Umat Tionghoa Jepara Kirim Arwah Sembahyang King Hoo Ping, Bagikan Ribuan Sembako

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 18:44 WIB
PEDULI SESAMA: Ribuan paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat, di Kelenteng Hok Tek Bio Welahan, pada Rabu (9/9).
PEDULI SESAMA: Ribuan paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat, di Kelenteng Hok Tek Bio Welahan, pada Rabu (9/9). (KELENTENG WELAHAN UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Di tengah suasana pada Rabu (9/9) pagi, aktivitas di sekitar Kelenteng Hok Tek Bio Welahan tampak berbeda. 

Ribuan paket sembako disiapkan dan dibagikan kepada masyarakat. 

Tak hanya sekadar kegiatan sosial, pembagian tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi King Hoo Ping. Ini ritual sembahyang arwah dalam tradisi masyarakat Tionghoa.

Setidaknya 3.500 paket sembako dibagikan Kelenteng Hok Tek Bio Kecamatan Welahan. Masing-masing paket berisi beras 3,5 kilogram, mi instan, dan minuman kemasan.

Tradisi ini menjadi sarana untuk mengenang dan menghormati leluhur yang telah meninggal dunia. Penghormatan itu diterjemahkan dalam bentuk kepedulian sosial.

Ketua Yayasan Kelenteng Welahan, Dicky Sugandi menyebutkan King Hoo Ping menjadi salah satu tradisi umat Tionghoa, untuk memberikan penghormatan kepada para leluhur.

Sembahyang dan doa tidak hanya ditujukan kepada leluhur yang masih dikenang dan dirawat oleh keluarga. Namun, juga diberikan kepada mereka yang sudah tidak terawat, tidak lagi disembahyangi, maupun tidak lagi dikunjungi.

“Ini sebagai tindak lanjut dari ritual tradisi orang Tionghoa, sembahyang King Hoo Ping, sebagai penghormatan kepada leluhur yang sudah meninggal dunia,” jelasnya, Rabu (9/9).

Dari ritual ini, nilai penghormatan kemudian diwujudkan dalam laku bakti sosial. 

Doa untuk leluhur berjalan beriringan, dengan berbagi makanan dan kebutuhan pokok kepada masyarakat yang membutuhkan.

Penerimanya tidak hanya pada masyarakat di lingkungan kelenteng. Tetapi juga diberikan kepada umat Islam, Buddha, dan Nasrani. 

Sebagian paket bahkan dikirimkan langsung kepada penerima. Sejumlah panti jompo serta panti disabilitas di Jepara turut menerima bantuan tersebut.

Menurutnya, berbagi dalam rangkaian King Hoo Ping bukan sekadar membagikan kebutuhan pokok. Ada laku spiritual yang ingin terus dijaga dari tradisi tersebut.

“Maknanya sendiri yaitu pelimpahan jasa untuk leluhur yang telah lebih dulu berpulang. Harapannya arwah leluhur bisa bebas dari penderitaan,” tuturnya.

Tradisi berbagi makanan dalam rangkaian King Hoo Ping tersebut telah dilakukan pihak kelenteng selama kurang lebih tiga tahun terakhir. 

Di samping pembagian ribuan paket sembako, pihaknya juga menyediakan setidaknya 400 porsi makanan gratis.

Dicky menyebutkan, eembako yang dibagikan berasal dari sumbangan umat Tionghoa. 

Dijelaskan lebih lanjut, puncak sembahyang King Hoo Ping di Kelenteng Hok Tek Bio Welahan telah dilaksanakan Minggu (6/9) lalu, bertepatan dengan hari ke-25 bulan ke-7 dalam penanggalan Imlek.

Rangkaian tradisi itu pun menjadi gambaran, penghormatan kepada leluhur dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

“Kami saling menghormati antar sesama umat. Hidup rukun. Bahkan setiap tahun kami rutin menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk. Ini juga bagian dari menghormati adat tradisi Jawa, karena kami menapaki tanah ini,” jelasnya.

Di satu sisi, pihaknya juga terus berupaya menghadirkan berbagai macam pertunjukan di kawasan Kelenteng Welahan.

Sehingga diharapkan area tersebut dapat menarik wisatawan, serta menjadi kawasan yang hidup. Baik dari segi pemeriahan tradisi budaya maupun keagamaannya.

“Riwayatnya dulu Ibu Kartini juga pernah berobat ke Kelenteng Welahan. Ini bisa menjadi eduwisata tersendiri. Karena secara historis banyak mengandung sejarah penting,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
King Hoo Ping Sembahyang arwah kelenteng welahan