kegiatan pembangunan. Tapi masyarakat mempertanyakan karena kegiatan itu terasa mengusik, apalagi di bulan ini. Aktivitasnya sampai tengah malam menjelang sahur,” ujarnya pada Kamis (5/3).
Menurutnya, material aggregat kasar ataupun halus, seperti batuan kricak hingga pasir diturunkan dari tongkang.
Kemudian diangkut menggunakan sekitar 10 unit dump truk. Material tersebut diarahkan menuju kawasan Bandara Dewandaru.
“Ada tongkang skala besar menurunkan muatan. Kemudian diangkut dump truk, arahnya ke dalam kawasan bandara,” katanya.
Ia mengaku baru mengetahui aktivitas tersebut pada Rabu (4/3) sore. Saat itu ia sempat menanyakan informasi kepada warga dan perangkat setempat.
Bambang juga menyayangkan tidak adanya pemberitahuan. Hingga tingkat kepada kepala dusun maupun RT yang wilayahnya dilintasi kendaraan pengangkut material.
“Setelah saya tanya, kepala dusun dan RT setempat juga tidak dipamitin. Padahal ada masyarakat di sini, apapun kegiatannya seharusnya pamit. Jangan seperti masuk rumah tanpa izin,” ujarnya.
Selain persoalan komunikasi, warga juga mengeluhkan kebisingan kendaraan dan debu. Akibat lalu lalang truk pengangkut material pada malam hari.
Ia menegaskan jika kegiatan tersebut memang memiliki izin dari otoritas pelabuhan atau syahbandar, maka secara administrasi tentu sah.
Namun menurutnya, komunikasi dengan masyarakat tetap penting dilakukan.
“Kalau memang ada izin ke syahbandar ya sah saja. Tapi yang tidak ada pamitnya itu ke dusun. Harusnya ada komunikasi dengan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Bambang, apabila sejak awal ada pemberitahuan, warga bahkan bisa dilibatkan dalam kegiatan tersebut, misalnya untuk tenaga kerja bongkar muat atau membersihkan area.
“Kalau pamit, masyarakat juga bisa dilibatkan. Misalnya bekerja membantu atau membersihkan,” katanya.
Ia juga menyebut tongkang tersebut telah meninggalkan Pelabuhan Legon Bajak pada Kamis (5/3) pagi.
Meski demikian, material yang diturunkan tidak semuanya langsung dibawa ke kawasan bandara.
Sebagian material justru ditumpuk sementara di luar pagar pelabuhan, di tepi jalan.
“Tongkang datang Rabu (4/3) pagi. Materialnya tidak langsung dibawa ke bandara, tapi distok dulu di luar pagar pelabuhan,” ucapnya.
Bambang menambahkan, saat ini memang terdapat sejumlah aktivitas pekerjaan di kawasan bandara.
Selain operasional bandara, juga ada kegiatan lain seperti pembuatan aspal menggunakan asphalt mixing plant (AMP).
“Memang ada pekerjaan di dalam kawasan bandara. Ada aktivitas lain seperti pembuatan aspal dengan AMP. Tapi truknya tidak terlihat lalu lalang di dalam,” pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa