JEPARA — Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara terus memperkuat peran perguruan tinggi, dalam menjawab persoalan masyarakat.
Utamanya melalui riset dan pengabdian yang berbasis pada potensi lokal.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kegiatan diseminasi hasil riset dan pengabdian kepada masyarakat, pada Kamis (27/8) di Aula Lantai 4 Perpustakaan Unisnu.
Kegiatan diseminasi digelar untuk memperkenalkan sekaligus mengukur sejauh mana pengetahuan dan inovasi, dikembangkan di kampus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sejumlah pemangku kebijakan dari sejumlah instansi Pemkab Jepara turut hadir. Di antaranya Bappeda maupun sejumlah Camat.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisnu Jepara, Mayadina Rohmi Musfiroh, mengatakan riset dan pengabdian yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian kegiatan.
Tetapi diarahkan agar menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
Menurutnya, pengabdian Unisnu juga menyasar wilayah kepulauan di Karimunjawa, termasuk Pulau Parang dan Pulau Nyamuk.
Kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya kampus untuk memastikan pengembangan pengetahuan dan teknologi tidak hanya terpusat di wilayah daratan.
“Hasil riset dan pengabdian ini merupakan bentuk akuntabilitas. Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang dikerjakan dosen dan peneliti tidak berhenti sebagai karya, tetapi benar-benar kembali kepada masyarakat,” ujarnya.
Hingga kini, Unisnu Jepara mencatat sebanyak 182 penelitian dan 702 kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut melibatkan 68 desa mitra yang tersebar di setiap kecamatan di Jepara, dengan dukungan 262 dosen dan peneliti.
Khusus kegiatan pengabdian, jumlahnya tercatat sebanyak 59 kegiatan pada 2020, 28 kegiatan pada 2021, 61 kegiatan pada 2022, 78 kegiatan pada 2023, 191 kegiatan pada 2024, 91 kegiatan pada 2025, dan 40 kegiatan pada 2026.
Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Kedung, Tahunan, Batealit, Bangsri, dan Mlonggo menjadi kawasan dengan intensitas pengabdian yang cukup tinggi.
Mayadina menjelaskan, arah riset dan pengabdian Unisnu berangkat dari potensi sekaligus persoalan yang ada di masyarakat.
Karena itu, sektor-sektor yang menjadi kekuatan lokal Jepara, seperti perikanan, mebel, maupun kerajinan Troso, menjadi bagian dari perhatian kampus.
“Potensi lokal ini kami coba optimalkan melalui riset. Hasil riset kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pengetahuan, pendampingan, maupun teknologi yang bisa digunakan,” ucapnya.
Salah satu pendekatan yang terus didorong ialah pemanfaatan teknologi tepat guna.
Teknologi tersebut diharapkan dapat mengintegrasikan pengetahuan akademik, dengan kebutuhan masyarakat sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap penelitian.
“Teknologi tepat guna menjadi salah satu cara untuk mengintegrasikan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat. Jadi, teknologi yang dikembangkan memang harus sesuai dengan persoalan dan kondisi masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, diseminasi hasil riset dan pengabdian juga menjadi momentum untuk memetakan karya-karya dosen dan peneliti.
Pemetaan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk melakukan replikasi maupun hilirisasi inovasi di wilayah lain.
“Ini bukan sekadar daftar karya. Kami ingin membangun peta karya dosen yang bisa menjadi pijakan untuk replikasi dan hilirisasi. Dengan begitu, budaya riset bisa terus tumbuh, tetapi tetap menjaga relevansi dan keberlanjutannya,” imbuhnya.
Ia menegaskan, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian yang selesai dikerjakan.
Riset harus dapat dipertanggungjawabkan dan terus bekerja memberikan manfaat di tengah masyarakat.
“Kami ingin riset yang tidak hanya selesai sebagai laporan, tetapi terus bekerja di masyarakat. Harapannya, dampak kehadiran Unisnu semakin nyata dalam menghadirkan manfaat,” terangnya.
Upaya tersebut sejalan dengan arah Unisnu sebagai community development university. Yakni perguruan tinggi yang membangun pengetahuan dengan berangkat dari persoalan masyarakat, sekaligus menghadirkan solusi berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, Rektor Unisnu Jepara Abdul Djamil mengatakan kampus harus terus membuka ruang dialog dengan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri tanpa mendengarkan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Jadi kampus harus berdialog dengan masyarakat,” sambungnya.
Ia mencontohkan, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kerap tidak berhenti ketika kegiatan tersebut selesai.
Dalam sejumlah kasus, mahasiswa justru diminta kembali oleh masyarakat untuk melanjutkan pendampingan.
Hal tersebut menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan, pendampingan, dan inovasi yang dapat diberikan perguruan tinggi secara berkelanjutan.
Abdul Djamil menilai keberlanjutan kolaborasi menjadi penting agar hubungan antara kampus dan masyarakat tidak bersifat temporer.
"Melalui riset, pengabdian, dan pendampingan, Unisnu berupaya membangun kerja sama yang dapat berlangsung dalam jangka panjang," pungkasnya.(fik)
Editor : Support