Kain Tenun Troso Jepara Bikin Pengunjung Pameran Terpikat, Motifnya Punya Cerita

M. Khoirul Anwar • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:47 WIB
TERPIKAT: Tenun Troso Jepara mencuri perhatian pengunjung Apkasi Otonomi Expo 2026. Motif Bulu Perindu dan Bahari dikenalkan ke pasar lebih luas.
TERPIKAT: Tenun Troso Jepara mencuri perhatian pengunjung Apkasi Otonomi Expo 2026. Motif Bulu Perindu dan Bahari dikenalkan ke pasar lebih luas.

 

TANGERANG – Kain tenun dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara, mencuri perhatian pengunjung Apkasi Otonomi Expo 2026 di ICE BSD, Tangerang. Sejumlah pengunjung bahkan mengaku baru mengetahui Jepara memiliki produk tenun dengan karakter khas dan nilai budaya yang kuat.

Salah satunya Susanto. Ia baru mengetahui keberadaan tenun khas Jepara setelah melihat produk tersebut di stan pameran. Setelah mengamati bahan dan coraknya secara langsung, ia memutuskan membeli kain tersebut.

“Tenun Jepara ini bagus sekali. Tadi saya merasakan langsung, halus bahannya, enak, nyaman di kulit,” kata Susanto di ICE BSD, Kamis (27/8/2026).

Tenun Troso Kenalkan Warisan Budaya Jepara

Susanto mengatakan, dirinya tertarik dengan karakter corak tenun Jepara yang dinilai berbeda. Selain kualitas bahan, nilai warisan budaya yang melekat pada produk tersebut menjadi alasan lain untuk membelinya.

“Saya kira ini heritage yang bagus sehingga saya beli,” ujarnya.

Ketertarikan serupa disampaikan Agung, pengunjung yang juga berasal dari HIPMI Kota Bandung. Ia mengaku baru mengetahui bahwa Jepara memiliki produk tenun yang menurutnya memiliki kualitas dan karakter menarik.

“Saya baru tahu ternyata Jepara memiliki kain tenun yang luar biasa,” tuturnya.

Produk yang dipamerkan tersebut merupakan kain tenun produksi perajin Desa Troso, Kecamatan Pecangaan. Perajin Nadya Anjani membawa sejumlah motif untuk diperkenalkan kepada pengunjung Apkasi Otonomi Expo 2026.

Ada Motif Bulu Perindu hingga Bahari

Nadya mengatakan, sejumlah motif yang dibawa dalam pameran memiliki cerita dan konsep masing-masing.

Salah satunya motif Bulu Perindu yang dibuat dengan memanfaatkan limbah kain tenun. Ada pula motif Bahari yang terinspirasi dari jaring yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

Menurut Nadya, proses pembuatan satu helai kain tenun membutuhkan waktu cukup panjang. Rata-rata diperlukan waktu sekitar tiga hingga empat bulan hingga kain selesai diproduksi.

Produk tenun tersebut selama ini dipasarkan melalui berbagai pameran, termasuk Inacraft. Pemasaran juga dilakukan melalui Dekranasda Kabupaten Jepara.

Proses produksi yang panjang sekaligus kekhasan motif membuat kain tenun Troso tidak hanya menjadi produk fesyen, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya dan kerajinan Jepara.

Pemkab Jepara Jajaki Pasar Luar Jawa

Kepala Disperindag Jepara Anjar Jambore Widodo mengatakan, tenun Troso menjadi salah satu produk unggulan yang dibawa dalam Apkasi Otonomi Expo 2026.

Selain tenun, Jepara turut memperkenalkan sejumlah produk lain seperti kerajinan, kaligrafi, makanan khas, hingga kopi.

Pameran tersebut juga menjadi kesempatan bagi Pemkab Jepara untuk memperluas jaringan pemasaran produk industri kecil dan menengah (IKM).

Anjar mengatakan, Pemkab Jepara mulai menjajaki peluang perdagangan dengan sejumlah kabupaten di luar Jawa.

Penjajakan pasar tersebut nantinya akan ditindaklanjuti melalui pendampingan kepada IKM binaan. Harapannya, produk lokal Jepara tidak hanya dikenal melalui pameran, tetapi mampu membuka pasar baru dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Editor : Admin
Tenun Jepara Apkasi Otonomi Expo 2026 IKM Jepara tenun troso umkm jepara