Kesaksian Guru SD di Mlonggo Jepara Usai Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 17:30 WIB
TUTUP: SPPG milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah tutup sementara, usai terjadi dugaan keracunan menu MBG. (GOOGLE MAPS SPPG JEPARA MLONGGO SEKURO I)
TUTUP: SPPG milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah tutup sementara, usai terjadi dugaan keracunan menu MBG. (GOOGLE MAPS SPPG JEPARA MLONGGO SEKURO I)

JEPARA — Dugaan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG), di Jepara masih berbuntut panjang. 

Salah satu guru turut memberikan kesaksiannya.

Sebelumnya, ratusan siswa di sejumlah sekolah mengeluh, mengalami gangguan pencernaan usai menyantap menu MBG dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Jepara Mlonggo Sekuro 1, pada Senin (7/9).

jeparaBaca Juga: Ratusan Siswa-Guru di Jepara Alami Gangguan Pencernaan Usai MBG, Ini Temuan di SPPG

Akibatnya, setidaknya 106 siswa dan 12 guru dari tiga sekolah yang mengalami keluhan serupa. 

Saat ini operasional SPPG juga diberhentikan sementara.

Ketiga sekolah tersebut yakni SMK-MA Nawa Kartika dan SDN 1 Srobyong.

Guru kelas VI SDN 1 Srobyong, Siti Nuranisah, mengatakan hingga Kamis (10/9), masih terdapat siswa di kelasnya yang izin tidak masuk sekolah karena sakit.

"Di kelas saya hari ini masih ada tiga anak yang izin sakit," hematnya, pada Kamis (10/9).

Menurutnya, semula, keluhan kesehatan mulai diketahui malam hari, setelah siswa menerima menu MBG pada Senin (7/9). 

Saat menjelang siang, siswa tetap menyantap makanan yang dibagikan seperti biasanya.

Namun, pada hari berikutnya, sejumlah siswa mulai izin tidak masuk sekolah dengan keluhan diare. Kondisi serupa juga dialami beberapa guru.

"Hampir setiap kelas ada yang diare, tetapi kejadiannya tidak langsung," jelasnya.

Siti mengaku dirinya juga mengalami diare. Keluhan itu dirasakan baik ketika berada di rumah maupun di sekolah.

"Saya juga diare di rumah dan di sekolah, sehari sekitar dua kali. Tapi saya tidak tahu apa penyebabnya," ujarnya.

Menurutnya, dari sisi rasa maupun kondisi menu MBG hari Senin (7/9) dari SPPG milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah yang dikonsumsi, tidak terdapat hal yang dianggap janggal. 

Menu yang diterima siswa saat itu berupa ayam taliwang, tahu goreng, sambal, dan lalapan.

"Saya tidak merasa sakit karena diare saya anggap hal biasa,” ucapnya.

Di sisi lain, Siti menilai program MBG memberikan manfaat bagi siswa. 

Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi, keberadaan program MBG juga dinilai dapat mengurangi pengeluaran siswa, untuk membeli makanan atau jajanan di sekolah.

Meski demikian, ia berharap aspek higienitas dan keamanan pangan dalam penyediaan MBG lebih diperhatikan. 

Terlebih setelah insiden yang dialami sejumlah siswa dan guru tersebut.

"Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi," tegasnya.

Menurutnya, penyedia makanan perlu lebih teliti dalam memastikan kesegaran bahan baku serta waktu pengolahan makanan. 

Hal itu penting agar makanan yang didistribusikan kepada siswa masih dalam kondisi layak konsumsi, tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Sementara itu, Siti menyebut pihak sekolah belum melakukan pembahasan khusus terkait dugaan keracunan maupun gangguan kesehatan tersebut. 

Pendataan keluhan siswa dilakukan melalui grup WhatsApp dengan mengisi tautan yang telah disediakan.

Saat ini, SPPG juga tutup sementara sejak Kamis (9/9). Sampel makanan tengah diuji laboratorium di Labkesda Jepara.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
Ratusan siswa keracunan MBG sppg jepara mlonggo sekuro 1 yayasan persyarikatan Muhammadiyah Gangguan pencernaan keracunan mbg