KELING — Tirai malam mulai turun di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara.
Di tengah kemarau berkepanjangan ini, sejumlah warga berkumpul di sebuah petilasan yang berada di antara tempat ibadah.
Petilasan Mbah Kamunoyoso, yang terletak di samping Masjid Nurul Hikmah dan Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ), menjadi tempat warga menggelar tradisi Bari’an Dawet, pada Kamis (3/9) malam.
Usai Maghrib, suasana di sekitar petilasan berubah. Doa-doa dipanjatkan, bunga dan menyan disiapkan.
Sementara, cendol dan dawet tak ketinggalan. Hal itu menjadi bagian penting dalam prosesi adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Di tempat itu pula, tradisi Jawa dan doa keagamaan berjalan berdampingan.
Sebelumnya, sebagian warga melaksanakan salat Istisqa di masjid. Dilanjutkan doa bersama dan membaca ayat-ayat Alquran.
Setelah itu, prosesi adat Bari’an Dawet dilakukan di petilasan.
Juru kunci Petilasan Mbah Kamunoyoso, Pairi (80) didampingi Supono (56), mengatakan Bari’an Dawet merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Tempur secara turun-temurun.
Tradisi tersebut digelar, setiap kali kemarau berlangsung panjang.
"Orang tua dulu menggunakan tradisi ini. Dilakukan pada waktu tertentu, terutama ketika kemarau berkepanjangan," ucapnya.
Menurutnya, masyarakat memiliki anggapan bahwa pada Agustus seharusnya hujan mulai turun.
Ketika hujan belum juga datang hingga memasuki September, kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan digelarnya Bari’an Dawet.
"Intinya meminta (restu diberi, red) hujan," imbuhnya.
Dalam tradisi tersebut, dawet atau cendol bukan untuk dihidangkan.
Bentuk cendol dan dawet yang berupa butiran atau memanjang, dimaknai sebagai simbol air hujan.
Dawet kemudian disiramkan kepada dua orang yang menjadi pemangku prosesi, yakni juru kunci dan pendampingnya.
Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, bagian tersebut menjadi satu hal yang harus dilakukan. Cendol dan dawet tersebut harus mengenai tubuh pemangku adat.
Prosesi dimulai dengan juru kunci menghidupkan menyan di dalam punden Mbah Kamunoyoso.
Setelah itu, warga diajak berdoa. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyiraman dawet, sebagai bagian dari ritual permohonan hujan.
Pairi menyebut tidak ada rangkaian khusus yang rumit dalam tradisi tersebut.
Doa dilakukan secara Jawa dengan perlengkapan berupa menyan dan bunga-bungaan.
Tradisi Bari’an Dawet juga memiliki ketentuan waktu.
Prosesi dilaksanakan setelah Maghrib. Secara turun-temurun dilakukan pada Jumat Wage. Lokasinya pun tetap berada di Petilasan Mbah Kamunoyoso di Desa Tempur.
"Kalau dilakukan di tempat lain tidak bisa. Di Tempur ya di petilasan ini," tuturnya.
Tradisi tersebut terbuka bagi masyarakat, baik warga Desa Tempur maupun masyarakat dari luar desa.
Bagi warga Tempur, Bari’an Dawet bukan hanya tentang meminta hujan.
Di dalamnya terdapat ingatan kolektif tentang bagaimana masyarakat terdahulu menghadapi perubahan musim, sekaligus menjaga hubungan dengan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Pemuda Desa Tempur, Lusi Noor Christina (26), mengaku terkesan melihat kembali tradisi yang dilakukan para tetua dan sesepuh desa tersebut.
Ia berharap generasi sekarang tidak sekadar mengetahui bahwa tradisi itu pernah ada, tetapi juga mau mempelajari makna yang terkandung di dalamnya.
Dalam hidup, alam semesta digambarkan sebagai buana agung atau macrocosmos. Sedangkan manusia menjadi buana alit, atau microcosmos.
Pelaksanaan tradisi Bari’an Dawet juga menjadi irisan tak terpisahkan dalam istilah tersebut.
Pesan mendalamnya, alam semesta seyogianya selalu harmonis dengan manusia, begitu pun sebaliknya.
"Harapannya generasi sekarang bisa ikut melestarikan dan mau belajar makna tradisi yang sudah ada secara turun-temurun. Yang utama, bisa saling menghargai, terlepas dari kepercayaan yang diimani," jelasnya.
Menurut Lusi, keberadaan Bari’an Dawet menjadi salah satu gambaran tersendiri. Tradisi masyarakat, dapat terus hidup ketika generasi muda mau mengenal dan menghargainya.
Sementara itu, pemudi Desa Tempur lainnya, Vian Sheila Tronexa (28), juga menyampaikan pandangannya mengenai pelaksanaan tradisi tersebut.
Menurutnya, Bari’an Dawet menjadi bagian dari kekayaan budaya desa, yang perlu dikenalkan kepada generasi penerus.
Ia menilai, tradisi semacam itu tidak hanya berkaitan dengan prosesi adat, tetapi juga menyimpan nilai kebersamaan masyarakat.
Warga berkumpul, berdoa, dan menghidupkan kembali tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
“Ya kalau harapan kami, langit segera berubah, hujan turun, dan tanah Tempur kembali merasakan air,” pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa