KKP Pastikan Modeling Rumput Laut Karimunjawa Ramah Lingkungan

M. Khoirul Anwar • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 19:53 WIB
HAMPARAN: Kawasan modeling budidaya rumput laut dengan menggunakan sarana dan prasarana ramah lingkungan (menggunakan HDPE) guna menghindari penggunaan botol plastik yang berpotensi mencemari kesehatan biota laut akibat mikroplastik.
HAMPARAN: Kawasan modeling budidaya rumput laut dengan menggunakan sarana dan prasarana ramah lingkungan (menggunakan HDPE) guna menghindari penggunaan botol plastik yang berpotensi mencemari kesehatan biota laut akibat mikroplastik.

Menggerakkan Ekonomi Masyarakat Pesisir 

JEPARA – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya berkomitmen menjadikan Kepulauan Karimunjawa sebagai sentra produksi budi daya rumput laut di Provinsi Jawa Tengah. Langkah strategis yang sedang dilakukan adalah menjadikan kawasan ini sebagai lokus pengembangan modeling budi daya rumput laut yang lebih ramah lingkungan.

“Kami ingin bangkitkan kembali kejayaan rumput laut Karimunjawa sebagai sumber utama perekonomian masyarakat pesisir Jepara dan penopang produksi rumput laut nasional, yang sempat menurun drastis sejak tahun 2009 karena berbagai permasalahan,” ungkap Nono Hartanto, Direktur Rumput Laut Ditjen Perikanan Budi Daya, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (25/9/2026).

Nono menjelaskan, program modeling ini dititikberatkan pada tiga aspek utama, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi. Program tersebut telah sesuai dengan standar teknis budi daya rumput laut yang direkomendasikan.

Dari aspek lingkungan, model ini mengubah penggunaan sarana prasarana yang tidak ramah lingkungan, seperti tali rafia dan pelampung botol plastik, dengan sarana HDPE yang lebih ramah lingkungan.

Ia menegaskan, penggunaan botol plastik sangat berisiko mencemari perairan dan kesehatan biota laut, yakni potensi mikroplastik.

Dari aspek sosial-ekonomi, model pengembangan budi daya rumput laut ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi dan penyerapan kesempatan berusaha bagi masyarakat pesisir, di samping pemberdayaan perempuan pesisir.

Pendampingan dan Pengawasan Terus Dilakukan

Untuk memastikan pengembangan modeling berjalan dengan baik, BBPBAP Jepara sebagai UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Dinas Perikanan Kabupaten Jepara terus melakukan pendampingan dan pengawasan, terutama untuk menyikapi berbagai dinamika masalah yang ada.

Hasil pengawasan dan pengamatan di lapangan yang dilakukan oleh tim teknis BBPBAP Jepara, penyuluh perikanan, dan jajaran Kecamatan Karimunjawa menunjukkan bahwa program masih berjalan dengan baik. Adapun dinamika masalah yang berkembang telah diupayakan jalan keluarnya.

Hal tersebut dipertegas oleh pengakuan dari salah satu anggota Pokdakan Karya Jaya Bersama, Ilyas, saat meninjau langsung kawasan modeling bersama tim teknis, Rabu (23/9/2026).

Ia mengungkapkan bahwa perkembangan rumput laut yang telah memasuki umur 25–30 hari dalam kondisi baik dan sudah dapat dikembangkan (dipecah) menjadi calon bibit baru.

Di sisi lain, menurutnya, penggunaan frame sarana budi daya rumput laut pada modeling budi daya ini tidak mengganggu ekosistem terumbu karang karena hanya melewati terumbu karang dengan kedalaman saat surut terendah minimal 1 meter.

“Dari pengalaman kami, sebenarnya warga lokal juga telah terbiasa sejak dulu menempati area laut dangkal dan berkarang untuk budi daya rumput laut. Rumput laut yang ditanam di atas karang dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik sesuai perubahan musim, namun hal tersebut tidaklah merata di semua wilayah perairan laut Kemujan. Jadi sebenarnya ini hal biasa dalam proses produksi budi daya rumput laut,” tambahnya.

Suhu Perairan Picu Sebagian Rumput Laut Berlumut

Adanya perubahan cuaca karena efek El Nino menyebabkan suhu perairan meningkat. Hasil pengecekan kualitas air oleh tim teknis menyimpulkan bahwa suhu permukaan di beberapa titik berada di ambang batas standar kualitas air untuk kegiatan budi daya.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian rumput laut terkena lumut karena dipicu oleh naiknya suhu perairan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Karimunjawa, tetapi hampir merata di berbagai wilayah di Indonesia.

Untuk itu, tim berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan, terutama guna memastikan SOP teknis berjalan baik.

KKP juga telah memberikan tambahan bibit baru dari BBPBL Lampung untuk mengganti bibit lama yang rusak akibat hama lumut dan menambah ketersediaan varian bibit berkualitas.

Sebagai informasi, total pengiriman bibit rumput laut hasil kultur jaringan mencapai 5.400 kilogram dan telah didistribusikan ke enam Pokdakan, yang saat ini dalam kondisi baik.

Pembudidaya Tetap Dilibatkan

Dalam kesempatan yang sama, Camat Karimunjawa Nuril Abdillah menegaskan bahwa sekitar 10 pembudidaya yang dia temui sebenarnya tidak merugi. Sebab, selama proses penyiapan penanaman, pembudidaya juga dilibatkan.

“Memang betul diakui ada (bibit rumput laut) yang rusak akibat lumut. Tapi perbandingan antara yang rusak dengan banyaknya bantuan yang diterima itu, masih lebih besar bantuannya. Misalnya ada petani yang menyebut bibitnya rusak 1 kuintal, tapi mendapat bantuan bibit 4–5 kuintal,” jelas Nuril.

Modeling Mencakup 50 Hektare

Untuk diketahui, pengembangan modeling budi daya rumput laut bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir berbasis komoditas unggulan rumput laut.

Diharapkan akan terbangun ekosistem bisnis yang terintegrasi yang mampu menggerakkan roda perekonomian lokal dan daerah.

Saat ini luas kawasan modeling meng-cover total 50 hektare, terdiri dari 5 hektare area untuk kebun bibit dan 45 hektare untuk kawasan area pembesaran.

Pemerintah juga memastikan adanya penataan pemanfaatan ruang laut sehingga kegiatan kompatibel dengan aktivitas lainnya, seperti alur pelayaran dan lainnya.

Editor : M. Khoirul Anwar
rumput laut Karimunjawa budi daya rumput laut jepara kkp kemujan