JEPARA – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya mengembangkan modeling budi daya rumput laut di Kepulauan Karimunjawa sebagai upaya membangkitkan kembali komoditas unggulan masyarakat pesisir Jepara. Kawasan tersebut diarahkan menjadi sentra produksi rumput laut di Provinsi Jawa Tengah dengan penerapan sarana budi daya yang lebih ramah lingkungan.
“Kami ingin bangkitkan kembali kejayaan rumput laut Karimunjawa sebagai sumber utama perekonomian masyarakat pesisir Jepara dan penopang produksi rumput laut nasional, yang sempat menurun drastis sejak tahun 2009 karena berbagai permasalahan,” ungkap Nono Hartanto, Direktur Rumput Laut Ditjen Perikanan Budi Daya, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (25/9/2026).
Modeling Dikembangkan 50 Hektare
Saat ini luas kawasan modeling meng-cover total 50 hektare. Rinciannya, 5 hektare area untuk kebun bibit dan 45 hektare untuk kawasan area pembesaran.
Pengembangan modeling budi daya rumput laut bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir berbasis komoditas unggulan rumput laut.
Program tersebut diharapkan membangun ekosistem bisnis yang terintegrasi sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian lokal dan daerah.
Pemerintah juga memastikan adanya penataan pemanfaatan ruang laut sehingga kegiatan kompatibel dengan aktivitas lainnya, seperti alur pelayaran dan lainnya.
Terapkan Sarana Lebih Ramah Lingkungan
Nono menjelaskan, program modeling dititikberatkan pada tiga aspek utama, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi. Program tersebut telah sesuai dengan standar teknis budi daya rumput laut yang direkomendasikan.
Dari aspek lingkungan, model ini mengubah penggunaan sarana prasarana yang tidak ramah lingkungan, seperti tali rafia dan pelampung botol plastik, dengan sarana HDPE yang lebih ramah lingkungan.
Ia menegaskan, penggunaan botol plastik sangat berisiko mencemari perairan dan kesehatan biota laut, yakni potensi mikroplastik.
Dari aspek sosial-ekonomi, model pengembangan budi daya rumput laut ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi dan penyerapan kesempatan berusaha bagi masyarakat pesisir, di samping pemberdayaan perempuan pesisir.
Rumput Laut Umur 25–30 Hari Berkondisi Baik
Untuk memastikan pengembangan modeling berjalan dengan baik, BBPBAP Jepara sebagai UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Dinas Perikanan Kabupaten Jepara terus melakukan pendampingan dan pengawasan.
Pendampingan dilakukan terutama untuk menyikapi berbagai dinamika masalah yang ada. Hasil pengawasan dan pengamatan di lapangan yang dilakukan tim teknis BBPBAP Jepara, penyuluh perikanan, dan jajaran Kecamatan Karimunjawa menunjukkan program masih berjalan dengan baik.
Hal tersebut dipertegas oleh pengakuan salah satu anggota Pokdakan Karya Jaya Bersama, Ilyas, saat meninjau langsung kawasan modeling bersama tim teknis, Rabu (23/9/2026).
Ia mengungkapkan, perkembangan rumput laut yang telah memasuki umur 25–30 hari dalam kondisi baik dan sudah dapat dikembangkan (dipecah) menjadi calon bibit baru.
Di sisi lain, menurutnya, penggunaan frame sarana budi daya rumput laut pada modeling budi daya ini tidak mengganggu ekosistem terumbu karang karena hanya melewati terumbu karang dengan kedalaman saat surut terendah minimal 1 meter.
“Dari pengalaman kami, sebenarnya warga lokal juga telah terbiasa sejak dulu menempati area laut dangkal dan berkarang untuk budi daya rumput laut. Rumput laut yang ditanam di atas karang dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik sesuai perubahan musim, namun hal tersebut tidaklah merata di semua wilayah perairan laut Kemujan. Jadi sebenarnya ini hal biasa dalam proses produksi budi daya rumput laut,” tambahnya.
Pendampingan Dilakukan Hadapi Perubahan Suhu
Adanya perubahan cuaca karena efek El Nino menyebabkan suhu perairan meningkat. Hasil pengecekan kualitas air oleh tim teknis menyimpulkan bahwa suhu permukaan di beberapa titik berada di ambang batas standar kualitas air untuk kegiatan budi daya.
Kondisi tersebut menyebabkan sebagian rumput laut terkena lumut karena dipicu oleh naiknya suhu perairan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Karimunjawa, tetapi hampir merata di berbagai wilayah di Indonesia.
Untuk itu, tim berkomitmen terus melakukan pendampingan, terutama guna memastikan SOP teknis berjalan baik.
KKP juga telah memberikan tambahan bibit baru dari BBPBL Lampung untuk mengganti bibit lama yang rusak akibat hama lumut dan menambah ketersediaan varian bibit berkualitas.
Sebagai informasi, total pengiriman bibit rumput laut hasil kultur jaringan mencapai 5.400 kilogram dan telah didistribusikan ke enam Pokdakan, yang saat ini dalam kondisi baik.
Pembudidaya Ikut Terlibat
Dalam kesempatan yang sama, Camat Karimunjawa Nuril Abdillah menegaskan bahwa sekitar 10 pembudidaya yang dia temui sebenarnya tidak merugi. Sebab, selama proses penyiapan penanaman, pembudidaya juga dilibatkan.
“Memang betul diakui ada (bibit rumput laut) yang rusak akibat lumut. Tapi perbandingan antara yang rusak dengan banyaknya bantuan yang diterima itu, masih lebih besar bantuannya. Misalnya ada petani yang menyebut bibitnya rusak 1 kuintal, tapi mendapat bantuan bibit 4–5 kuintal,” jelas Nuril.
Pengembangan modeling tersebut dengan demikian tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pelibatan masyarakat dalam proses budi daya dan pembukaan kesempatan berusaha bagi masyarakat pesisir.
Editor : M. Khoirul Anwar