Grebeg Mulud Njeporonan Jepara Kembali Digelar, 26 Pusaka Dikirab dalam Balutan Tradisi dan Sejarah

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 13:28 WIB
KHIDMAT: Para resi yang membawa pusaka saat kirab Sad Wisati Nagari dari Kompleks Masjid dan Makam Ratu Kalinyamat-Sultan Hadlirin menuju Pendopo Kabupaten Jepara, pada Sabtu (22/8) malam. (PANITIA GREBEG MULUD UNTUK RADAR KUDUS)
KHIDMAT: Para resi yang membawa pusaka saat kirab Sad Wisati Nagari dari Kompleks Masjid dan Makam Ratu Kalinyamat-Sultan Hadlirin menuju Pendopo Kabupaten Jepara, pada Sabtu (22/8) malam. (PANITIA GREBEG MULUD UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Tradisi Grebeg Mulud Njeporonan kembali digelar di Kabupaten Jepara. 

Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, rangkaian tradisi budaya tersebut berlangsung semarak. Menggabungkan ritual ruwat bumi, pameran tosan aji, aktivitas besalen atau menempa pusaka, jamasan, hingga kirab 26 pusaka.

Tak sekadar menjadi perayaan kebudayaan. Grebeg Mulud Njeporonan juga menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan hasil bumi.

Ketua Panitia Penyelenggara Grebeg Mulud Njeporonan, KRT Khoirul Anam Setyonagoro, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.

Rangkaian kegiatan diawali pada Kamis (20/8) malam melalui Kenduri Ruwat Bumi. 

Dalam prosesi tersebut, tanah dan air yang diambil dari berbagai desa di Kabupaten Jepara disatukan. Sebagai simbol persatuan sekaligus penghormatan terhadap bumi dan sumber kehidupan.

Tanah dan air tersebut kemudian didoakan bersama. Prosesi diisi dengan pembacaan Maulid Nabi, khataman Al-Qur'an, kekidungan, serta doa bersama yang melibatkan masyarakat lintas agama.

“Ruwat bumi ini menjadi simbol bahwa kita hidup dari tanah dan air. Semuanya disatukan, kemudian didoakan bersama sebagai bentuk rasa syukur,” ungkapnya, Senin (24/8).

SUNYI: Para resi tekun, menempuh jarak setidaknya 4 kilometer saat kirab, pada Sabtu (22/8) malam.
SUNYI: Para resi tekun, menempuh jarak setidaknya 4 kilometer saat kirab, pada Sabtu (22/8) malam.

Rangkaian berlanjut pada Jumat-Sabtu (21-22/8) melalui Exhibition Panem Wojo yang digelar di Museum Kartini Jepara. 

Pameran tersebut menghadirkan paguyuban empu-empu muda asli Jepara bersama Senopati Nusantara. Kegiatan turut dihadiri Wakil Sekretaris Jenderal Senopati Nusantara, Mpu Nurjianto. 

Beragam tosan aji ditampilkan dalam pameran, termasuk Keris Kanjeng Kyai Ngabdullah milik Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi.

Keris tersebut disebut dibuat oleh Mpu Japan pada era Pakubuwono IV.

Tidak hanya melihat koleksi pusaka, masyarakat juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan pusaka, melalui kegiatan besalen atau live menempa pusaka di pelataran Museum Kartini. 

Pengunjung bahkan diberi kesempatan untuk mencoba langsung proses menempa.

Pada Sabtu (22/8) pagi, rangkaian dilanjutkan dengan jamasan pusaka yang terbuka untuk masyarakat umum. 

Prosesi tersebut dihadiri sejumlah tokoh serta mahasiswa dari luar negeri yang turut menyaksikan tradisi perawatan pusaka.

Puncak rangkaian berlangsung pada Sabtu (22/8) malam melalui Kirab Pusaka. 

Sebanyak 26 pusaka berupa tombak dikirab dari kawasan Astana Sultan Hadlirin Mantingan menuju Pendopo Kabupaten Jepara dengan jarak sekitar empat kilometer.

Sebanyak 24 pusaka merupakan pemberian dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sedangkan dua pusaka lainnya berasal dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Kacirebonan.

Kirab dipimpin oleh Manggala Kirab, KP Bambang Setiawan Adiningrat. 

Para peserta berjalan kaki dalam suasana tapa bisu, tanpa banyak suara, sembari membawa pusaka dengan penuh penghormatan.

Prosesi tersebut sekaligus dimaknai sebagai napak tilas perjuangan para sesepuh Jepara, termasuk Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin.

