Stroke Jadi Penyakit Rawat Inap Terbanyak di RSUD RA Kartini Jepara, Capai 620 Kasus

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:29 WIB
Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara, dr. Teguh Wibowo, Sp.S. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara, dr. Teguh Wibowo, Sp.S. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Stroke menjadi salah satu persoalan kesehatan yang paling banyak mengisi ruang rawat inap RSUD R.A. Kartini Jepara. 

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, penyakit akibat gangguan aliran darah ke otak itu ini tercatat sebagai diagnosis rawat inap tertinggi dengan 620 kasus.

Di balik tingginya angka stroke tersebut, beban pelayanan rumah sakit juga diisi penyakit kronis lain. 

Diabetes dan hipertensi muncul berulang dalam daftar 10 besar.

Sedangkan penyakit infeksi seperti dengue fever dan gastroenteritis turut menyumbang angka perawatan. 

Data tersebut menunjukkan beban rumah sakit tidak hanya berasal dari penyakit akut, namun juga penyakit tidak menular yang membutuhkan perawatan berkelanjutan.

Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara, dr. Teguh Wibowo, Sp.S, mengatakan berdasarkan data Januari-Agustus 2026, cerebral infarction atau infark serebral menempati posisi pertama penyakit rawat inap.

Dari 620 kasus, sebanyak 303 pasien merupakan laki-laki dan 317 perempuan.

"Stroke menjadi penyakit rawat inap tertinggi, mencapai 620 kasus," ucapnya.

Posisi kedua ditempati dengue fever dengan 530 kasus, terdiri atas 255 laki-laki dan 275 perempuan.

Berikutnya adalah diabetes melitus tipe 2 tanpa komplikasi dengan 414 kasus. 

Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pasien laki-laki, yakni 274 kasus, dibandingkan 140 kasus perempuan.

Penyakit ginjal yang berkaitan dengan hipertensi dan disertai gagal ginjal juga masuk tiga besar berikutnya. 

Hypertensive renal disease with renal failure tercatat sebanyak 361 kasus, dengan 189 pasien laki-laki dan 172 perempuan.

Sementara itu, gastroenteritis dan kolitis yang tidak spesifik mencapai 310 kasus. Kasus tersebut terdiri atas 187 laki-laki dan 123 perempuan.

Lalu diabetes melitus 277 kasus. Hipertensi esensial/primer, 270 kasus. Dispepsia, 261 kasus. Cedera superfisial pada kepala 248 kasus dan Bronkopneumonia tidak spesifik 237 kasus.

Hal ini dapat diperhatikan, bahwa penyakit metabolik dan kardiovaskular memiliki porsi besar dalam beban rawat inap RSUD RA Kartini.

Berdampingan dengan penyakit infeksi seperti dengue fever dan gastroenteritis.

Di sisi lain rawat jalan didominasi penyakit kronis.

Berdasarkan tabel 10 besar penyakit rawat jalan RSUD RA Kartini Kabupaten Jepara Tahun 2025 yang ditampilkan, penyakit jantung iskemik kronis menjadi diagnosis terbanyak dengan 10.497 kasus.

Posisi kedua ditempati hipertensi primer sebanyak 9.983 kasus. Selanjutnya gonartrosis atau gangguan pada sendi lutut mencapai 7.363 kasus, disusul gagal jantung kongestif sebanyak 7.024 kasus.

Penyakit kronis lain juga mendominasi daftar tersebut.

Skizofrenia paranoid tercatat 6.668 kasus, sedangkan penyakit jantung hipertensif tanpa gagal jantung mencapai 4.774 kasus.

Lalu, penyakit jantung dan ginjal hipertensif dengan gagal jantung, 4.398 kasus.

Gangguan pergeseran diskus intervertebralis, 4.301 kasus. Polineuropati diabetik 4.298 kasus serta gejala sisa stroke, 3.528 kasus.

RSUD RA Kartini juga tengah merencanakan penambahan lima kamar operasi. 

Hal itu berkaitan dengan bertambahnya layanan dan kebutuhan sejumlah dokter spesialis, termasuk bedah saraf, bedah urologi, kandungan dan mata.

"Kami akan terus melakukan inventarisasi. Ketika kejadian ini tidak hanya menjadi fenomena, akan kami penuhi (fasilitas, red)," sebutnya.

Menurut dr. Teguh, penambahan kapasitas tidak hanya berkaitan dengan bangunan dan ruangan.

Rumah sakit juga harus menyiapkan tenaga kesehatan dan anggaran agar peningkatan layanan dapat dipertahankan.

"Yang utama kami menaikkan kualitas. Kami juga berpikir menyiapkan penambahan tenaga, kapasitas ruangan. Semoga kami dapat melampaui pendapatan dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan tadi. Semua membutuhkan anggaran, tapi kami bekerja keras," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
bedah saraf Bedah urologi kadungan dan mata penyakit stroke mendominasi rsud ra kartini