KARIMUNJAWA — Ketua DPRD Kabupaten Jepara Agus Sutisna melakukan kunjungan kerja ke Karimunjawa, Senin-Selasa (6-7/10). Dalam kunjungan tersebut, Agus memantau sejumlah fasilitas publik sekaligus menyerap aspirasi masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, kondisi nelayan, UMKM, hingga pengelolaan aset pariwisata milik pemerintah daerah.
Kunjungan dilakukan dengan mendatangi langsung sejumlah lokasi. Agus menjadi pembina upacara di SMPN 1 Karimunjawa, memonitor kondisi Puskesmas Karimunjawa, meninjau tambatan kapal nelayan di Dukuh Nyamplungan, serta bertemu dengan masyarakat untuk menyerap berbagai persoalan yang dihadapi warga kepulauan.
Selain itu, Agus juga melihat kondisi Hotel Bukit Jatikerep yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Jepara. Ia bermalam di hotel tersebut untuk melihat langsung fasilitas dan pelayanan dari perspektif tamu.
Beri Motivasi Siswa SMPN 1 Karimunjawa
Saat menjadi pembina upacara di SMPN 1 Karimunjawa, Agus meminta para siswa tidak minder dengan kondisi geografis sebagai anak kepulauan.
Ia mendorong pelajar Karimunjawa berani bermimpi dan memiliki kepercayaan diri untuk membawa nama daerah hingga tingkat nasional maupun internasional.
Agus juga mengingatkan pentingnya mengenal sejarah, budaya, dan potensi daerah sendiri.
“Anak-anak Karimunjawa harus tahu siapa leluhur kita, bagaimana sejarah Karimunjawa, dan apa yang kita miliki. Jangan sampai kita tinggal di tempat yang luar biasa, tetapi tidak mengenal sejarah dan potensi daerah sendiri,” kata Agus.
Untuk mencairkan suasana, Agus memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa terkait Jepara dan Karimunjawa. Siswa yang mampu menjawab mendapatkan uang pembinaan.
Menurut Agus, pemberian tersebut bukan semata-mata soal nilai uang, melainkan untuk mendorong keberanian siswa tampil dan menjawab pertanyaan.
“Ini bukan soal nilainya, tetapi bagaimana kalian berani menjawab, berani tampil, dan mau belajar. Anak-anak harus punya keberanian untuk bermimpi besar,” ujarnya.
Setelah upacara, Agus memonitor sarana dan prasarana SMPN 1 Karimunjawa. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi pagar sekolah yang mulai rawan, terutama ketika musim hujan karena tanah di sekitar pagar berpotensi tergerus.
Agus menyatakan akan mendorong perbaikan dan perawatan fasilitas sekolah tersebut.
Puskesmas Karimunjawa Butuh Perawatan
Dari sektor pendidikan, Agus melanjutkan monitoring ke Puskesmas Karimunjawa.
Ia melihat langsung kondisi fasilitas sekaligus pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, Agus juga menyempatkan berbincang dengan pasien yang sedang menjalani perawatan.
Salah satunya Sholihan, 63, warga Karimunjawa. Kepada Agus, ia menyampaikan bahwa pelayanan yang diterimanya cukup baik.
“Alhamdulillah pelayanannya cukup bagus, Pak. Ini tinggal minum obat dan semoga diberi kesembuhan,” ujar Sholihan.
Meski pelayanan dinilai cukup baik, Agus menemukan sejumlah fasilitas yang mulai mengalami kerusakan dan membutuhkan perawatan. Di antaranya lantai pada beberapa bagian, kipas angin, serta fasilitas sanitasi.
Menurut Agus, perawatan fasilitas tidak semestinya menunggu kerusakan menjadi parah. Kondisi sarana kesehatan harus dijaga agar pasien dan tenaga kesehatan tetap mendapatkan lingkungan yang nyaman.
“Fasilitas yang sudah mulai rusak harus menjadi perhatian. Bukan hanya diperbaiki ketika kerusakannya sudah parah, tetapi harus dirawat secara berkala supaya pelayanan kepada masyarakat tetap optimal,” katanya.
Agus menilai keberadaan Puskesmas Karimunjawa sangat penting karena masyarakat kepulauan memiliki tantangan geografis ketika membutuhkan pelayanan kesehatan lanjutan di Jepara daratan.
Tambatan Kapal Nelayan Masih Mengandalkan Kayu
Persoalan lain ditemukan Agus saat meninjau tambatan kapal nelayan di Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa.
Di lokasi tersebut, kapal-kapal nelayan masih ditambatkan menggunakan kayu yang disediakan secara swadaya masyarakat. Kayu tersebut harus diganti secara berkala karena tidak bertahan lama menghadapi air laut dan aktivitas kapal.
