JEPARA - Puluhan bahkan ratusan warga tumplek blek dalam penyelenggaraan Festival Thothok Terusan. Tua, muda hingga anak-anak antusias mengikuti serangkaian acara dari awal hingga akhir.
Agenda Festival Thothok Terusan kembali digelar di Desa Kemujan, Karimunjawa. Agenda ini sebagai ruang bertemunya tradisi, dan pariwisata berbasis budaya.
Sejak Sabtu (1/11) pagi, warga memulai dengan doa bersama, kemudian mengolesi wajah dengan pupuran (bedak) racikan alami sebagai pelindung dari panas matahari. Kemudian sarapan bersama sebelum beranjak ke lokasi terusan.
Setelah itu, peserta bergegas ke padang lamun, melakukan tracking mangrove dan menuju ke terusan untuk mencari thothok atau kerang.
Suasana penuh semangat, karena bukan sekadar lomba mencari thothok terbesar atau terbanyak, tetapi juga ritual budaya yang menandai pergantian musim dan menjadi pengetahuan ekologis tradisional masyarakat pesisir.
Salah satu sesepuh penggagas Thothok Terusan, Moh Sofi’i, menjelaskan bahwa tradisi ini telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur Kemujan.
"Warga kami meyakini thothok muncul di musim pancaroba, saat air laut pasang-surut maksimal di siang hari. Ini jadi penanda alam, bahwa musim kemarau segera berganti penghujan. Akan memasuki masa Baratan yang biasanya sering disertai ombak tinggi, sehingga kami perlu bersiap-siap," ujarnya.
Dalam pandangan masyarakat, pancaroba bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan navigasi alam. Sebagai cara membaca waktu, arah, dan perubahan melalui tanda-tanda lingkungan.
Tradisi inilah yang ingin mereka hidupkan kembali agar generasi muda teredukasi, tidak tercerabut dari akar ekologinya.
"Kami ingin mengaktivasi pengetahuan tradisional ini agar menjadi edukasi, petualangan, dan konservasi. Alam adalah sekolah, pesisir adalah ruang belajar bagi masyarakat kami," imbuhnya.
Festival diadakan secara meriah sejak 2023 ini, berpuncak pada penyerahan hadiah dan pertunjukan seni pada Sabtu (1/11) malam, menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Diharapkan, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan sadar lingkungan dan pariwisata berbasis budaya yang menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan leluhur.
"Kami ingin Kemujan, Karimunjawa, menjadi global village, desa yang dikenal dunia karena kearifan lokal dan tradisinya, bukan hanya karena keindahan alamnya," ringkasnya.
Petinggi Desa Kemujan, Masud Dwi Wijayanto, menegaskan bahwa pemerintah desa terus mendukung pemberdayaan masyarakat melalui festival Thothok Terusan.
"Sejak 2023, kegiatan ini rutin kami gelar dan menjadi bagian dari upaya memperkuat Desa Kemujan sebagai desa wisata berbasis budaya dan alam," jelasnya.
Ia menyebut, potensi wisata Kemujan sangat besar, baik di sektor pemberdayaan nelayan, produk olahan laut, maupun kegiatan Pokdarwis yang mulai mengemas paket-paket wisata edukatif.
"Kami ingin wisatawan datang tidak hanya menikmati pemandangan, tapi juga belajar tentang kearifan lokal dan kehidupan nelayan," tambahnya.
Bagi warga seperti Nurkayati, 47, tradisi mencari thothok juga dapat menambah nilai ekonomi.
"Kalau musimnya pas, bisa dapat 20 kilogram dalam sehari. Kalau sudah matang dijual Rp50 ribu per kilo. Biasanya dibuat sate," ujarnya.
Ia berharap festival ini terus berlanjut agar warga bisa mendapat tambahan penghasilan, sekaligus menjaga kebersamaan. "Bagus kalau ada lomba begini, ramai, bisa jualan juga," ujarnya.
Dari sisi konservasi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kemujan, Endarto, menyatakan bahwa tradisi ini barangkali telah berlangsung jauh sebelum penetapan kawasan taman nasional.
Balai Taman Nasional memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap melaksanakan kegiatan budaya, selama dilakukan secara lestari dan terarah.
"Di Terusan Kemujan ada 18 jenis thothok, kalau makin banyak jenis thothok, berarti kondisi ekosistem masih bagus. Ini indikator alam yang sehat. Sementara itu hanya lima yang dilombakan. Artinya, keanekaragaman hayati masih terjaga," ujarnya.
Ia menjelaskan, festival ini menjadi bukti bahwa konservasi dan budaya bisa berjalan beriringan. Selain menjaga ekosistem pesisir, kegiatan ini juga menarik wisatawan dan memperkuat identitas lokal.
Pihak Taman Nasional juga berencana memperbaiki jalur tracking mangrove dan pos pengawasan di Parang dan Kemujan agar wisata edukatif dapat terus berkembang dengan aman.
"Untuk tahun depan akan diusahakan untuk dua bangunan. Pos di Parang dan Tracking Mangrove Kemujan, kami juga akan mengusahakan melalui CSR. Semoga ada yang berkenan untuk membantu untuk pemeliharaan," sebutnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya