JEPARA — Tak sedikit yang berkata jika bahasa berfungsi sebagai paspor.
Menguasai bahasa asing sama artinya memberikan akses, kebebasan, dan peluang tak terprediksi bagi seseorang.
Tak hanya untuk menjelajahi dunia, tapi bagaimana menciptakan suatu ekosistem sosial, ekonomi utamanya dalam balutan pariwisata.
Kini, awal kemajuan itu telah dimulai. Terutama usai diluncurkan program Tempur English Club (TEC) di Desa yang berada di utara Lereng Gunung Muria tersebut.
Dari kebutuhan itulah TEC dihadirkan.
Bukan sekadar tempat belajar kosakata atau tata bahasa. Namun, TEC disiapkan sebagai ruang bagi warga untuk berlatih berkomunikasi, sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Tempur menghadapi geliat pariwisata yang semakin terbuka.
Sebab, mulai jamak wisatawan mancanegara yang datang berkunjung.
Kini, pelaku usaha wisata, petani kopi, pemuda hingga masyarakat umum, dipersilakan bergabung tanpa syarat khusus. Sepanjang memiliki kemauan dan konsisten belajar.
Bagi sebagian warga, kedatangan wisatawan mancanegara tentu menjadi peluang.
Petani kopi bisa bercerita tentang hasil kebunnya, pelaku usaha dapat mengenalkan kuliner dan aktivitas wisata, sementara pemuda bisa menjadi pemandu bagi tamu yang ingin menjelajahi potensi dan kekayaan Desa Tempur.
Persoalan minimnya warga yang cukup percaya diri untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris tersebut, berusaha dijawab.
TEC sendiri diinisiasi Pemerintah Kecamatan Keling bersama Pemerintah Desa Tempur, Karang Taruna Argo Mulyo, serta pelaku usaha wisata melalui Pokdarwis, Basecamp 29 dan Tempur River Tubing.
Diakui, gagasan tersebut berawal dari meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Desa Tempur. Kemudian memunculkan kebutuhan peningkatan kemampuan Bahasa Inggris bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha wisata.
Dalam pelaksanaannya, TEC akan melibatkan relawan yang bersedia mendampingi proses pembelajaran.
Salah satunya Daniel Stiff, warga negara Amerika Serikat yang telah menikah dengan warga Desa Tempur dan kini menetap di desa tersebut.
Pencanangan TEC dilakukan bersamaan dengan kegiatan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Jepara, melalui Program Dharma Wanita Cerdas Literasi, pada Jumat (2/10).
Kegiatan tersebut diluncurkan Ketua DWP Kabupaten Jepara Erna Ary Bachtiar bersama Camat Keling Lulut Andi Ariyanto dan Ketua DWP Unsur Pelaksana Kecamatan Keling Ririn Lulut Andi Ariyanto beserta anggota.
Erna berharap, keberadaan TEC mampu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris masyarakat.
Sekaligus mendorong pariwisata Desa Tempur dikenal lebih luas hingga kancah internasional.
Sementara itu, Camat Keling Lulut Andi Ariyanto menyebut TEC merupakan tahap awal, dalam membangun ekosistem pembelajaran bagi pelaku usaha wisata agar semakin profesional.
Sebagai tindak lanjut, pembelajaran TEC nantinya diperkuat dengan bahan bacaan berbahasa Inggris di Taman Baca Masyarakat Rumah Singgah Tempur.
Sehingganya, proses belajar tidak berhenti pada pertemuan TEC, tetapi dapat tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat, dalam interaksi sehari-hari.
“TEC sebagai ruang belajar, Rumah Singgah sebagai sumber literasi, dan masyarakat sebagai penggerak ekosistem wisata budaya,” sebutnya.
Di samping itu, dengan penguasaan bahasa Inggris yang memadai, pemasaran Kopi Tempur dapat semakin masif. Utamanya berpotensi merambah pasar internasional.
Lebih lanjut disebutkan, ikhtiar tersebut menjadi secercah harapan baru. Di samping upaya pemberdayaan masyarakat juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi dari tingkat desa yang berpotensi mendunia.(fik)
Editor : Mahendra Aditya