JEPARA – Keberadaan Candi Angin di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, dinilai masih menyimpan sejumlah pertanyaan tentang peradaban masa lalu di kawasan Muria Jepara. Arkeolog mendorong penelitian lebih mendalam melalui survei, pemetaan, dan kajian lintas disiplin.
Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, Bagus, mengatakan langkah awal yang penting dilakukan ialah mendokumentasikan struktur yang ada di kawasan Candi Angin. Pemetaan dapat dilakukan melalui survei permukaan dan penggambaran struktur menggunakan peralatan pemetaan.
“Kami menyarankan ada survei, ada pemetaan, penggambaran. Pemetaan bisa dengan survei permukaan dan membuat peta menggunakan alat-alat pemetaan,” ujarnya.
Menurut Bagus, penelitian diperlukan untuk memperoleh gambaran lebih utuh mengenai tinggalan arkeologi di kawasan tersebut. Tidak hanya Candi Angin, tetapi juga Candi Aso dan Bubrah.
Struktur Candi Angin Dinilai Berbeda
Kajian terhadap Candi Angin tidak cukup hanya melihat bentuk fisik bangunannya. Aspek arkeologi klasik juga diperlukan untuk mengetahui kemungkinan fungsi struktur tersebut, termasuk dugaan penggunaannya sebagai sarana pemujaan.
“Model struktur Candi Angin ini berbeda. Semacam sarana pemujaan. Masalah alirannya itu perlu dibedah dari arkeologi klasik,” jelasnya.
BPK Jawa Tengah juga telah berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait rencana penelitian di lokasi tersebut.
Bagus berharap penelitian dapat segera dilakukan sehingga struktur dan konteks tinggalan arkeologi di kawasan Muria Jepara dapat dipahami secara lebih menyeluruh.
Perlindungan Situs Perlu Diperkuat
Bagus juga mendorong perhatian Pemkab Jepara terhadap keberadaan Candi Angin. Salah satunya melalui penetapan kawasan atau situs sebagai bentuk perlindungan terhadap tinggalan arkeologi.
Menurutnya, BPK Jawa Tengah sebelumnya telah berupaya mendorong kerja sama dengan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti struktur yang ada. Termasuk kemungkinan melakukan rekonstruksi.
Namun, langkah tersebut harus didahului penelitian dan pemetaan yang memadai. Data mengenai bentuk, kondisi, serta konteks arkeologis situs diperlukan sebelum menentukan tindakan berikutnya.
BPK Jawa Tengah sebelumnya juga memiliki juru pelihara di kawasan Candi Angin hingga 2019. Setelah itu, kewenangan pengelolaan diserahkan kepada Pemkab Jepara.
Prasasti Candi Angin Jadi Petunjuk Sejarah
Potensi sejarah Candi Angin juga berkaitan dengan Prasasti Candi Angin yang kini tersimpan di Museum R.A. Kartini Jepara.
Prasasti tersebut menjadi salah satu petunjuk mengenai perkembangan kebudayaan dan agama Hindu-Buddha di wilayah Jepara. Tinggalan tersebut juga membuka kemungkinan adanya hubungan antara kawasan Muria dengan jaringan peradaban di wilayah pantai utara Jawa.
Prasasti tersebut sebelumnya tersimpan di BPK Jawa Tengah di Prambanan sebelum dikembalikan ke Jepara. Bagus turut membawa prasasti tersebut dalam proses pengembalian sekitar 2015.
Meski demikian, Bagus mengingatkan hubungan antara prasasti dan Candi Angin tidak bisa langsung disimpulkan. Asal-usul serta konteks penempatannya tetap harus dikaji secara ilmiah.
“Jangan mengesampingkan itu. Bisa jadi prasasti hanya berasal dari tempat lain yang suatu hari dibawa ke area Muria,” katanya.
Jepara Punya Sejarah Panjang
Dalam konteks yang lebih luas, Bagus menilai sejarah Jepara tidak bisa hanya dilihat dari masa Kesultanan Demak, Pati Unus, maupun Ratu Kalinyamat.
Jejak peradaban di Jepara telah ada jauh sebelum periode tersebut. Kondisi geografis Jepara pada masa lalu juga berbeda dengan sekarang.
“Dulu Jepara adalah pulau sendiri, yang terpisah dari Jawa, ada Selat Muria,” ujarnya.
Posisi geografis tersebut membuat Jepara memiliki hubungan dengan wilayah lain melalui jalur perdagangan dan aktivitas masyarakat pesisir.
Pada masa Demak, misalnya, Pelabuhan Jepara menjadi salah satu kawasan penting. Jepara juga disebut menjadi salah satu titik keberangkatan dalam ekspedisi penyerangan Portugis di Malaka.
“Jauh sebelum itu, Jepara sudah hadir menjadi peradaban yang agung di masa itu,” tegasnya.
Karena itu, Candi Angin dan tinggalan arkeologi lain di kawasan Muria perlu ditempatkan dalam konteks sejarah Jepara secara lebih komprehensif.
Penelitian lintas disiplin dan pemetaan kawasan diharapkan dapat membuka gambaran lebih jelas mengenai peradaban yang pernah berkembang di kawasan tersebut.
“Informasi akan dilakukan penelitian oleh BRIN, semoga saja dapat segera dilakukan,” tandasnya. (fik/war)
Editor : M. Khoirul Anwar