JEPARA — Puskesmas di setiap kecamatan di Jepara, juga diarahkan melakukan pemantauan secara rutin dua kali dalam sepekan.
Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, biasa berkoordinasi dengan SPPG melalui grup WhatsApp, untuk memberikan arahan mengenai penerapan higiene sanitasi dan keamanan pangan.
Gertak MBG yang digencarkan Pemkab Jepara sejak 14-16 September, dilakukan setelah muncul sejumlah laporan dugaan keracunan makanan, dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Melalui pengawasan tersebut, proses pengolahan makanan sejak bahan diterima hingga didistribusikan kepada penerima manfaat, diharapkan memenuhi standar keamanan pangan.
Setelah laporan hasil evaluasi Gertak disampaikan ke Bupati dan Satgas pada Senin (28/9), SPPG diberi waktu hingga pekan kedua Oktober.
Untuk membenahi sejumlah catatan dan pemenuhan fasilitas serta sarana prasarana di dapur.
Termasuk, memperbaiki sanitasi hingga layout ruang maupun alur dan tahapan produksi, hingga menu MBG didistribusikan.
Diharapkan, Gertak MBG menjadi satu skema agar SPPG berbenah.
Sehingga pelaksanaan MBG tidak lagi memakan korban, para penerima yang mengalami keluhan kesehatan yang berujung keracunan. Terutama saat maupun seusai menyantap menu MBG.
Jepara sendiri juga memiliki ratusan penyintas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan keracunan.
Gangguan kesehatan yang dialami baik siswa maupun guru, beberapa kali terjadi di Jepara.
Namun Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) tak mendapatkan sanksi tegas.
Alih-alih dicabut izinnya, SPPG hanya diberhentikan operasionalnya, itu pun sementara.
Menurut catatan Radar Kudus, dalam rentang Agustus hingga pertengahan September 2026, sedikitnya 258 penerima manfaat dari tiga kejadian berbeda dilaporkan mengalami keluhan pencernaan.
Rangkaian kasus itu menjadi perhatian DKK Jepara, yang kini melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, termasuk kondisi dapur SPPG.
Kasus yang terjadi pada Agustus 2026 di SMPN 2 Jepara. Sebanyak 123 orang, terdiri atas 110 siswa dan 13 guru, mengalami keluhan mual hingga diare setelah menyantap menu beef teriyaki.
Sejumlah siswa sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, seluruhnya berhasil pulih dan tidak terdapat yang rawat inap maupun menelan korban jiwa.
Setelah itu, juga kembali dilaporkan pada awal September 2026 di SPPG Mlonggo Sekuro 01.
Sebanyak 118 penerima manfaat, terdiri atas 106 siswa dan 12 guru, mengalami gangguan pencernaan. Meliputi para siswa di SDN 1 Srobyong, SMK-MA Nawa Kartika.
Belum berselang lama, keluhan serupa kembali muncul pada 16 September 2026.
Kali ini terjadi pada penerima MBG di SDN Karangkebagusan dan SDN Kauman.
Sebanyak 17 orang, terdiri atas 14 siswa dan tiga guru, mengalami keluhan setelah menyantap menu ayam katsu.
“Satgas MBG Kabupaten atau Kecamatan tidak mempunyai kewenangan untuk menutup SPPG,” timpal Sekretaris DKK Jepara dr. Hesti Prihandari.(fik)
Editor : Mahendra Aditya