JEPARA — Lampu panggung belum menyala. Musik belum terdengar. Namun, di balik panggung, kesibukan sudah berlangsung.
Kostum dikenakan. Tata artistik diperiksa. Perangkat visual dipastikan siap. Musik dipersiapkan. Pemain dan kru bergerak dalam ritme masing-masing, sebelum akhirnya bertemu pada satu ruang: panggung.
Bagi penonton, pertunjukan mungkin hanya berlangsung dalam hitungan menit.
Namun baliknya terdapat proses panjang, riset, eksplorasi, pengalaman, dan kerja kolaboratif untuk mengubah gagasan menjadi pengalaman artistik.
Proses itulah yang kemudian menemukan ruangnya di Aula Serbaguna M.A. Hasyim Asy’ari, Bangsri, Jepara, pada Sabtu (19/9) malam.
Teater eL Na’ma dari Yayasan eL Na’ma Indonesia menghadirkan “Metamorphosa: Mozaik Cinta”, sebuah pertunjukan yang mencoba memandang cinta dari jarak yang lebih luas.
Cinta tidak hanya ditempatkan sebagai hubungan romantis antara dua manusia. Ia hadir sebagai pengalaman tentang kedekatan, pengorbanan, kasih, keteguhan, sekaligus kehilangan, keterikatan, fanatisme, dan penderitaan ketika perasaan tidak lagi berjalan seimbang dengan akal.
Pertunjukan ini dibangun dari kepingan pengalaman manusia. Pertemuan, kebahagiaan, pengorbanan, luka, kehilangan hingga pelepasan dirangkai seperti sebuah mozaik.
Setiap kepingan kemudian membentuk perjalanan yang perlahan mengubah cara manusia memahami dirinya, orang lain, dan kehidupan.
Di titik tersebut, cinta tidak lagi sekadar dimaknai sebagai keinginan untuk memiliki.
Cinta justru diarahkan pada kemampuan untuk memahami, menerima, dan memberikan ruang bagi kebebasan.
Kata “metamorphosa” menjadi penting dalam pertunjukan tersebut.
Perubahan tidak selalu lahir dari pengalaman yang menyenangkan. Luka dan kehilangan justru dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kesadaran.
Keterikatan perlahan bergerak menuju kebebasan. Perasaan berkembang menjadi kesadaran. Pengalaman mencintai menjadi jalan untuk menerima dan bertumbuh.
Pertunjukan tersebut kemudian mengajak penonton melihat bahwa perjalanan cinta bukan hanya mengubah hubungan manusia dengan orang lain, tetapi juga mengubah manusia itu sendiri.
Gagasan tersebut berangkat dari konsep mahabbah dalam pemikiran tokoh sufi perempuan Rabi’ah al-Adawiyah.
Cinta tidak semata-mata dipahami sebagai keterikatan, tetapi sebagai jalan menuju kedekatan kepada Tuhan.
Dari sana, “Metamorphosa: Mozaik Cinta” mencoba menghadirkan cinta sebagai kekuatan universal yang dapat mendorong perubahan spiritual sekaligus sosial.
Yang menarik, proses penciptaan pertunjukan tidak berangkat dari naskah yang sudah selesai sejak awal.
Tubuh, suara, teks, musik, objek, cahaya, dan ruang menjadi material yang dieksplorasi secara kolaboratif.
Fragmen-fragmen yang muncul tidak berdiri sebagai cerita terpisah. Semuanya dirangkai melalui hubungan visual, bunyi, gerak, dan gagasan hingga membentuk satu perjalanan tentang cinta.
Serpih kulminasi ide itu, lahir dari pertemuan empat orang dengan latar pengalaman berbeda.
Lailatin Na’ma hadir sebagai produser sekaligus direktur artistik. M. Ramdhani menjadi kolaborator dan music designer. M.J. Haeckal menggarap wilayah visual dan videografi. Sementara Tio Zulfan Amri berperan sebagai kolaborator lecturer sekaligus researcher.
Keempatnya mempertemukan produksi, artistik, musik, visual, riset, dan pemikiran dalam satu proses penciptaan.
Lailatin bukan sosok baru dalam perjalanan teater. Bersama Achmad “Echo” Chotib, ia mendirikan Teater eL Na’ma pada 2000 yang kemudian berkembang menjadi Yayasan eL Na’ma Indonesia pada 2019.
Dalam perjalanan kreatifnya, Lailatin banyak mengangkat tema sosial, religi, sufistik, dan perempuan melalui pendekatan riset, tradisi, teks, serta pengalaman personal.
Gagasan mengenai cinta pun bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba.
Pada 2025, ia terlibat dalam “Metamorphosa 1.1: Manifesto Cinta”, bagian dari seperempat abad perjalanan Teater eL Na’ma.
Sementara M. Ramdhani membawa pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia musik, teater, dan pendidikan. Proses kreatif baginya menjadi ruang pertemuan antara intuisi dan eksperimen.
Ia juga merupakan pendiri Kamar Wina, ansambel gesek berbasis Ciputat, serta anggota Kedai Sufi yang mengeksplorasi musik spiritual.
