JEPARA — Industri mebel dan furniture Jepara, masih menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas produk berbahan kayu.
Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian ialah serangan hama, mulai dari rayap kayu kering hingga kumbang penggerek kayu.
Upaya pencegahan dinilai menjadi kunci agar produk furniture tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga kualitas dan daya tahan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, termasuk pasar ekspor.
DPD HIMKI Jepara menggelar diskusi bersama dengan ENVU.
Sejumlah hal yang dibahas mengenai, cara mengenal karakteristik hama rayap dan bubuk kayu, strategi pencegahan sejak pemilihan bahan baku.
Lalu, pemilihan chemicol atau teknik preservasi kayu yang tepat, serta studi kasus dan best practice industry furniture.
Perwakilan HIMKI DPD Jepara Eri Agus Susanto mengatakan, penanganan kayu harus dilakukan melalui tahapan yang tepat sejak awal. Hal serupa juga berlaku dalam proses finishing.
"Treatment kayu harus melalui step. Finishing juga sama. Kalau mau berkembang harus selalu belajar, supaya masalah yang timbul di customer tidak ada," katanya, Rabu (23/9).
Menurutnya, tantangan industri furniture tidak hanya berkaitan dengan pemilihan desain dan bahan baku.
Serangan hama juga menjadi persoalan yang harus diantisipasi, terlebih bahan yang digunakan industri tidak hanya kayu jati.
Berbagai jenis kayu memiliki tingkat kerentanan berbeda terhadap serangan organisme perusak kayu.
Karena itu, proses treatment menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk sebelum furniture sampai ke tangan konsumen.
Eri menyebut, edukasi kepada pelaku industri perlu dilakukan secara berkelanjutan.
'Furnitalk' menjadi salah satu ruang untuk berbagi pengetahuan, mulai dari treatment kayu hingga proses finishing dan berbagai jenjang pembelajaran lainnya.
Sementara itu, Territory Manager untuk Indonesia Timur ENVU, Muhammad Ramdhani, mengatakan pihaknya banyak bekerja dengan pelaku industri melalui jaringan distributor, termasuk di wilayah Indonesia Timur.
Dalam penanganan hama kayu, menurutnya, terdapat perbedaan antara serangan rayap kayu kering dan kumbang penggerek kayu.
Rayap kayu kering, kata dia, dapat dikenali salah satunya dari karakter kotorannya yang menyerupai butiran gula.
Di Jawa Tengah, salah satu jenis yang banyak ditemukan ialah Cryptotermes cynocephalus yang memiliki daya rusak terhadap kayu.
"Kalau kotorannya seperti gula, itu rayap kayu kering. Kalau seperti bubuk, biasanya kumbang," jelasnya.
Sementara kumbang penggerek kayu memiliki karakter berbeda.
Serangga tersebut memiliki tubuh yang terlindungi sayap, sehingga penanganannya membutuhkan produk atau pestisida dengan daya tembus yang sesuai.
Ramdhani mengatakan, informasi mengenai serangan hama tersebut menjadi perhatian.
Lantaran Jepara merupakan salah satu sentra industri mebel dan furniture, yang produknya telah menembus pasar luas.
"Di Jepara menjadi sentra industri mebel dan furniture. Sering diganggu hama rayap kayu kering dan kumbang penggerek kayu," imbuhnya.
ENVU, lanjutnya, memiliki sejumlah produk yang ditujukan untuk membantu mengendalikan organisme perusak kayu.
Pengaplikasiannya dapat dilakukan melalui metode yang telah umum digunakan praktisi industri, seperti perendaman, pengolesan dengan kuas, penyemprotan, maupun metode vakum tekan.
Treatment perlu dilakukan secara tepat agar perlindungan terhadap kayu dapat optimal.
Salah satu tahapan penting, ialah memastikan proses perendaman memenuhi standar yang telah ditentukan.
Ia menyebut, salah satu persoalan di lapangan adalah waktu perendaman yang belum selalu memenuhi standar. Karena pelaku industri harus menyesuaikan dengan target produksi dan keterbatasan waktu.
"Critical point-nya adalah memastikan rayap teratasi pada waktu perendaman. Waktu perendaman sesuai SNI belum tercapai karena target produksi dan keterbatasan waktu," katanya.
Jika proses treatment dilakukan sesuai tahapan dan standar yang ditetapkan, risiko serangan organisme perusak kayu dapat ditekan sejak awal sebelum produk masuk ke tahap berikutnya.
Ramdhani menambahkan, ENVU terus melakukan pendampingan kepada pelaku industri di sejumlah sentra furniture, antara lain Yogyakarta, Solo, Magelang, hingga Jawa Timur.
"Mayoritas yang kami lihat, industri banyak melakukan ekspor. Kami berkontribusi untuk meningkatkan daya saing," ujarnya.
ENVU sendiri, kata Ramdhani, memiliki aktivitas bisnis di lebih dari 100 negara.
Pengendalian hama menjadi bagian penting karena organisme perusak kayu bersifat adaptif terhadap kondisi lingkungan dan iklim.
"Harapannya bisa mendukung dan meningkatkan daya saing industri kayu level dunia. Jepara sudah sangat terkenal dan menarik di kancah internasional," tandasnya.(fik)
Editor : M. Khoirul Anwar