Kondisi itu menjadi perhatian karena sekitar 70 persen mata pencaharian masyarakat di wilayah tersebut merupakan nelayan.
“Ini bukan sekadar soal tambatan kapal. Ini menyangkut bagaimana nelayan bisa menyimpan dan menyandarkan kapalnya dengan aman, kemudian kembali melaut untuk menghidupi keluarganya,” ujar Agus.
Ia mendorong agar tambatan kapal dapat dibangun secara permanen dengan konstruksi yang lebih kuat dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Kajat, 55, warga Dukuh Nyamplungan, mengatakan tambatan kapal sangat dibutuhkan nelayan.
“Penting sekali, Mas. Kalau ada tambatan yang bagus, kapal lebih mudah bersandar. Sekarang masih pakai kayu seadanya, jadi memang harus sering diganti,” katanya.
Agus menyatakan persoalan tersebut akan menjadi bahan perhatian dan pembahasan lebih lanjut.
Warga Sampaikan Persoalan Pendidikan hingga Pariwisata
Dalam pertemuan dengan warga di Hotel Bukit Jatikerep, Agus juga menyerap berbagai aspirasi masyarakat.
Persoalan yang disampaikan tidak hanya terkait fasilitas publik, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat. Warga menyampaikan keterbatasan layanan kesehatan, kebutuhan peningkatan fasilitas pendidikan, hingga tantangan ekonomi ketika musim baratan datang.
Sebagai kawasan yang mengandalkan sektor pariwisata, kondisi cuaca turut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika musim baratan membuat kondisi laut kurang bersahabat, aktivitas wisata dapat menurun dan berdampak pada pendapatan pelaku usaha.
“Kalau masyarakat menyampaikan persoalan, tugas kita bukan hanya mencatat. Kita harus turun dan melihat apakah yang disampaikan itu memang terjadi di lapangan,” kata Agus.
Karena itu, sejumlah persoalan yang disampaikan warga kemudian dicek langsung melalui kunjungan ke sekolah, puskesmas, lokasi nelayan, hingga sektor usaha dan pariwisata.
Menurut Agus, persoalan di Karimunjawa saling berkaitan. Pendidikan, kesehatan, nelayan, UMKM, dan pariwisata membutuhkan perhatian secara bersamaan.
Hotel Bukit Jatikerep Dinilai Punya Potensi
Agus juga meninjau Hotel Bukit Jatikerep, aset milik Pemerintah Kabupaten Jepara.
Ia memilih bermalam di hotel tersebut untuk melihat langsung fasilitas dan pengalaman yang diterima tamu.
Menurut Agus, hotel tersebut memiliki sejumlah modal untuk dikembangkan. Kamar dinilai luas, seluruhnya berada pada kelas deluxe, fasilitas cukup lengkap, serta memiliki pemandangan yang menghadap pantai.
Namun, ia menilai penataan dan perawatan lingkungan sekitar hotel masih perlu diperbaiki.
“Kalau melihat kamarnya, luas, kelasnya sudah deluxe, fasilitasnya juga cukup lengkap. Dan yang paling penting, view-nya langsung menghadap pantai. Ini sebenarnya modal yang luar biasa,” ujarnya.
Agus juga menyoroti keberadaan kera ekor panjang yang kerap masuk ke sekitar kawasan hotel.
Menurutnya, satwa tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai gangguan. Dengan penataan yang tepat, keberadaan kera ekor panjang dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata berbasis konservasi.
Ia mendorong adanya titik atau kawasan khusus sehingga satwa tetap memiliki habitat, sementara wisatawan dapat melihatnya dengan aman.
Aspirasi Dibawa ke DPRD Jepara
Agus menegaskan berbagai temuan selama kunjungan ke Karimunjawa akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut bersama pemerintah daerah.
Menurutnya, kunjungan lapangan harus menghasilkan tindak lanjut. Aspirasi masyarakat tidak cukup hanya dicatat, tetapi perlu dilihat kewenangannya dan dicarikan solusi sesuai kemampuan daerah.
“Ini yang saya bawa pulang ke Jepara. Bukan sekadar oleh-oleh cerita, tetapi persoalan nyata yang kita lihat sendiri. Nanti kita bahas bersama eksekutif, mana yang menjadi kewenangan pemerintah daerah dan mana yang membutuhkan langkah lebih lanjut,” tegas Agus.
Ia menilai pembangunan Karimunjawa tidak dapat hanya dilihat dari potensi pariwisata. Masyarakat yang tinggal dan menggantungkan kehidupan di kepulauan tersebut juga harus mendapatkan perhatian.
“Karimunjawa bukan hanya destinasi wisata. Ini rumah bagi masyarakat. Kalau kita ingin Karimunjawa semakin maju, maka masyarakatnya juga harus merasakan kemajuan itu,” pungkasnya.
Editor : M. Khoirul Anwar