Dimensi visual pertunjukan dipercayakan kepada M.J. Haeckal yang telah berkecimpung dalam seni pertunjukan sejak 2004.
Pengalamannya membentang dari aktor, pimpinan produksi, manajer panggung hingga penata visual dan video mapping. Ia juga terlibat dalam produksi teater, film pendek, dokumentasi video, dan berbagai kegiatan pertunjukan.
Sementara Tio Zulfan Amri membawa pendekatan intertekstual, lintas media, lecturer performance, dan dimensi spiritual manusia.
Penulis, editor, sutradara teater sekaligus dosen tersebut memulai perjalanan berkesenian di Teater eL Na’ma pada 2009 sebagai aktor dan penata artistik.
Dalam pertunjukan ini, pengalaman tersebut bertemu dengan perannya sebagai lecturer dan researcher. Panggung tidak hanya dibangun melalui praktik artistik, tetapi juga melalui proses membaca, meneliti, dan menafsirkan.
Perjalanan “Metamorphosa” tidak dimulai ketika lampu panggung dinyalakan.
Sebelumnya, digelar Diskusi Budaya bertajuk “Menafsirkan Cinta sebagai Jalan Transformasi Diri dan Budaya.”
Forum tersebut mempertemukan tokoh agama, akademisi, dan pelaku seni. Kyai Akhid Turmuzi hadir sebagai tokoh agama, Yushinta Eka sebagai akademisi, dan Lailatin Na’ma sebagai pelaku seni sekaligus pendiri dan Ketua Harian Yayasan eL Na’ma Indonesia.
Diskusi dibuka oleh pimpinan pondok pesantren sekaligus Kepala Sekolah M.A. Hasyim Asy’ari, K.H. Zainal Umam, Lc., MM.
Cinta dalam forum tersebut tidak hanya dibicarakan sebagai tema artistik.
Namun, ditempatkan sebagai daya transformatif. Sarat sentuhan persoalan spiritual dan krisis nilai dalam kehidupan modern, dalam kepurbaan zaman.
Perspektif agama, akademik, dan seni dipertemukan untuk membicarakan bagaimana cinta sebagai nilai spiritual, dapat menjadi dasar tindakan sosial dan spiritual.
Jika diskusi menawarkan ruang untuk berpikir, panggung kemudian menghadirkan pengalaman yang lebih tubuh dan emosional.
Keduanya menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
Ihwal ini tak ubahnya menjadi pengalaman dan pengamalan baru bagi siswa.
Kehadiran satu episode di lingkungan M.A. Hasyim Asy’ari juga mendapat respons positif.
K.H. Zainal Umam menyampaikan apresiasi atas dedikasi yang diberikan kepada anak-anak.
Meski tidak dapat menyaksikan langsung pertunjukan pada malam pementasan, ia menanyakan pengalaman para siswa pada pagi harinya.
Menurutnya, anak-anak merasa senang setelah menyaksikan pertunjukan.
Ia berharap kegiatan semacam itu dapat lebih sering digelar sehingga para siswa memiliki kesempatan untuk belajar sekaligus semakin mengenal dunia teater.
Hal senada disampaikan Wakil Kesiswaan M.A. Hasyim Asy’ari sekaligus pelatih ekstrakurikuler Teater Keramat, Nizar Maulana Akbar S.
Menurut Nizar, kehadiran pertunjukan itu menjadi inspirasi bagi Teater Keramat untuk mengembangkan kreativitas dan proses berkesenian para siswa.
Pertunjukan tersebut juga membuka wawasan bahwa teater dapat hadir dalam berbagai bentuk dan tidak selalu terbatas pada pementasan cerita secara konvensional.
Ini tidak hanya berbicara tentang cinta sebagai perasaan. Namun, berbicara tentang proses perubahan.
Tentang bagaimana manusia berhadapan dengan kehilangan, luka, keterikatan dan fanatisme, kemudian perlahan belajar melepaskan, menerima, dan tumbuh.
Cinta bergerak dari wilayah perasaan menuju kesadaran. Dari hubungan dengan orang lain menuju hubungan dengan diri sendiri. Dari transformasi personal menuju kemungkinan perubahan sosial dan spiritual.
Lampu panggung kemudian padam.
Musik berhenti. Pemain kembali menjadi dirinya sendiri. Kru mulai membereskan ruang pertunjukan. Penonton pulang membawa tafsir masing-masing.
Namun, mungkin di situlah teater benar-benar bekerja.
Bukan semata ketika penonton melihat panggung, tetapi ketika ada sesuatu dari panggung yang ikut dibawa pulang.
“Metamorphosa: Mozaik Cinta” meninggalkan sebuah impresi, bahwa mencintai tidak selalu berarti mempertahankan seseorang agar tetap tinggal.
Kadang, cinta justru berarti memahami, menerima, dan memberikan ruang.
Dan dalam proses itu, manusia mungkin menemukan bahwa yang sedang berubah bukan hanya hubungannya dengan orang lain, tetapi juga dirinya sendiri.(fik)
Editor : Mahendra Aditya