Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bergantung Cuaca Laut, Ratusan Warga Karimunjawa Tertahan di Jepara Saat Musim Baratan

M. Khoirul Anwar • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:19 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

JEPARA – Sudah beberapa hari terakhir, sebagian warga Karimunjawa hanya bisa menunggu di Jepara. Mereka tidak bisa kembali ke pulau tempat tinggalnya karena seluruh kapal penyeberangan berhenti beroperasi akibat cuaca buruk.

Sejumlah warga memilih menginap di rumah saudara atau teman, sambil memantau kabar cuaca dan jadwal kapal yang belum juga pasti.

Penghentian layanan penyeberangan terjadi baik dari maupun menuju Karimunjawa.

Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Siginjai tidak beroperasi sejak Rabu hingga Jumat (14–16/1).

Sementara Kapal Express Bahari 8F dan 3C telah off sejak Selasa (13/1). Seluruh layanan dihentikan karena angin musim baratan yang membuat kondisi laut tidak aman untuk pelayaran.

Camat Karimunjawa Nuril Abdillah menyebutkan, hingga Rabu (14/1) terdapat 116 warga yang belum dapat kembali ke Karimunjawa. Rinciannya, 20 warga Desa Kemujan dan 96 warga Desa Karimunjawa.

“Semua penyeberangan off. Baik KMP Siginjai maupun Express Bahari,” ujar Nuril.

Ia mengatakan, hingga kini belum ada kepastian kapan kapal kembali beroperasi. Jadwal penyeberangan sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca di perairan Jepara–Karimunjawa.

“Masih menunggu cuaca yang mendukung,” katanya singkat.

Kepala Bidang Angkutan Laut Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Nur Sahid menjelaskan, penghentian penyeberangan sebenarnya sudah terjadi sejak Jumat (9/1).

Hampir sepekan terakhir, cuaca di wilayah perairan Jepara belum menunjukkan perbaikan signifikan. Kecepatan angin tercatat mencapai 25 knot, dengan tinggi gelombang berkisar 1,25 hingga 2,5 meter.

Kondisi ini menunjukkan betapa mobilitas warga Karimunjawa masih sangat bergantung pada faktor cuaca laut. Saat angin baratan datang, akses keluar-masuk pulau praktis terhenti.

Dampaknya bukan hanya pada perjalanan pribadi, tetapi juga berpengaruh pada aktivitas ekonomi, distribusi logistik, hingga layanan dasar yang mengandalkan transportasi laut.

Menurut prakiraan, musim baratan diperkirakan masih berlangsung hingga Februari mendatang.

“Kalau dilihat, sepertinya ini sudah mendekati akhir baratan. Kapal akan kembali beroperasi kalau cuaca sudah memungkinkan,” ujar Nur Sahid. 



Editor : Mahendra Aditya
#jepara #penyeberangan #kapal #karimunjawa #baratan #tertahan #cuaca