JEPARA — Kintelan, makanan tradisional khas Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, kini memasuki tahap verifikasi. Untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat mengatakan, berbagai tahap telah ditempuh.
Terakhir, pada Rabu (2/9) sore, pihaknya bersama Pemerintah Desa Tegalsambi mengikuti proses verifikasi secara daring.
Bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah, serta dewan juri dari pemerintah pusat.
“Kemarin sore Rabu (2/9) baru Zoom dengan Dinbudparekraf Provinsi dan dewan juri dari pusat,” tuturnya, pada Kamis (3/9).
Proses sidang berlangsung di Jakarta. Sementara Pemerintah Desa Tegalsambi mengikutinya melalui Zoom dari Aula Balai Desa Tegalsambi.
Dalam proses tersebut, sejumlah pertanyaan disampaikan dewan juri dan dijawab oleh pihak yang mengikuti verifikasi.
Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santoso mengatakan, pihaknya kini tinggal menunggu hasil penetapan.
Ia berharap Kintelan dapat menyusul Perang Obor yang lebih dulu ditetapkan sebagai WBTb, pada 2022 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Semoga harapan kami Kintelan bisa masuk sebagai warisan budaya tak benda, mendampingi Perang Obor yang sudah beberapa tahun yang lalu,” sambungnya.
Menurut Agus, Kintelan bukan sekadar jajanan tradisional. Makanan berbahan dasar ketan tersebut memiliki sejarah yang lekat dengan tradisi sedekah bumi di Desa Tegalsambi.
Hampir seluruh warga setempat, sebutnya, dapat membuat Kintelan.
“Kintelan ini jajanan yang memiliki historis. Terbuat dari ketan, istilahnya ngeraketke ikatan. Munculnya setiap tahun sekali saat sedekah bumi,” jelasnya.
Kintelan juga menjadi bagian dari momentum berkumpulnya warga.
Pada puncak kegiatan sedekah bumi, warga yang merantau biasanya menyempatkan diri pulang ke Tegalsambi.
Seiring ditetapkannya Tegalsambi sebagai desa wisata melalui SK Desa Wisata pada 2020, produksi Kintelan kemudian dikembangkan lebih luas.
Tidak lagi hanya dibuat menjelang sedekah bumi. Makanan tersebut mulai diproduksi secara lebih masif, untuk memenuhi permintaan masyarakat dan wisatawan.
“Semula setiap sedekah bumi. Sekarang kami upayakan Kintelan menjadi snack atau jajanan. Sejak saat itu ramai pesanan,” imbuhnya.
Pengembangan pun terus dilakukan bersama kelompok ibu-ibu PKK. Jika sebelumnya Kintelan hanya dibuat dengan cita rasa original, kini muncul berbagai inovasi, termasuk varian rasa dan warna seperti nanas, nangka, hingga durian.
Di sisi lain, Desa Tegalsambi juga tengah menanti hasil penilaian dalam ajang lomba desa tingkat nasional.
Usai sebelumnya terpilih sebagai juara pertama lomba desa, Tegalsambi telah mengirimkan berbagai persyaratan untuk mengikuti tahapan selanjutnya.
Tegalsambi kini bersaing dengan tujuh desa yang menjadi perwakilan sejumlah daerah, yakni Bali, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, serta DKI Jakarta.
“Persyaratan sudah kami kirimkan, baik video maupun administrasi. Sekarang tinggal menunggu penilaiannya,” katanya.
Dari tujuh peserta tersebut, nantinya akan dipilih lima besar. Masing-masing desa akan menunjukkan potensi unggulannya, termasuk potensi budaya, ekonomi, maupun inovasi yang berkembang di masyarakat.
Selain Perang Obor, bagi Tegalsambi, Kintelan menjadi salah satu potensi yang dapat ditonjolkan.
Sebab, meskipun terdapat makanan tradisional lain yang memiliki kemiripan, Kintelan memiliki keterkaitan sejarah dengan tradisi sedekah bumi dan kehidupan sosial masyarakat Tegalsambi.
“Memang ada beberapa makanan yang mirip, tapi Kintelan di sini (Tegalsambi, red) punya sejarah. Kami memulai pengajuannya dari ini dulu, jajanan lainnya dapat menyusul,” pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa