Bukan Influenza A, Ini Penyebab IGD RSUD RA Kartini Jepara Padat Sejak September

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:27 WIB
DARURAT: Layanan di IGD RSUD R.A. Kartini Jepara penuh sejak bulan September lalu. Arus masuk pasien di area IGD masih tampak padat pada Selasa (6/10) siang. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
DARURAT: Layanan di IGD RSUD R.A. Kartini Jepara penuh sejak bulan September lalu. Arus masuk pasien di area IGD masih tampak padat pada Selasa (6/10) siang. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

JEPARA — Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD R.A. Kartini Jepara belakangan tak banyak menyisakan ruang kosong. 

Sejak awal September, arus pasien yang datang terus meningkat. Hal ini membuat kapasitas layanan IGD nyaris penuh setiap hari.

Kedatangan pasien terpantau cukup padat hingga Selasa (6/10). Pasien anak-anak, dewasa hingga lansia menjadi pemandangan yang berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut bahkan membuat rumah sakit harus memanfaatkan ruang intermediate care, ruang transit hingga ruang tindakan sebagai tempat sementara pasien. 

Kendati demikian, Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD R.A. Kartini Jepara, dr. Teguh Wibowo, Sp.S menegaskan, peningkatan kunjungan itu tidak menunjukkan pola yang secara spesifik mengarah pada Influenza A. 

Justru, berdasarkan pemantauan kasus, stroke menjadi salah satu diagnosis yang paling dominan.

"Jadi memang mulai awal September tren IGD ini penuh. Hal itu dilihat dari kunjungan pasien dari bulan ke bulan. Dimulai awal September sampai sekarang itu terjadi kenaikan," tuturnya, pada Selasa (6/10).

Berdasarkan laporan harian SIMRS GOS, rata-rata kunjungan IGD pada September mencapai 95 pasien per hari, baik pasien yang menjalani rawat jalan maupun rawat inap. 

Dari jumlah ini, rata-rata pasien yang dirujuk untuk menjalani rawat inap mencapai 69 pasien per hari.

Sementara itu, kunjungan rawat jalan juga menunjukkan angka tinggi. 

Pada periode 28 September hingga 1 Oktober, rata-rata kunjungan rawat jalan mencapai 968 pasien per hari. Hal ini didasarkan pada data TXT SIMRS.

PADAT: Kondisi IGD RSUD R.A. Kartini Jepara yang tampak ramai pada Selasa (6/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
PADAT: Kondisi IGD RSUD R.A. Kartini Jepara yang tampak ramai pada Selasa (6/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Di samping itu, dr. Teguh menyampaikan peningkatan tersebut cukup berbeda dibanding pola yang selama ini biasa terjadi. 

Sebab, lonjakan kunjungan rumah sakit umumnya berkaitan dengan musim penyakit tertentu, terutama saat musim hujan.

"Sebetulnya ini belum musim pandemi, demam berdarah atau apa. Sehingga kami pun bertanya-tanya kenapa kok naik terus," gumamnya.

Rumah sakit kemudian melakukan pemantauan terhadap 10 kasus dengan jumlah kunjungan tertinggi. 

Dari pemantauan tersebut, stroke menjadi salah satu kasus yang paling banyak ditangani.

Selain stroke, kasus dengue fever juga cukup tinggi. Pihaknya menegaskan dengue fever tidak serta-merta identik dengan kondisi DBD berat.

Menurutnya, pasien dengan dengue fever umumnya mengalami demam tinggi yang dapat mencapai sekitar 40 derajat Celsius. 

Pada sebagian kasus juga terjadi penurunan trombosit. Namun, kondisi tersebut belum tentu berkembang menjadi manifestasi perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, bercak merah pada kulit maupun penurunan kesadaran.

Lebih lanjut dijelaskan, dr. Teguh juga mencermati informasi mengenai peningkatan kasus Influenza A di sejumlah daerah, termasuk Bandung dan Jakarta.

Namun, hasil pemantauan internal RSUD RA Kartini belum menunjukkan adanya pola yang mengarah pada lonjakan Influenza A. 

"Kami juga sudah mengonfirmasi dengan kepala bagian anak, dr. Fenty Karuniawati. Memang banyak demam. Tapi tidak secara spesifik ke arah Influenza A," terangnya.

Menurutnya, jika terjadi lonjakan Influenza A yang signifikan, salah satu indikator yang dapat terlihat ialah meningkatnya kasus pneumonia berat. Namun, kondisi tersebut belum terlihat di RSUD RA Kartini.

"Tidak terdapat kenaikan lonjakan karena pneumonia berat. Sampai saat ini tidak mengarah pada Influenza A," tegasnya.

Peningkatan kunjungan juga tidak hanya terjadi pada pasien anak. Ruang pelayanan pasien dewasa turut mengalami peningkatan. 

Karena itu, rumah sakit belum melihat adanya satu penyakit tertentu yang menjadi penyebab tunggal membeludaknya kunjungan.

"Kunjungan yang tinggi itu tidak hanya di anak, tapi juga di ruang dewasa juga tinggi. Jadi tidak khas spesifik penyakit tertentu yang menuju pada penyakit tertentu," ujarnya.

Padatnya kunjungan membuat kapasitas IGD yang tersedia harus dioptimalkan. Saat ini, IGD RSUD RA Kartini memiliki 23 tempat tidur (TT).

Ketika seluruh titik tersebut terisi, rumah sakit menggunakan intermediate care sebagai ruang tambahan. Bahkan, sejumlah pasien terpaksa ditempatkan sementara di area yang berada di luar titik pelayanan utama IGD.

"Memang penuh, kami juga sudah menggunakan intermediate care yang IGD penuh. Sehingga kami terpaksa menggunakan brankar yang digunakan khusus pasien IGD di lorong IGD," imbuhnya.

Rumah sakit juga membuka ruang transit bagi pasien yang sudah membutuhkan perawatan, tetapi ruang rawat inap definitif belum tersedia.

Jika ruang rawat inap juga penuh, pasien untuk sementara ditempatkan di ruang transit sembari menunggu tempat perawatan definitif tersedia.

Di antara ruang yang disiapkan adalah Ruang Seroja. Dari tiga ruang yang tersedia, masing-masing dapat menampung empat titik sehingga terdapat tambahan 12 TT.

Jika tiga ruang transit tersebut penuh, ruang tindakan digunakan sebagai tempat penampungan sementara.

"Ketika tiga ruang transit penuh, kami titipkan di ruang tindakan," hematnya.

Dengan skema tersebut, alurnya dimulai dari kapasitas IGD sebanyak 23 titik.

Ketika penuh, pasien digeser ke ruang transit Seroja. Jika kembali penuh, pasien ditempatkan sementara di ruang tindakan.

Upaya mempercepat perputaran pasien juga dilakukan. Pada sela pelayanan poliklinik pagi, dokter yang menangani pasien dapat melakukan visitasi ke ruangan. Sehingga pasien yang kondisinya memungkinkan, dapat dipulangkan.

"Tidak ada penolakan pasien, kami upayakan semaksimal mungkin," jelasnya.

Dokter Teguh juga menyebut kondisi yang terjadi sejak September tersebut berbeda dibanding pola pada tahun-tahun sebelumnya. 

Biasanya, peningkatan kasus lebih terlihat pada periode Desember hingga Januari, bertepatan dengan musim hujan.

"Ini fenomena pertama, dibandingkan bulan sebelumnya. Kami berpikir apakah ini menjadi tren tetap, kalau hanya sesaat turun lagi dan kapasitas cukup," lontarnya.

Meski demikian, tingginya kunjungan sekaligus menunjukkan masyarakat masih menjadikan RSUD RA Kartini sebagai rujukan pelayanan kesehatan.

Karena itu, jika tren tersebut bertahan, rumah sakit perlu menambah kapasitas pelayanan, baik dari sisi ruangan maupun sumber daya manusia.

Ke depan, sejumlah pengembangan juga disiapkan. Rumah sakit telah memperbaiki ruang intensive care unit (ICU) dan high care unit (HCU). Pengembangan berikutnya menyasar kualitas serta kapasitas pelayanan rawat jalan dan kamar operasi.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
IGD RSUD Kartini penuh RSUD R.A. Kartini rsud kartini stroke Influenza A