Korban KM Virgo Asal Plajan Jepara Dikenal sebagai Sosok Pekerja Keras

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:03 WIB
BERBELASUNGKAWA: Para tetangga alm. Mashudi turut berkirim doa, pada Jumat (25/9). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BERBELASUNGKAWA: Para tetangga alm. Mashudi turut berkirim doa, pada Jumat (25/9). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Di mata keluarga, Mashudi (27), warga Dukuh Karang Sondo RT 38/RW 6, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, bukan sekadar sosok yang bekerja keras.

Ia dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan keluarga, penyayang orang tua, serta memiliki keinginan sederhana untuk membuat keluarganya bangga.

Kabar kepulangan Mashudi pada Jumat (25/9) justru datang dalam suasana duka.

Ia menjadi salah satu korban KM Virgo Transport 8 yang ditemukan meninggal dunia, usai kapal yang ditumpanginya mengalami musibah kecelakaan dalam perjalanan menuju Banjarmasin.

Paman Mashudi, Agus Sarochip (33), mengenang keponakannya sebagai sosok yang baik dan tekun. 

Menurutnya, Mashudi merupakan pribadi yang menjunjung tinggi orang tua dan amat perhatian.

Bahkan, sebelumnya ia meminta sang istri agar tidak bekerja di pabrik. Supaya dapat fokus mengasuh anak yang masih berusia tiga tahun.

"Orangnya baik, grapyak. Keinginannya ingin membanggakan keluarga sangat kuat," ujarnya, Jumat (25/9) usai jenazah tiba di rumah duka.

Pekerja keras, tegasnya, menjadi watask Mashudi. Melekat dalam kesehariannya.

Ia diketahui beberapa kali mengirim barang ke luar Pulau Jawa, termasuk ke Kalimantan.

Armada yang digunakan untuk mengangkut barang tersebut juga merupakan milik pribadi.

Pekerjaan itu membuat Mashudi terbiasa melakukan perjalanan antarpulau.

Setelah mengetahui informasi KM Virgo tenggelam pada Minggu (13/9) pagi, sekitar pukul 16.00 pihak keluarga dan warga Jepara sempat memberi hormat dan berdoa di tepi pantai, sembari tabur bunga.

Paman korban, Agus Sarochip.
Paman korban, Agus Sarochip.

Sebelumnya, istri Mashudi, Dwi Bintang (25), warga Dukuh Karang Sondo RT 38/RW 6 Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, menceritakan suaminya berangkat dari Jepara pada Jumat (11/9) sekitar pukul 13.30.

Kemudian Sabtu (12/9) pagi, Mashudi mengirim WhatsApp kepada Bintang. Saat itu, dia mengatakan akan naik kapal KM Virgo Transport 8 dari Surabaya.

Kapal bertolak sekitar pukul 10.13 WIB dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. 

Namun, perjalanan tersebut tidak pernah sampai tujuan serta tidak membawanya kembali ke rumah.

Keluarga kemudian mengikuti proses pencarian dan identifikasi korban.

Mereka juga mendatangi Polsek Pakis Aji untuk menjalani pemeriksaan DNA sebagai bagian dari proses identifikasi.

Kepastian mengenai nasib Mashudi baru diterima keluarga pada Kamis (24/9) malam. Pada hari ke-12 setelah karam pada Minggu (13/9) dini hari di Laut Jawa.

Polisi mengabarkan bahwa jenazah yang ditemukan telah teridentifikasi sebagai Mashudi.

Identifikasi tersebut diperkuat dengan pemeriksaan DNA.

Selain itu, sejumlah barang milik korban juga ditemukan. Dompet dan telepon seluler miliknya disebut masih terselip di pakaian korban.

Setelah proses identifikasi selesai, jenazah Mashudi diterbangkan dari Kalimantan pada Jumat (25/9) pagi, menuju Semarang. 

Keluarga kemudian menjemput jenazah di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang pada Jumat (25/9) pagi.

Kepulangan itu menjadi pertemuan terakhir keluarga dengan Mashudi. 

Bukan dalam kondisi seperti yang diharapkan, tetapi melalui sebuah peti jenazah yang mengakhiri penantian panjang mereka.

Mashudi merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

"Korban orangnya baik, pekerja keras, penyayang dengan keluarga," pungkas Agus.(fik)

Editor : M. Khoirul Anwar
korban KM Virgo Korban KM Virgo Jepara Korban KM Virgo Meninggal Dunia Korban KM Virgo tenggelam pencairan korban KM Virgo