JEPARA — Cerita rakyat tidak hanya diwariskan lewat tutur. Di tangan anak-anak, cerita dapat hadir kembali dalam bentuk gambar.
Semangat itu terlihat dalam Pelatihan Ilustrasi Dongeng dan Cerita Rakyat yang digelar Rumah Belajar Ilalang di Gedung Kesenian Jepara, Minggu (16/8). Sebanyak 35 siswa dari sejumlah sekolah dan pegiat literasi mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta berasal dari MA NU Tengguli, MA Masalikil Huda Tahunan, MTs Negeri 1 Jepara, serta komunitas literasi. Mereka belajar menerjemahkan cerita lisan dan cerita rakyat ke dalam karya ilustrasi.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Penguatan Karakter Anak melalui literasi berbasis buku, dongeng, dan kearifan lokal.
Program ini mendapat dukungan Hibah untuk Komunitas Literasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara Fivin Bagus Saputra dan Dosen Desain Produk Drajad, membimbing peserta dalam proses tersebut.
Peserta tidak langsung menggambar. Mereka terlebih dahulu membaca dan memahami cerita, mengenali tokoh, menentukan adegan, membangun suasana, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa visual.
Fivin menjelaskan, ilustrasi tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap cerita.
Sebelum menggambar, peserta perlu mengetahui pesan yang ingin disampaikan melalui karya.
Sementara Drajad mendorong peserta mengeksplorasi gagasan dan menemukan cara sendiri dalam menerjemahkan cerita menjadi gambar.
Proses itu membuat kegiatan ilustrasi sekaligus menjadi latihan literasi.
Peserta tidak hanya membaca atau mendengar cerita, tetapi juga mengolahnya menjadi karya baru.
Ketua Rumah Belajar Ilalang, Muhammad Hasan menyampaikan kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan literasi dan kreativitas anak.
“Kami ingin anak-anak mengalami cerita dalam berbagai bentuk. Mereka membaca, mendengar cerita, kemudian membayangkan dan menuangkannya menjadi gambar. Dengan cara seperti ini, literasi menjadi pengalaman yang lebih dekat dengan dunia anak,” katanya pada Senin (17/8).
Menurutnya, anak juga perlu diberi ruang untuk menjadi pencipta karya.
“Karya anak bukan sekadar hasil pelatihan. Karya itu menjadi bukti bahwa anak-anak mampu mengolah cerita menjadi sesuatu yang baru. Ini bagian dari upaya menjadikan mereka sebagai pencipta, bukan hanya konsumen karya,” ucapnya.
Antusiasme peserta terlihat saat mulai menuangkan cerita ke dalam gambar. Ada yang menonjolkan tokoh, sementara lainnya memilih menggambarkan adegan atau suasana yang dianggap menarik.
Cerita rakyat bisa dibuat menjadi gambar dengan banyak cara.
Pelatihan tersebut membuka alternatif kegiatan untuk menjangkau anak dan remaja. Ilustrasi dapat menjadi media untuk menggabungkan kemampuan membaca, imajinasi, seni, dan pengenalan budaya lokal.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian program Rumah Belajar Ilalang. Sebelumnya, komunitas tersebut menggelar Lokakarya Penguatan Kapasitas dan Pengembangan Komunitas Literasi serta Pelatihan Dramatic Reading atau metode membaca ekspresif.
Rangkaian program akan berlanjut hingga ‘Festival Membaca’ sebagai ruang apresiasi terhadap proses dan karya peserta.
Melalui rangkaian tersebut, Rumah Belajar Ilalang ingin memperluas pengalaman literasi anak. Cerita tidak berhenti pada bacaan, tetapi dapat didengar, diperankan, ditulis, hingga divisualisasikan.
Cerita rakyat pun mendapat ruang untuk hidup kembali melalui imajinasi generasi muda. Sekaligus menjadi pintu untuk mengenal kearifan lokal dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak.
Salah satu peserta, Naila, mengaku mendapat pengalaman baru dari proses tersebut.
“Biasanya saya kalau menggambar langsung saja. Di sini ternyata harus memahami ceritanya dulu, baru menentukan apa yang mau digambar. Jadi lebih mudah membayangkan tokoh dan suasananya,” timpalnya.(fik)
Editor : Admin