JEPARA — Dua bulan berselang. Berakhirnya Pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia bukan menjadi penutup perjalanan.
Justru, menjadi pijakan awal untuk menyiapkan TATAH #2 yang direncanakan kembali digelar pada 2027.
Pameran yang mengusung tema besar “Suluk-Sulur-Jepara” itu sebelumnya berlangsung sejak 29 April hingga 2 Agustus 2026. Selama lebih dari tiga bulan itu, TATAH 2026 merekam puluhan ribu wajah dan para penikmat seni, klasik hingga modern. Dengan catatan mencapai 73.104 kunjungan.
Direktur TATAH Veronica Rompies mengatakan, capaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang untuk memperkenalkan kekayaan seni, tradisi, dan sejarah ukir Jepara kepada publik secara lebih luas.
Menurutnya, berakhirnya pameran justru menjadi kesempatan bagi para seniman ukir dan masyarakat Jepara untuk kembali melihat besarnya potensi kebudayaan yang dimiliki.
Kini, Official TATAH, sedang menyiapkan diri. Untuk tampil lebih apik, elegan dan membawa banyak makna. Terutama untuk memunculkan relasi ekonomi dari pengenalan karya.
Sehingga tak hanya sekadar upaya menjaga warisan daerah, namun memberikan dampak kecakapan hidup melalui pengorbitan karya para seniman dan masyarakat Jepara.
Persiapan tersebut tidak hanya dilakukan untuk menghadirkan pameran berikutnya. Para seniman dapat melibatkan diri, berperan dengan proses pengkaryaan.
Sejumlah agenda juga akan dijalankan di Jepara seiring proses persiapan TATAH #2.
Vero berharap rangkaian kegiatan itu dapat saling menguatkan, terutama dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, dan seni ukir Jepara.
Berkaca dari penyelenggaraan TATAH 2026 sendiri, melalui proses panjang.
Sebagai pameran seni dan sejarah yang belum memiliki referensi penyelenggaraan serupa sebelumnya, tim TATAH harus membangun konsep sekaligus meyakinkan berbagai pihak bahwa sejarah dan seni ukir Jepara layak mendapatkan ruang di Museum Nasional Indonesia. Bahkan panggung dunia.
Tim kurator bersama tim riset kemudian mengembangkan pendekatan untuk menyajikan sejarah dan seni ukir Jepara, agar dapat dipahami sekaligus dinikmati masyarakat dari berbagai latar belakang.
Jejak pameran tersebut juga tidak berhenti pada ruang pamer.
Buku, arsip, dokumentasi, dan hasil riset yang dihasilkan diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya diskusi, penelitian, kolaborasi, kebijakan, hingga langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara.
Dalam rangkaian agenda ke depan, TATAH juga akan menghadirkan live performance pembuatan salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Jepara sejak 2024, yakni Macan Kurung.
Agenda tersebut menjadi salah satu upaya untuk membawa kembali proses penciptaan karya ukir ke ruang publik, sekaligus memperlihatkan bahwa seni ukir bukan sekadar hasil akhir sebuah karya.
Namun, juga menyimpan pengetahuan lokal, keterampilan, tradisi, dan identitas budaya yang terwariskan lintas generasi.
Kini, dimulainya persiapan TATAH #2, memasuki babak berikutnya.
Jepara, di mata Vero, tidak hanya diposisikan sebagai latar dari sejarah seni ukir.
Akan tetapi, juga sebagai ruang untuk menghidupkan kembali pengetahuan dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas daerah. Untuk dunia yang lebih baik.(fik)
Editor : Mahendra Aditya