KEDUNG – Suasana berbeda terlihat di API Syarif Hidayatullah, RT 12/RW 3, Desa Sukosono, Kecamatan Kedung, Jepara, Selasa (25/8/2026) malam. Puluhan santri dan wali santri mengikuti peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan pementasan teatrikal kisah kelahiran Rasulullah.
Rangkaian kegiatan diawali tahlil selepas salat Magrib. Setelah salat Isya berjamaah, para santri dan wali santri disuguhi pementasan yang dikemas dengan dialog ringan dan melibatkan sejumlah pemeran.
Kisah Nabi Disampaikan Lewat Teatrikal
Dua pemeran santri, Bagas dan Bagus, tampil berinteraksi dengan puluhan santri dan wali santri. Keduanya diceritakan saling mengejek hingga akhirnya dilerai seorang pedagang asongan bernama Mukidi.
Mukidi kemudian mengingatkan bahwa seorang santri harus meneladani Nabi Muhammad SAW dengan saling menyayangi dan tidak saling merendahkan.
Dari dialog tersebut, muncul pertanyaan mengapa suasana malam itu ramai. Jawabannya, mereka sedang memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Cerita kemudian berlanjut pada kisah Tahun Gajah yang berkaitan dengan kelahiran Rasulullah.
Mukidi mengisahkan Raja Abrahah yang datang dengan pasukannya untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, Allah SWT melindungi Ka’bah dengan mengirim burung Ababil yang menggagalkan pasukan tersebut.
Pementasan dibuat lebih visual. Salah seorang pemeran membawa replika gajah dan berjalan mengelilingi halaman musala. Sementara itu, replika burung yang digantung di halaman menggambarkan burung Ababil.
Kisah tersebut kemudian mengantarkan pada cerita kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Rebana dan Sholawat Menggema
Suasana semakin khidmat ketika kelompok rebana Syahida Nada mulai memainkan tabuhan. Hadirin kemudian berdiri mengikuti mahalil qiyam.
Sholawat menggema di halaman API Syarif Hidayatullah. Para santri, wali santri, dan pengasuh mengikuti rangkaian tersebut. Lalu para santri bergantian mengambil buah dari “Pohon Cinta”. Buah tersebut sebelumnya telah disiapkan dan diisi oleh para wali santri.
Pohon Cinta menjadi simbol harapan agar para santri mendapatkan keberkahan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sebagai uswatun hasanah.
Agar Kisah Nabi Melekat di Ingatan Santri
Pengasuh API Syarif Hidayatullah K. A. Fathan mengatakan, konsep peringatan tersebut sengaja dibuat berbeda agar kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW lebih mudah diingat para santri.
Menurut dia, penyampaian materi secara langsung terkadang mudah dilupakan anak-anak. Karena itu, kisah kelahiran Rasulullah dikemas dalam bentuk teatrikal yang melibatkan santri secara langsung.
“Kalau hanya diceritakan, anak-anak mudah lupa. Karena itu kami membuat cara yang berbeda agar kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW bisa melekat di ingatan para santri,” ujar Fathan.
Melalui pementasan tersebut, para santri tidak hanya mengikuti peringatan Maulid Nabi, tetapi juga diajak memahami nilai keteladanan Rasulullah, seperti saling menyayangi, menghormati sesama, dan menjaga akhlak.
Peringatan Maulid Nabi di API Syarif Hidayatullah pun berlangsung dengan suasana meriah sekaligus sarat pesan edukasi bagi para santri dan wali santri.
Editor : Admin