Sesampainya di Pendopo Kabupaten Jepara, dilakukan Pisowanan Agung, prosesi dilanjutkan dengan Grebeg Gunungan. 

URI-URI: Selain kirab pusaka tombak, sebelumnya juga dilakukan jamasan pusaka di Pendopo Kabupaten Jepara.
URI-URI: Selain kirab pusaka tombak, sebelumnya juga dilakukan jamasan pusaka di Pendopo Kabupaten Jepara.

Kanjeng Pangeran Siswanto dari Kasunanan Surakarta turut membuka atau memulai prosesi Grebeg Gunungan.

Dua gunungan, yakni gunungan lanang dan gunungan wadon, kemudian diperebutkan masyarakat di depan pendopo. Gunungan lanang berisi hasil bumi, sedangkan gunungan wadon berisi jajanan pasar.

“Inti dari kirab pusaka ini ialah pisowanan agung dan napak tilas perjuangan para leluhur. Kami ingin mengingat kembali sejarah dan peradaban Jepara sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan,” imbuhnya.

Kirab tersebut diikuti berbagai kelompok dan komunitas pelestari adat tradisi dari sejumlah daerah. 

Di antaranya Prajurit Wiraraja Kasultanan Kacirebonan, Prajurit Kraton Surakarta Hadiningrat, Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo, Pakasa Bekasi, Pakasa Jogja. Kemudian Pakasa Semarang, Pakasa Banjarnegara, Pakasa Klaten, Pakasa Boyolali, Pakasa Nganjuk, Pakasa Sukoharjo, Pakasa Ngawi, Pakasa Kudus, serta Pakasa Pati.

MEMBUMI: Gunungan wadon dan lanang didoakan sebelum diperebutkan oleh warga dan pengunjung, ini menjadi salah satu puncak acara setelah kirab pusaka sejauh 4 kilometer.
MEMBUMI: Gunungan wadon dan lanang didoakan sebelum diperebutkan oleh warga dan pengunjung, ini menjadi salah satu puncak acara setelah kirab pusaka sejauh 4 kilometer.

Selain itu, turut bergabung sejumlah komunitas dan kelompok masyarakat, seperti Cakrabumi Jepara, Marga Langit Bangsri, Mastika Jepara, umat Buddha Blingoh Kelet, SMKN 1 Pakis Aji, Tali Jagad Demak, Permadani Jepara, Pemuda Welahan, dan Prajurit Kadilangu Demak.

Menurut KRT Khoirul Anam, keterlibatan berbagai komunitas dari luar daerah menunjukkan adanya semangat sengkuyung. Untuk mendukung Jepara sebagai salah satu wilayah yang memiliki jejak peradaban panjang.

Semangat tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan sejarah lokal, agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

“Yang menarik, mereka datang dan ikut mendukung Jepara. Jepara ini punya peradaban tua dan sejarah panjang. Ini menjadi bentuk untuk menghidupkan kembali kebudayaan,” jelasnya.

Selain prosesi ritual dan kirab, puncak kegiatan juga dimeriahkan pagelaran seni budaya. 

Sejumlah kelompok seni turut tampil, di antaranya Sanggar Tari Krida Kumala Pekalongan, Sanggar Tari Krida Budaya Sukodono, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, kesenian tari Ganongan Ponorogo, serta Wahyu Kawedhar dari Tuban.

Sementara itu, RT Ferry Setyopuro berharap Grebeg Mulud Njeporonan dapat terus berkembang menjadi pagelaran budaya yang merepresentasikan jati diri Jepara.

ANTUSIAS: Prosesi Kenduri Ruwat Bumi pada Kamis (20/8) di Pendopo Kabupaten Jepara.
ANTUSIAS: Prosesi Kenduri Ruwat Bumi pada Kamis (20/8) di Pendopo Kabupaten Jepara.

Menurutnya, kegiatan budaya tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga dapat berkembang menjadi event yang memperkuat identitas daerah.

Dapat memperkenalkan sejarah Jepara kepada generasi muda, serta menarik perhatian masyarakat dari luar daerah.

Tradisi tersebut sekaligus menegaskan bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu.

Namun, dapat terus dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat dan generasi penerus.

“Harapannya, acara ini menjadi pagelaran yang benar-benar mencerminkan jati diri daerah. Kegiatan budaya menjadi event yang mampu menghidupkan kembali identitas, sejarah, tradisi, sekaligus menggerakkan masyarakat,” pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
Grebeg Mulud Njeporonan Napak Tilas Leluhur Live Tempa Pusaka Kirab Sad Wisati Nagari 2026 peringatan maulid nabi