JEPARA — Jam dinding tergantung tegar, di ruang tamu rumah milik Dwi Bintang (25).
Warga Dukuh Karang Sondo RT 38/RW 6 Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji tersebut masih berharap pada takdir-takdir baik.
Agar sang suami, Mashudi (27), dapat kembali pulang ke rumah dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun.
Lima hari berselang, sejak Minggu (13/9) dini hari sekitar 02.00 WITA atau pukul 01.00 WIB, kapal yang ditumpangi sang suami dikabarkan tenggelam. Karam dihantam ombak.
Sebelumnya, suami Bintang berangkat dari Jepara ke Surabaya pada Jumat (11/9) siang, sekitar pukul 13.00.
Ia berangkat sendiri, mengendarai truk dengan muatan penuh mebel. Pesanan pembeli dari Banjarmasin.
Kemudian Sabtu (12/9) pagi, mengirim pesan WhatsApp, jika Mashudi akan naik kapal KM Virgo Transport 8 dari Surabaya.
Kapal bertolak sekitar pukul 10.13 WIB dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
"Sabtu sore saya kirim pesan WhatsApp lagi, bertanya kabar, tapi centang satu," ujarnya.
Bintang pun awalnya tak merasa khawatir, karena di laut ia pikir memang sedang tidak ada sinyal jaringan.
Kemudian pada Minggu (13/9), teman sesama sopir yang ada di Banjarmasin menanyakan kapal yang ditumpangi Mashudi belum terlihat sandar.
Sejak saat itulah, komunikasi Bintang dengan Mashudi terputus. Kecemasan ibu dari satu anak berusia tiga tahun itu semakin menjadi.
Belakangan diketahui, KM Virgo Transport 8 yang ditumpangi suaminya tak pernah benar-benar sandar di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Kapal barang dan penumpang itu karam, usai dihantam ombak besar di Perairan Masalembo, Laut Jawa atau perairan Kalimantan Selatan.
Mashudi merupakan salah satu dari tiga warga Jepara yang menjadi korban KM Virgo Transport 8.
Selain Mashudi, warga Jepara lainnya yang menjadi korban ialah Ilham Mukhamad Rojab (21), warga RT 4/RW 1 Desa Bantrung, Kecamatan Batealit. Hingga Kamis (17/9), keduanya masih belum ditemukan.
Sedangkan Abdul Kholeq (25), warga RT 4/RW 1 Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, otot kakinya putus. Kini ia masih menjalani perawatan di RSUD Ulin Banjarmasin.
Istri Mashudi, Dwi Bintang (25), warga Dukuh Karang Sondo RT 38/RW 6 Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, masih tak kuasa membendung tangisnya.
Ia semula mengetahui informasi kapal KM Virgo Transport 8 dari rekanan biro ekspedisi.
"Saya minta tolong untuk mencarikan informasi. Katanya mau dicarikan info, biro ekspedisinya bilang begitu," ucapnya, saat ditemui di rumah, pada Kamis (17/9).
Lalu pada Minggu (13/9) antara jam 09.00 hingga 10.00 pagi, biro ekspedisi bilang jika kapal ternyata tenggelam.
Bintang tidak menyangka atas peristiwa tersebut.
Pasalnya sang suami biasa mengirim barang mebelan Jepara lintas pulau. Luar Jawa, seperti Nias, Nusa Tenggara Timur maupun Medan.
"Bawa armada dan muatan (mebel, red) sendiri, tidak pakai kernet," katanya.
Pulang Mas. Selamat, Sehat, Berkumpul Lagi..
Sebelum menikahi Bintang, Mashudi sudah menjadi sopir.
Hingga kemudian dia membeli truk sendiri dan menjalankan pekerjaannya membawa muatan mebel Jepara lintas pulau.
Beberapa hari sebelum berangkat, tepatnya Kamis (10/9), Bintang terakhir bekerja di pabrik.
Hal itu dilakukan setelah sebelumnya Mashudi meminta istrinya berhenti bekerja. Agar dapat fokus mengasuh sang anak yang masih berusia tiga tahun.
"Gak usah kerja, Dik. Di rumah saja. Momong Rendra," sebutnya menirukan permintaan sang suami.
Ihwal tersebut pun dituruti.
Pada Kamis (10/9) Bintang terakhir bekerja. Agar dapat mengasuh sang buah hati, putra pertamanya secara maksimal.
Tidak ada firasat maupun kecurigaan sebelum Mashudi berangkat.
Semula, semua berjalan seperti biasa.
Hingga Kamis (17/9), pihaknya sudah mencoba mencari informasi ke rumah sakit di Banjarmasin.
Namun belum ada lampiran nama sang suami.
"Pulang, Mas. Selamat, sehat. Berkumpul lagi," ucap Bintang, meminta sang suami dengan doa, supaya dapat kembali pulang ke rumah dengan selamat.
Sejurus dengan kalimat itu, bulir-bulir air seperti kaca menetes dari matanya.
Tak sendiri, Kamis (17/9) ia dibersamai oleh tetangganya yang berusaha menguatkan hati. Doa-doa atas takdir baik terus dipanjatkan.(fik)
Editor : Ali Mustofa