Kembali Terjadi, Belasan Siswa di Jepara Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 18:05 WIB
TERULANG KEMBALI: Para siswa SDN Karangkebagusan dan SDN Kauman, yang mengalami dugaan keracunan usai menyantap menu MBG dari SPPG Jepara Karangkebagusan. (FOTO OLEH FARIDA LAYLISA DISEMPURNAKAN DENGAN AI)
TERULANG KEMBALI: Para siswa SDN Karangkebagusan dan SDN Kauman, yang mengalami dugaan keracunan usai menyantap menu MBG dari SPPG Jepara Karangkebagusan. (FOTO OLEH FARIDA LAYLISA DISEMPURNAKAN DENGAN AI)

JEPARA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jepara kembali menjadi sorotan. 

Belasan siswa termasuk guru di tiga sekolah diduga keracunan menu MBG pada Rabu (16/9).

Mereka mengeluh pusing, sakit perut hingga mual, usai memakan menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Karangkebagusan.

Hal ini menambah daftar buruk pengelolaan serta penerimaan MBG di Jepara.

Sebelumnya, pada Senin (6/9) lalu, terdapat 106 siswa dan 12 guru dari tiga sekolah yang mengalami keluhan serupa. 

Ketiga sekolah tersebut yakni SMK-MA Nawa Kartika dan SDN 1 Srobyong, yang berada dalam cakupan layanan SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 1.

Kali ini, pada Rabu (16/9) sedikitnya 17 siswa maupun guru mengalami gejala mual, pusing, dan diare. 

Meliputi tiga siswa SD Negeri Karangkebagusan dan SD Negeri Kauman sebanyak 13 siswa. Termasuk satu guru TK.

Para siswa termasuk guru, kemudian dibawa ke RS PKU Aisyiyah Jepara untuk mendapatkan penanganan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko membenarkan adanya kejadian tersebut. 

Laporan awal diketahui, terdapat bahan baku ayam fillet, yang dinilai kurang layak dalam proses penyiapan menu MBG di SPPG Karangkebagusan, milik Yayasan Sarwo Apik Indonesia.

SPPG tersebut mulai beroperasi pada 20 Agustus 2025 lalu.

Lebih lanjut disebutkan, menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, ayam katsu, tumis kol dan wortel, tahu goreng, serta anggur merah. 

SPPG Karangkebagusan sendiri memiliki setidaknya 2.688 penerima manfaat. Terdiri atas 2.158 siswa, 161 guru dan tenaga kependidikan, serta 369 kelompok 3B.

Hadi menjelaskan, kronologi pengolahan menu yang diduga menjadi pemicu gangguan pencernaan.

Ayam fillet sebanyak 2.750 potong diterima SPPG pada Selasa (15/9) sekitar pukul 15.18 WIB. Bahan tersebut diterima dalam kondisi fresh dan sebagian beku. 

Setelah melalui pengecekan awal, ayam yang beku kemudian menjalani proses thawing untuk selanjutnya diolah.

Proses thawing dilakukan dengan merendam ayam beku selama kurang lebih dua jam. 

Tim juga melakukan penyortiran terhadap ayam yang telah mencair, lalu mencucinya menggunakan air mengalir. 

Sementara ayam yang tidak beku mulai dicuci dan disortir sekitar pukul 16.22 WIB. Pada saat ini disebut belum ditemukan perubahan kualitas.

Namun, saat proses memasak sekitar pukul 02.00 WIB, tim pengolahan menemukan satu baskom berisi ayam yang telah mengalami perubahan bau. 

Ayam tersebut kemudian dipisahkan dan pengawas gizi menginstruksikan agar tidak digunakan. 

Sekitar pukul 03.00 WIB, pengawas gizi kembali melakukan pengecekan terhadap ayam katsu yang telah digoreng. 

Dari pemeriksaan tersebut ditemukan ada ayam yang dinilai layak dan ada pula yang dinilai tidak layak.

Pengecekan kembali dilakukan oleh ahli gizi bersama Kepala SPPG sekitar pukul 07.45 WIB saat proses pemorsian. 

Namun, sekitar pukul 08.58 WIB, pihak SD Negeri Karangkebagusan menyampaikan keluhan, mengenai kondisi ayam katsu yang dianggap sudah tidak layak. 

Meskipun menu tersebut beberapa sudah termakan oleh siswa dan guru. Namun yang belum termakan langsung dikoordinir agar tidak disentuh.

SPPG kemudian mengambil keputusan untuk menarik seluruh food tray yang telah didistribusikan.

“Sekitar pukul 09.45 WIB, staf SPPG mendatangi sekolah-sekolah penerima manfaat. Menarik makanan sekaligus meminta maaf kepada pihak sekolah,” ujarnya.

Juga dilakukan follow up untuk mengetahui apakah terdapat siswa yang mengalami keluhan, utamanya setelah mengonsumsi makanan tersebut. 

Pada pukul 10.18 WIB, para siswa dan guru yang mengalami gejala mual, pusing, dan diare, kemudian dibawa ke RS PKU Aisyiyah.

Pihak SPPG selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak terkait, dan melaksanakan evaluasi internal terhadap staf serta relawan. 

Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab persoalan, sekaligus mencegah kejadian serupa kembali terjadi. 

Hadi Sarwoko melanjutkan, penanganan terhadap siswa yang mengalami keluhan menjadi bagian penting dalam tindak lanjut kejadian tersebut. 

Sementara itu, penyebab pasti munculnya gejala pada para siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

“Menu makanan dan sampel air sudah dikirim (uji laboratorium, red),” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Siswa Jepara keracunan MBG Ayam fillet SDN Karangkebagusan SDN Kauman keracunan mbg