JEPARA — Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Mlonggo Sekuro 01, ditemukan adanya cemaran mikrobiologis pada selada dan buah anggur.
Termasuk dari air bersih yang digunakan untuk mencuci di SPPG milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah tersebut, juga ditemukan total coliform.
Semula, sebanyak 118 penerima manfaat, terdiri atas 106 siswa dan 12 guru, dilaporkan mengalami keracunan. Mengalami gangguan pencernaan. Baik dari SDN 1 Srobyong serta SMK-MA Nawa Kartika, bahkan belakangan disebut pihak yang terdampak mencapai 150-an.
Mereka mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan, pada Senin (7/9).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko menyebutkan, uji laboratorium sampel makanan telah diketahui hasilnya.
Dari sampel makanan yang dikirim petugas Puskesmas Mlonggo ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jepara, yakni ayam bakar, sambal, buah anggur, dan selada, ditemukan Escherichia coli (E. coli) pada sampel selada.
Sampel tersebut juga positif Yeast and Mold atau ragi dan kapang atau jamur.
Sementara itu, pada sampel buah anggur tidak ditemukan E. coli maupun bakteri patogen yang diuji.
Namun, sampel tersebut dinyatakan positif Yeast and Mold.
Adapun ayam bakar dan sambal menunjukkan hasil negatif untuk seluruh parameter mikrobiologi yang diperiksa, termasuk Bacillus cereus, Enterobacteriaceae, E. coli, Staphylococcus aureus, Salmonella sp., serta Yeast and Mold.
"Untuk sampel makanan, selada positif E. coli dan kapang atau jamur, termasuk anggur. Sedangkan sambal dan ayam bakar negatif," ungkapnya pada Selasa (15/9).
Temuan E. coli pada selada menjadi salah satu perhatian.
Sebab, bakteri tersebut lazim digunakan sebagai indikator kontaminasi fekal dalam pemeriksaan keamanan pangan.
Sementara keberadaan Yeast and Mold menunjukkan adanya cemaran mikroorganisme berupa ragi dan kapang pada sampel yang diuji.
Meskipun begitu, Hadi menegaskan hasil laboratorium tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh kejadian dugaan keracunan disebabkan oleh selada atau anggur.
Sebab, pemeriksaan laboratorium hanya berlaku terhadap sampel yang diambil dan diuji.
Sehingga penelusuran sumber kejadian tetap membutuhkan pemeriksaan menyeluruh, terhadap rantai penyediaan makanan.
Selain makanan, Dinkes Jepara juga melakukan pemeriksaan terhadap air bersih yang digunakan di SPPG Sekuro 01.
Hasilnya menunjukkan E. coli sebesar 0 CFU/100 ml, sehingga memenuhi baku mutu untuk parameter tersebut.
Namun, pemeriksaan menemukan Total Coliform sebesar 13 CFU/100 ml, sementara baku mutu yang tercantum dalam hasil pengujian adalah 0 CFU/100 ml.
Artinya, meskipun tidak ditemukan E. coli dalam sampel air tersebut, masih terdapat kelompok bakteri koliform yang membuat parameter Total Coliform tidak memenuhi baku mutu.
"Jadi, untuk E. coli pada air bersih tidak ditemukan dan sesuai dengan baku mutu. Namun masih ada kuman lainnya, yakni total coliform," jelasnya.
Kini, operasional SPPG Sekuro 01 untuk sementara ditutup oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Penerima manfaat dari SPPG tersebut juga akan dialihkan sementara ke SPPG terdekat, agar memastikan pemenuhan makanan tetap berjalan.
Lebih lanjut dijelaskan, Dinkes Jepara bersama tim satuan tugas (satgas) tingkat kecamatan juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap SPPG.
Pemeriksaan tidak hanya menyasar makanan yang telah jadi, tetapi seluruh rantai proses pengolahan pangan.
Selain itu, pemeriksaan mencakup higiene dan sanitasi dapur SPPG, pengelolaan sampah, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Langkah tersebut diperlukan untuk mencari titik yang berpotensi menjadi sumber kontaminasi. Termasuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
"Mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan atau produksi, penyajian, packing, sampai pendistribusian," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya