Kholeq Terempas Ombak Tiga Kali, Selamat dari Maut Tenggelamnya KM Virgo

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 18:49 WIB
SELAMAT: Abdul Kholeq (25), warga RT 4/RW 1 Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, melayat ke rumah Ilham Mukhamad Rojab (21), warga RT 4/RW 1 Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, korban KM Virgo yang tenggelam pada Minggu (13/9). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SELAMAT: Abdul Kholeq (25), warga RT 4/RW 1 Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, melayat ke rumah Ilham Mukhamad Rojab (21), warga RT 4/RW 1 Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, korban KM Virgo yang tenggelam pada Minggu (13/9). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Kholeq berangkat dari Jepara menuju Banjarmasin untuk mengirim pesanan mebel.

Ia menaiki KM Virgo Transport 8 bersama Ilham yang berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. 

Di atas kapal ia bertemu dengan Mashudi, warga asal Desa Plajan, Pakis Aji.

Namun dari 243 manifest penumpang, termasuk 22 yang tidak masuk pencatatan, Kholeq satu-satunya warga Jepara yang selamat dari maut. 

Tatapan mata Abdul Kholeq (25), warga RT 4/RW 1 Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, masih sayu. Sesekali memandang jauh, kosong.

Hal itu tampak saat ia melayat ke rumah Ilham Mukhamad Rojab (21), warga RT 4/RW 1 Desa Bantrung, Kecamatan Batealit pada Selasa (29/9) sore.

Ilham merupakan kernet yang mendampinginya, saat hendak mengirim pesanan mebel ke Kalimantan Barat. 

Namun kapal KM Virgo Transport 8 yang ditumpanginya tak pernah benar-benar sandar di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Sebelumnya kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Sabtu (12/9).

Dalam pelayaran itu, kapal barang dan penumpang jenis Ro-Ro KM Virgo ini dihantam cuaca buruk. Hingga dilaporkan hilang kontak dan tenggelam pada Minggu (13/9) pukul 02.00 WITA.

Kapal tersebut membawa total 243 orang dan 89 unit kendaraan saat insiden terjadi. Termasuk 22 orang yang tidak masuk dalam manifest.

Kholeq satu-satunya warga Jepara yang selamat dari maut. Selain Ilham, yang jenazahnya dipulangkan dari Banjarmasin ke Jepara pada Selasa (29/9) sore.

Korban lain, Mashudi (27) asal Dukuh Karang Sondo RT 38/RW 6 Desa Plajan Pakis Aji juga telah dipulangkan, dan dimakamkan pada Jumat (25/9).

Saat menunggu kepulangan jenazah Ilham, Kholeq menceritakan detik-detik kapal tersebut tenggelam.

Cuaca buruk datang. Ombak mengempas tinggi. Kapal miring 40 derajat. 

Dalam suasana penuh dengan kepanikan itu, tiga kali tubuhnya dihantam ombak. 

Setiap kali terempas, ia kehilangan pijakan dan terpisah dari kapal yang perlahan ditelan Laut Jawa. 

Dalam gelap malam di perairan Masalembo itu, Kholeq hanya punya satu pilihan. Bertahan, di antara hidup dan mati.

Ia sempat berenang beberapa menit sebelum sebuah skoci yang dinaiki penumpang lain mendekat. Dengan otot kakinya yang putus imbas benturan dan empasan gelombang, Kholeq kemudian melompat ke atasnya.

Namun pertolongan belum benar-benar datang.

Selama sembilan jam, pria 25 tahun yang merupakan pengantin muda ini terombang-ambing di Perairan Masalembo.

Hingga siang hari, seorang nelayan asal Juwana menemukan keberadaannya.

Di balik keselamatan itu, ada cerita serba singkat.

Semua bermula sekitar pukul 01.00.

Kholeq yang tengah tertidur terbangun. Sekitar pukul 01.17, suara teriakan membangunkannya.

Penumpang diminta mengenakan pelampung. "Saya tidak nyangka kapal itu miring," ucapnya, Selasa (29/9).

Kholeq segera bangkit. Ia membangunkan dua rekannya, Ilham Mukhamad Rojab dan Mashudi. 

Ia mengambil jaket pelampung, dan memberikannya kepada Ilham dan Mashudi.

Sementara itu, kondisi di dalam kapal semakin kacau. Penumpang berlarian. Sebagian terjatuh. Lantai kapal tak lagi datar, sebab telah miring 40 derajat.

"Di luar tidak bisa jalan. Mau turun ke bawah juga tidak bisa,” katanya.

Kholeq mencoba mencari jalan keluar. Namun, dalam kondisi kapal yang semakin miring, ia tidak lagi memiliki banyak pilihan.

Ia pasrah. Tak lama kemudian, ombak menerjang. Tubuhnya terempas. Sekali. Kemudian untuk kedua kalinya.

Dan untuk ketiga kalinya, ia terlempar ke laut lepas.

Saat Kholeq dievakuasi, ia dalam kondisi mengalami cedera pada kaki. Otot kakinya putus dan ia harus menjalani operasi kecil.

Selama dua hari ia dirawat di rumah sakit di RSUD Ulin Banjarmasin.

Saat itu, Kholeq tidak membawa telepon. Ia kemudian meminjam ponsel milik tetangga kamar rumah sakit untuk mengabarkan bahwa dirinya masih hidup.

Kabar itu menjadi sedikit kelegaan di tengah tragedi yang telah merenggut korban jiwa.

Ironisnya, KM Virgo Transport 8 merupakan kapal yang baru pertama kali dinaiki Kholeq.

Ia berangkat untuk mengirim pesanan mebel dari Jepara menuju Banjarmasin. Kholeq bekerja sebagai sopir dan dalam perjalanan itu didampingi Ilham.

Keduanya telah bekerja bersama sekitar dua tahun. "Baru kali ini naik kapal Virgo," katanya.

Perjalanan itu juga dilakukan bersama Mashudi, 27, warga Dukuh Karang Sondo RT 38/RW 6 Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji.

Namun, perjalanan ketiganya berakhir berbeda. Mashudi dan Ilham, menjadi korban yang tidak selamat.

Kholeq juga menceritakan tidak ada tanda-tanda aneh sebelum keberangkatan. “Tidak ada kejanggalan sama sekali, biasa saja,” sebutnya.

Ia juga masih mengingat pertemuan terakhir dengan almarhum Ilham, sebelum kapal mengalami kecelakaan.

Saat itu Ilham telah mengenakan jaket pelampung. Kholeq sempat melihatnya berjalan keluar kapal. Namun karena suasana penuh kepanikan, akhirnya terpencar “Saat saya balik badan, dia sudah jalan,” tuturnya.

Namun, dua rekannya itu belakangan diketahui tidak selamat. Kholeq turut mendoakan yang terbaik.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
korban KM Virgo Pencarian korban KM Virgo pemulangan korban KM Virgo KM Virgo Transport 8 tenggelam jepara