JEPARA — Sebanyak 118 penerima manfaat, terdiri atas 106 siswa dan 12 guru, dilaporkan mengalami keracunan.
Mereka mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Mlonggo Sekuro 01, pada Senin (7/9).
SPPG ini milik Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah.
Peristiwa tersebut baru dilaporkan kepada pihak SPPG pada Selasa (8/9) pagi.
Meskipun demikian, menu MBG pada hari Selasa (8/9) tetap didistribusikan.
Laporan awal diterima sekitar pukul 07.45 WIB dari pihak sekolah penerima manfaat.
Berdasarkan salinan laporan kejadian yang diterima Radar Kudus, SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 01 pada Senin (7/9) menyediakan sebanyak 1.650 paket MBG.
Paket tersebut didistribusikan kepada 11 sekolah penerima manfaat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 556 paket di antaranya dikirim ke SMK Nawa Kartika, MA Nawa Kartika, serta SD Negeri 1 Srobyong.
Menu yang diberikan pada hari itu terdiri atas nasi putih, ayam bakar taliwang, sambal terasi, saus tomat Del Monte sachet, tahu goreng, serta lalapan berupa timun dan kemangi.
Menu yang sama juga diberikan untuk penerima manfaat non-peserta didik atau kelompok 3B.
Keluhan semula muncul pada Senin (7/9) malam hari.
Pada Selasa (8/9) pagi, SPPG menerima informasi dari PIC sekolah, bahwa sejumlah siswa mengalami gangguan pencernaan.
Pihak SPPG kemudian melakukan observasi bersama Puskesmas Kecamatan Mlonggo ke tiga sekolah yang melaporkan adanya keluhan.
Hasil pendataan awal menunjukkan keluhan terjadi di SMK Nawa Kartika terhadap 33 siswa dan empat guru.
Di MA Nawa Kartika terdapat 13 siswa terdampak. Sementara di SD Negeri 1 Srobyong terdapat 60 siswa dan delapan guru yang mengalami keluhan.
Total penerima manfaat yang mengalami gangguan pencernaan berdasarkan pendataan tersebut mencapai 118 orang.
Keluhan yang dilaporkan berupa sakit perut dan diare.
Meski demikian, seluruh penerima manfaat yang terdata disebut tidak menjalani rawat jalan maupun rawat inap di Puskesmas atau rumah sakit.
Proses produksi dan penyajian menu MBG pun menjadi sorotan. Proses penyiapan menu pada Senin (7/9) telah dilakukan sejak malam, sebelum makanan didistribusikan.
Bahan baku ayam diterima pada Minggu (6/9) pukul 19.45 WIB dan kemudian dimasukkan ke freezer dalam kondisi beku.
Proses thawing daging ayam dilakukan mulai pukul 00.15 WIB.
Persiapan pembuatan bumbu dimulai sekitar pukul 20.00 WIB.
Ayam kemudian melalui proses pengungkepan hingga selesai sekitar pukul 22.35 WIB.
Setelah proses tersebut, ayam ungkep kembali dimasukkan ke freezer hingga pukul 02.24 WIB sebelum dikeluarkan untuk proses pembakaran.
Untuk ayam bakar, proses pembakaran dilakukan dalam tiga tahap.
Batch pertama mulai dibakar pukul 02.52 WIB dan selesai pukul 04.06 WIB.
Batch kedua mulai pukul 04.21 WIB dan selesai pukul 06.18 WIB.
Sedangkan batch ketiga mulai dibakar pukul 06.37 WIB dan selesai pukul 08.55 WIB.
Sementara itu, nasi mulai ditata ke dalam rice steamer sekitar pukul 03.04 WIB dan matang sekitar pukul 04.36 WIB.
Sambal terasi mulai dimasak pukul 03.02 WIB dan selesai pukul 05.12 WIB.
Pemorsian dilakukan dalam tiga sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 05.32-07.49 WIB, sesi kedua pukul 08.43-09.41 WIB, dan sesi ketiga pukul 10.40-11.15 WIB.
Distribusi dilakukan mulai sekitar pukul 07.52 WIB untuk pengiriman awal, sementara pengiriman berikutnya dimulai sekitar pukul 11.05 WIB.
Dalam pemeriksaan fasilitas SPPG, tim menemukan sejumlah kondisi yang perlu dievaluasi.
Laporan mencatat terdapat tempat sampah kecil yang tidak tertutup di samping wastafel ruang produksi.
Selain itu, terdapat potensi kontaminasi silang yang berkaitan dengan proses persiapan ayam ungkep, yang dilakukan terlalu awal.
Pada bagian analisis, laporan menyebut proses produksi secara umum telah sesuai SOP.
Namun, terdapat persoalan pada tata letak loading in dan loading out yang masih berada di satu tempat.
Faktor lain yang dinilai berpotensi berkontribusi keracunan ialah jeda waktu persiapan, serta kemungkinan kontaminasi silang ketika proses loading in dan loading out.
Kendati demikian, laporan khusus tersebut belum menetapkan satu penyebab pasti atas gangguan pencernaan.
Disebutkan dugaan sementara berkaitan dengan air yang digunakan, yakni penggunaan air keran dan bukan air galon.
Sampel makanan telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan untuk dilakukan uji laboratorium.
Penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi lebih lanjut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, menyebut kondisi akibat kejadian tersebut saat ini sudah terkendali.
"Sudah terkendali dan Alhamdulillah tidak ada yang serius," ujarnya, Rabu (9/9).
Meski kondisi telah terkendali, Dinas Kesehatan tetap melakukan pemantauan.
Monitoring biasa dilakukan oleh tim Puskesmas sebanyak dua kali dalam sepekan.
Hadi menyebut waktu pelaksanaan monitoring tidak diinformasikan kepada pihak SPPG.
Menurutnya, pola tersebut dilakukan agar pengawasan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
"Kalau mendampingi setiap hari ya tidak mungkin, karena sudah ada pengawas gizinya sendiri," ucapnya.
Penanganan kejadian saat ini berlanjut pada tahap pengawasan, evaluasi, serta penelusuran penyebab.
Sementara hasil laboratorium terhadap sampel makanan menjadi salah satu bagian penting. Guna memastikan apakah gangguan pencernaan tersebut berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi para penerima manfaat.
Pihak SPPG sendiri dalam laporan khususnya merekomendasikan pemeriksaan terhadap kepala SPPG dan sumber daya manusia terkait, evaluasi SOP, infrastruktur dan proses produksi.
Maupun pengamanan serta penelusuran sampel makanan atau batch terkait, serta pelaksanaan tindakan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi.
Hasil pasti penyebab dugaan keracunan, masih menunggu pemeriksaan di Labkesda.(fik)
Editor : Mahendra Aditya