Jumat Berangkat di Gereja-Masjid Tempur, Pemda Jepara ‘Diwaduli’ Sarpras hingga Kesejahteraan Marbot

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 21:12 WIB
HARMONIS: Wabup Jepara M. Ibnu Hajar bersama jajaran perwakilan Forkopimda bersilaturahmi dengan para umat di Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) yang berhadapan dengan Masjid Nurul Hikmah di Dukuh Pekoso, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jumat (9/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
HARMONIS: Wabup Jepara M. Ibnu Hajar bersama jajaran perwakilan Forkopimda bersilaturahmi dengan para umat di Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) yang berhadapan dengan Masjid Nurul Hikmah di Dukuh Pekoso, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jumat (9/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

KELING — Angin gunung bertiup sejuk di lereng Pegunungan Muria. 

Namun kehangatan mendalam justru terasa di sela-sela bangunan Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Tempur dan Masjid Nurul Hikmah yang berdiri saling berhadapan di Dukuh Pekoso, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara. 

Di tempat yang menjadi simbol nasional kerukunan umat beragama ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara kembali hadir menyapa warga. 

Melalui program unggulan Jumat Bertemu dengan Masyarakat atau Jumat Berangkat.

Kehadiran Wakil Bupati Jepara, M. Ibnu Hajar (Gus Hajar), bersama Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Jepara, Akhsan Muhyiddin, disambut hangat oleh perwakilan jemaat lintas iman. 

Momen ini tidak sekadar menjadi kunjungan formal birokrasi, melainkan ruang terbuka bagi warga untuk diwaduli secara langsung terkait kebutuhan wilayah mereka. 

Mulai dari perbaikan sarana prasarana (sarpras) rumah ibadah, hingga nasib kesejahteraan para marbot masjid di desa setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Mikael Sagimin, Pendeta Damarwulan yang hadir mewakili Pendeta GITJ Tempur, Suwadi, mengurai kembali memori perjalanan panjang jemaat Kristen di wilayah pelosok Jepara ini.

Ia mengisahkan bahwa cikal bakal tempat sembahyang jemaat di tempat ini terekam sejak 2 Desember 1984. 

Kala itu, sebagian besar warga memilih ikut menyukseskan program transmigrasi dari pemerintah, demi merajut masa depan baru. 

Perjalanan waktu kemudian menyisakan riwayat pasang surut jemaat.

"Saat ini, tercatat setidaknya 11 KK dengan total 35 jiwa jemaat GITJ yang bertahan di sini. Beberapa di antaranya menyebar di sejumlah wilayah lain karena alasan merantau dan tuntutan pekerjaan," ungkapnya.

HARMONIS: Wabup Jepara M. Ibnu Hajar bersama jajaran perwakilan Forkopimda bersilaturahmi dengan para umat di Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) yang berhadapan dengan Masjid Nurul Hikmah di Dukuh Pekoso, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jumat (9/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
HARMONIS: Wabup Jepara M. Ibnu Hajar bersama jajaran perwakilan Forkopimda bersilaturahmi dengan para umat di Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) yang berhadapan dengan Masjid Nurul Hikmah di Dukuh Pekoso, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jumat (9/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Kendati jumlah umat Kristiani di desa ini tergolong minoritas, Mikael menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kehadiran Wabup dan jajaran Kemenag Jepara. 

Kehadiran jajaran pejabat daerah ini dinilai kian mengukuhkan fondasi kerukunan, yang selama ini sudah mengakar kuat di Desa Tempur.

"Kami tidak pernah merasa sendirian di sini. Kami senantiasa dibantu dalam banyak hal oleh saudara-saudara kami yang Muslim. Bahkan dalam kegiatan hari besar beragama, baik itu Natal, Paskah, hingga urusan sosial bermasyarakat seperti saat ada umat GITJ Desa Tempur yang meninggal dunia, semua bergotong royong membantu," terangnya.

Mendengar penuturan tersebut, Wakil Bupati Jepara, M. Ibnu Hajar, merasa bangga atas keteguhan warga dalam menjaga toleransi. 

Menurut Gus Hajar, kerukunan otentik yang tampak di Desa Tempur bukan sekadar pemandangan buatan, melainkan cerminan mengapa Indonesia diakui di mata dunia.

Ia memaparkan bahwa Indeks Harmoni Indonesia saat ini berada di peringkat nomor 3 secara nasional, dan menempati posisi nomor 1 di tingkat Provinsi Jawa Tengah. 

Capaian luar biasa ini tak lepas dari tingginya sumbangsih nilai moderasi dan toleransi beragama, yang dipraktikkan langsung oleh warga di tingkat desa, seperti di Tempur.

Program 'Jumat Berangkat' sendiri, lanjutnya, dirancang sebagai wujud nyata dari komitmen mewujudkan visi Jepara Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius (Mulus).

"Nilai religius dalam visi kami harus merangkul semua. Pemeluk agama apa pun harus merasa diayomi dan dilibatkan secara adil tanpa ada sekat pemisah," tegasnya

Senada dengan Wakil Bupati, Kepala Kankemenag Kabupaten Jepara, Akhsan Muhyiddin, menambahkan bahwa potret kebersamaan masjid dan gereja yang berhadapan di Tempur ini sudah menjadi buah bibir nasional.

Lanskap sosial keagamaan di desa ini merupakan prototipe hidup, sekaligus percontohan nasional dalam pengembangan serta penataan hubungan antarumat beragama di Indonesia.

"Harmoni yang indah ini harus terus dirawat. Caranya, kami sebagai pimpinan harus rajin dan rutin turun ke bawah untuk berkunjung. Dengan begitu, semuanya akan merasa terayomi dengan setara," sambungnya.

Akhsan menekankan pentingnya pola komunikasi humanis dalam menyerap keluhan warga yang masuk. 

Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mengafirmasi hak seluruh umat, Kankemenag Jepara memastikan bahwa kebijakan anggaran dan kesejahteraan kini semakin inklusif. 

Pada tahun anggaran berjalan ini, perhatian luar biasa diberikan dalam bentuk pemberian insentif kepada para guru keagamaan, yang tidak hanya menyasar guru agama Islam saja. 

Melainkan juga menyentuh para guru agama Katolik, Kristen, Hindu, hingga Buddha di seluruh penjuru Jepara.

Rangkaian acara 'Jumat Berangkat' ini ditutup dengan pencatatan beberapa aspirasi krusial.

Terkait bantuan revitalisasi fasilitas tempat ibadah, serta penguatan insentif marbot yang akan ditindaklanjuti secara bertahap.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Gereja Tempur Masjid Tempur Tempur harmonis kabupaten jepara toleransi