Kampanyekan Cap Canting Ramah Lingkungan, Tingkatkan Kreativitas Membatik Berbasis Potensi Lokal

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 17:45 WIB
ORBITKAN TREND: Para seniman dan perajin mengikuti workshop cap canting dari limbah kertas kemasan pada Rabu (7/10). (JALADARA UNTUK RADAR KUDUS)
ORBITKAN TREND: Para seniman dan perajin mengikuti workshop cap canting dari limbah kertas kemasan pada Rabu (7/10). (JALADARA UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Batik bukan sekadar motif, bukan pula sekadar teknik. Namun membatik menjadi kulminasi dari berbagai proses kreatif yang sarat makna.

Di balik setiap proses tersebut, menyimpan ihwal soal potensi lokal dan keberlanjutan.

Semangat itulah yang dimunculkan oleh Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kabupaten Jepara bersama Jaladara Collectiva.

Hal itu diwujudkan dengan menggelar workshop cap canting dari limbah kertas kemasan pada Rabu (7/10). 

Workshop yang dihelat di Kadjine Cofee ini, sengaja mengusung tema ramah lingkungan berbasis kearifan lokal. 

Acara diikuti oleh setidaknya 30 peserta. Didampingi langsung oleh Nurrohamad yang merupakan seniman dan penggiat batik. 

RAMAH LINGKUNGAN: Para peserta menunjukkan berbagai cap cantingnya yang digubah dari limbah kertas.
RAMAH LINGKUNGAN: Para peserta menunjukkan berbagai cap cantingnya yang digubah dari limbah kertas.

Para peserta pelatihan terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pembatik Kendeng Pati, ibu-ibu penatah ukir Jepara, Lingkar Karas Kolektif Muda Demak, dan lainnya. 

Ketua KEK Jepara, Noky Rizky Samudra, menyampaikan limbah kertas kemasan yang selama ini sering dianggap tidak bernilai, dapat diolah menjadi canting cap. 

Hal itu disulap menjadi barang multiguna, bernilai seni, nilai budaya, sekaligus nilai ekonomi.

"Ini yang menurut kami penting. Ekonomi kreatif jangan hanya berbicara tentang produk yang bagus, tetapi juga bagaimana kita dapat menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat," ungkapnya. 

Workshop kali ini, sambungnya, menjadi momen untuk menunjukkan bahwa ekonomi kreatif dapat lahir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar. 

"Kami di Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Jepara ingin mendorong semakin banyak ruang kolaborasi seperti ini. Karena ekosistem ekonomi kreatif tidak bisa dibangun oleh pemerintah atau satu komunitas saja. Harus ada kolaborasi antara pelaku kreatif, komunitas, UMKM, dunia usaha, akademisi, pemerintah, dan tentunya masyarakat," sebutnya. 

SARAT MAKNA: Para peserta workshop menunjukkan berbagai hasil kreasinya.
SARAT MAKNA: Para peserta workshop menunjukkan berbagai hasil kreasinya.

Dirinya berharap agar para peserta dapat mengembangkan teknik dan hasil karyanya menjadi produk yang lebih bernilai. Telebih dapat dipasarkan, dan bahkan menjadi salah satu ciri khas baru dari industri kreatif Jepara.

"Ketika kearifan lokal bertemu dengan kreativitas dan inovasi, di situlah ekonomi kreatif Jepara punya masa depan yang sangat besar," imbuhnya. 

Pada saat yang sama, perwakilan panitia, Anis Machfudoh menuturkan bahwa workshop ini sengaja menyasar untuk warga umum. Alih-alih orang yang telah berkecimpung di dunia batik. 

"Karena sifat batik canting cap ini kan buat kreativitas menciptakan motif sendiri. Apalagi pemateri sengaja mengajak peserta mengenal weton hari lahir sendiri, lalu memberikan beberapa simbol alam yang lekat dengan hari lahirnya. Sangat personal namun juga mampu membawa peserta mengenal diri, dengan memaknai sendiri simbol gambar yang dibuat berdasarkan weton," jelasnya. 

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Jepara Bidang Ekonomi dan Keuangan, Farikhah Elida, menerangkan bahwa limbah bukan menjadi sampah yang harus dibuang. Namun dapat dimanfaatkan untuk memutar ekonomi sirkular. 

Ia menambahkan, bahwa hasil canting cap dengan pemasaran yang bagus dapat berdampak baik pula pada perekonomian. 

 "Jadi diharapkan setelah pelatihan harus dilanjutkan dengan pemasaran. Di mana dari Dinas Pariwisata dapat memonitoring, agar kegiatan itu bermanfaat dan pemasarannya berjalan dengan baik," katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Edy Marwoto, turut mengapresiasi penyelenggara serta peserta yang mengikuti kegiatan workshop. 

Ia menyebut, workshop kali ini dapat mencipta dan mengkreasi hasil batik yang luar biasa. Sara nilai budaya, sosial dan ekonomi. 

"Harapannya kegiatan ini diinisiasi kembali oleh KEK atau komunitas yang lain untuk Jepara, agar masyarakat lebih berdaya," sambungnya. 

Salah satu peserta dari Kolektif Lingkar Karas, Rian (30), juga mengatakan bahwa baru kali pertama mengikuti gelaran workshop yang memberi kesan dan pengalaman mendalam.

"Acaranya seru sekali. Ini pertama kali saya mencoba bikin cap buat batik, nyelup-nyelup pewarna alam. Ternyata tidak terlalu sulit, cuma butuh kesabaran saja buat bikin gambar sama bikin capnnya. Kalau ada pelatihan gini lagi kepengin ikut," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Batik ramah lingkungan cap canting limbah kertas dimanfaatkan jadi cap canting batik jepara potensi lokal